Begitu sadar Nurhevy berada di sebuah suasana asing. Dari semula rebahan, sambil menggosok-gosok matanya yang kabur pandangannya, dengan susah payah berusaha berdiri. Beberapa saat ia menyadari, tempat ia berada adalah lokasi Bukit Tursina dalam film Ten Commandement yang ditontonnya hampir dua puluh tahun yang lalu. Ketika Hussin masih lima tahun, dan sudah yatim.
“Ya, disitu Moses berdiri!” Nurevy menunjuk kaki bukit batu. Ia ingat betul, Musa, yang dalam film itu dinamai Moses berdiri tanpa sandal dan memegang sebuah tongkat. Sesaat kemudian Nurhevy melepas pandang kesemua arah. Tak ada manusia atau binatang. Hanya kabut asap tipis mengelilingi. Suasana mencekam, sepertinya hantu-hantu akan berdatangan.
Sontak datang gemuruh menggelegar yang memekakkan telinga. Dari kejauhan sesosok manusia terlihat muncul. “Manusia. Pasti. Laki-laki dengan busana seadanya,” yakin hati Nurhevy.
“Maryamkah?” tanya lelaki yang baru muncul berkendaraan gemuruh tersebut dalam hatinya pula. “Mengapa ia datang kesini, bukankah Tuhan Yang Maha Esa telah memasukkannya ke dalam surga yang penuh kedamaian!”
Nurevy, yang disangkakan lelaki itu sebagai Maryam terus mendekat melangkah pelan mendekati seperti prosesi pemakaman para pahlawan. Menekan ketakutan. Melawannya dengan sepenuh keberaniaan. Ia teringat ketika melawan dokter yang memaksanya menjadi pasien korona.
“Baiklah, aku akan melemparkan tongkatku ke arahnya. Kalau ia jelmaan setan, tongkatku akan berubah menjadi ular. Dan kalau ia betul Maryam, ibunya Isa, tongkatku akan berubah menjadi emas lantakan 1000 karat!” tekad lelaki yang merasa perlu kepastiaan siapa perempuan ini.
Sesudah dilemparkan, tongkat lelaki itu, yang rupanya tak lain nabi Musa, berubah menjadi emas. Berbeda dengan ketika tongkat itu dilemparkan mendekati ular-ular para penyihir Firaun, tongkat berubah menjadi ular raksasa. Menelan ular-ular para penyihir.
Musa meraih tongkatnya kembali dan memutarnya ke semua penjuru mata angin, seketika seluruh kawasan menjadi taman yang megah dan indah melebihi Taman Rusafa yang pernah dibuat Dinasti Ummayah di Damaskus. Pohon-pohon berbunga emas, perak dan logam mulia lainnya. Buah-buahan bergantungan warna-warni penuh keranuman. Bulan dan bintang-bintang berada begitu dekatnya.
Nurhevy mendekat dan mencoba mengenali Musa. Tiba-tiba seorang laki-laki lain muncul menyerahkan nampan ke tangannya. Nurhevy memandang ke arah laki-laki. Ia mengenalinya. Bukankah ini lelaki yang beberapa hari mengganggu pikirannya. Apa yang selama ini menjadi misteri bagi Nurhevy sudah tertebak pula. Rupanya nampan yang berada di telapak tangan laki-laki ini berisi makanan yang lezat dan buahan segar warna-warni berkilauan.
Tanpa basa-basi Musa dan Maryam makan bersama dengan ucapan basmallah memulainya. Maryam, yang tak lain Nurhevy mengucap basmallah dengan bahasa Arab, Musa dengan bahasa Ibrani.
Tentang laki-laki pemberi makanan, sudah beberapa kali mengganggu tidur Nurhevy. Setiap malam Nurhevy didatanginya dalam mimpi. Mulanya laki-laki ini berukuran besar tak terhinggakan. Tingginya kira-kira sejarak antara kota paling barat di pulau Nias, dengan kota tertimur di Papua. Hampir 6000 km. Begitulah Hevy mendefinisikan. Kapan maunya, laki-laki ini bisa menjelmakan dirinya menjadi seukuran manusia biasa. Selalu kehadirannya dengan telapak tangan terbuka berisi nampan, layaknya seorang penari piring.