Awalnya Nurhevy hanya merasa kehadiran laki-laki misterius dalam mimpinya ini hanya sebagai dampak penasarannya karena belum membaca karya Dante Allagheri yang pergi ke surga dan neraka. Yang kedua belum juga sempat membaca Don Quixote de La Mancha karya Cervantes. Yang ketiga, belum pula mendapat jodoh laki-laki berduit, soleh, bukan seniman seperti dirinya. Yang keempat ketidakpuasannya kepada pemerintah yang sedang berkuasa. Terhadap hal yang terakhir, Nurhevy sudah bersumpah memilih miskin dan teraniaya, ketimbang menjadi penguasa kaya raya yang menindas dan menganiaya.
Nurhevy menyeret-nyeret nama Frued bapak psikologi menganalisa mimpinya yang berbuah hingga di rasa penasaran.
Selesai makan, Musa minta diri. Pertama ia mengatakan alasan karena ia dan Maryam bukan muhrim. Kedua mengatakan kepada Maryam, bahwa si pemberi makanan adalah Imam Mahdi. Imam yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh umat Muhammad. Imam yang akan menyelamatkan umat yang kini teraniaya.
Nurhevy terperanjat penuh haru dan merasa kagum tak kepalang mendengar apa yang dikatakan Musa. “Subhanallah,...allahuakbar.” Serunya berulang-ulang. Ingin ia berlari-lari ke lapangan sambil berteriak-teriak mengungkap rasa takjubnya seperti Newton menemukan gaya gravitasi.
“Imam Mahdi, Imam Mahdi. Aku telah bertemu!” teriak Nurhevy. Musa khawatir Nurhevy riya dan mengingatkan, “Tak usah girang-girang amatlah,” komentar Musa yang berbadan kekar melebihi Ade Rai. “Anakmu menunggu di rumah. Badai sudah reda. Pulanglah!” tambah Musa sebelum menghilang dibawa gemuruh gelegar seperti kehadirannya tadi.
Dengan gerakan, Imam Mahdi kemudian menyuruh Nurhevy memicing mata sekedip untuk kembali ke tempat asal ia dibawa, di bawah pohon jati yang sudah tumbang oleh badai.
Badai yang berlangsung tak lebih sepuluh menit telah memporakporandakan desa itu. Korban luka parah dan ringan diperkirakan ratusan orang. Suara sirene ambulance dan mobil kebakaran bersilewaran. Para penolong menemukan Nurhevy tergeletak dekat pohon jati yang tumbang. Awalnya tak seorang mengenalinya karena wajahnya putih bersinar. Ketika para penolong, termasuk Hussin membantunya berdiri, Nurhevy samar-samar berujar, ia baru saja makan dengan nabi kaum Ibrani di langit. (*)
*Nevatuhella, lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Azahar Revista Poetica, Waspada, Jawa Pos, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Koran Sindo, Majalah Sagang, Basabasi.co, Cendananews.co, dan lainnya. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016) dan Bersampan ke Hulu (2018), buku puisi Bila Khamsin Berhembus (2019), serta biografi penyair Damiri Mahmud Teriakan dalam Senyap (2021).