Lima Wasiat Nabi Adam pada Nabi Syits tentang Penyesalannya Terusir dari Surga

Alfatih-media.com-Nabi Adam As. adalah nabi yang pertama kali diciptakan oleh Allah Swt. Nabi Adam as. adalah bapak dari seluruh manusia. Allah Swt. berfirman tentang penciptaan Nabi Adam as. dalam QS. Al-Baqoroh (2) : 30,

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ

بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dalam Tafsir Jalalain Juz 1/hal.6, yang dimaksud kholifah dalam ayat tersebut adalah Nabi Adam As. Adapun makhluk yang berbuat kerusakan di muka bumi sebelum Nabi Adam as., adalah jin. Mereka diusir oleh para malaikat ke pulau-pulau dan pegunangan.

Nabi Adam as. berwasiat kepada salah satu putranya, yaitu Nabi Syits tentang lima hal (Lihat Kitab Mukasyafatul Qulub, Hal. 87). Beliau menyuruh agar wasiat ini juga disampaikan pada cucu-cucunya kelak. Adapaun kelima wasiat tersebut adalah sebagai berikut,

Pertama, jangan merasa nyaman hidup di dunia. Karena dulu aku bersenang-senang di surga, tapi akhirnya aku dikeluarkan darinya. Dalam artian, hidup di dunia jangan sampai terlena. Tapi juga jangan sampai merana. Dunia hanyalah senda gurau belaka. Dunia penuh tipu muslihat. Ia hanya panggung sandiwara. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hadid (57) : 20,

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ  كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ

نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ  ۗوَمَا الْحَيٰوةُ

الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

Jadi, pergunakan sebaik mungkin umur yang dimiliki. Jangan selalu merasa tenang atas dosa yang dilalukan, sekecil apapun.

Kedua, jangan selalu ikuti kemauan istri kalian. Karena sebab mengikuti kemauan istriku dan memakan “buah khuld”, aku dihinggapi penyesalan. Artinya, tidak semua permintaan istri kita harus dipenuhi. Adakalanya kita harus menolak permintaan mereka. Lebih-lebih dalam urusan duniawi. Karena terkadang seorang perempuan selalu ingin tampil “cantik dan mewah”. Bahkan sampai memaksa suaminya untuk berbuat di luar “batas”. Banyak laki-laki berbuat jahat (korupsi) gara-gara gaya hidup istrinya yang glamour.

Ketiga, sebelum bertindak, maka pikirkanlah dengan matang-matang akibat yang ditimbulkan. Andaikata aku berpikir akibat kelakuanku, maka pastinya aku tidak akan ditimpa musibah ini (dikeluarkan dari surga). Artinya, sebelum melakukan sesuatu, kita harus memikirkan akibatnya terlebih dahulu. Jika itu baik, maka lanjutkan. Jika tidak, maka urungkan. Karena penyesalan pasti datang di kemudian hari. Baik dalam urusan yang sepele, apalagi yang gede.

Keempat, ketika hati kalian amat cinta pada sesuatu (yang negatif), maka jauhilah. Karena ketika aku makan “buah khuldi”, hatiku memaksa untuk memakannya. Aku tidak mengabaikannya sehingga menyesal setelahnya. Artinya, jangan ikuti kata hati yang hanya menjerumuskan pada hal yang tidak diridloi oleh Allah Swt., atau yang disenangi oleh Rasulullah Saw., atau yang tidak direstui oleh Para Ulama.

Kelima, bermusyawarahlah dalam menentukan suatu perkara. Karena aku dulu tidak bermusyawarah terlebih dahulu dengan para malaikat sehingga aku ditimpa penyesalan. Artinya, mintalah pendapat orang lain terlebih dahulu sebelum memutuskan suatu perkara. Mintalah masukan atau saran dari keluarga, sahabat, guru, atau tokoh masyarakat. Baik dalam urusan yang nyata-nyata baik, apalagi yang masih samar. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali Imron (3) :159,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ

وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.

Dalam ayat tersebut, nabi kita saja, Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk bermusyawarah, apalagi kita umatnya yang memiliki serba kekurangan. Lebih patut lagi untuk bermusyawarah.

Oleh karena itu, resapi dan renungi wasiat Nabi Adam as. di atas. Lalu kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Allah Ta’ala A’lam. (sumber:BincangSyariah.Com)

 

Latest Articles

Comments