Ada banyak keprihatinan yang kerap didapatkan. Seperti banyaknya pengemis di lampu merah, angka kriminalitas tinggi, problem kesehatan masyarakat mulai dari pembiayaan hingga peralatan serta pelayanan, lapangan pekerjaan yang rendah, kualitas pendidikan yang terkesan menurun, banjir kota dan bonus demografi, di mana kalangan muda produktif, yang sebenarnya tak memiliki pondasi Pendidikan serta fisik yang baik.
“Alasan kuat saya maju jadi Wali Kota Medan karena bonus demografi, saat ini generasi produktif terus meningkat. Bahkan, puncak tertinggi pada 5 tahun akan datang. Tapi, saya melihat ada pesien saya usia 6 tahun tidak bisa bicara karena mengalami gangguan saraf. Begitu juga ada anak usia 14 tahun harus operasi saraf kejepit. Ditambah, angka kriminalitas di sekitar kita. Saya melihat belum ada solusi sampai saat ini,” ungkap Alumni Himpunan Mahasiswa Ilsma (HMI) ini.
Dia juga bercerita, sewaktu di jalan malam ada gerombolan anak remaja naik sepeda motor, sambil berkeliling dan berujung perkelahian seperti di Jalan Ringroad yang mungkin sebagian kalangan mengetahui informasi ini.
“Inikan sebenarnya masalah ya, sudah bertahun-tahun. Memang penangkapan pelaku kriminalitas adalah memberikan efek jera, tapi apakah bisa memutus mata rantai orang untuk tidak berbuat lagi?,” ucapnya.
“Banyak perlintasan di kepala saya yang sering hadir, mengapa jadi begini Kota Medan?,” tambahnya.
Alasan membereskan masalah di Kota Medan inilah menjadi sumber kekuatan niat Prof Ridha Dharmajaya untuk maju menjadi Calon Wali Kota Medan berpasangan dengan wakilnya, Abdul Rani Ketua DPC PPP Kota Medan, yang memiliki pengalaman tiga periode di DPRD Medan.
Lewat dua duet Prof Ridha yang merupakan akademisi, dan aktivis organisatoris, dengan Abdul Rani yang memiliki pengalaman di DPRD Medan.
“Dengan keberanian niat kami, akan menghadirkan wajah Kota Medan yang baru, dan layak sebagai Kota Masa depan generasi muda produktif,” kata Prof Ridha.
Dia mengungkapkan, program unggulan yang dimilikinya adalah Pendidikan karakter dari mulai Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) serta kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).