Dalam dialog itu juga, Haris menyinggung Prof Ridha yang bukan berlatarbelakang politisi dan tak memiliki partai politik, sehingga dikhawatirkan akan ada kepentingan yang dititipkan ketika dirinya memenangkan kontestasi dan menjabat walikota.
"Tak memiliki partai politik sebagai perahu. Bagaimana menyikapi jika ada kepentingan yang nanti dititipkan kepada Prof dan tentu ini tidak sesuai visi dan misi prof?" tanya Haris.
Prof Ridha pun menjawab lugas dan tegas akan posisi tawarnya sebelum maju ke arena menunggangi perahu partai politik.
"Sejak awal kita berbicara dengan partai politiknya, apa idealisme kita? Ketika tidak berterima tentu partai politik akan mundur. Tapi kepentingan pasti ada. Pilkada memilih pemimpin bukan memilih partai. Sesuatu bersilang pendapat kita bisa berbicara kepada partai," terangnya.
Sebelum mengakhiri, Haris menyentil culture koruptif para pemimpin kota Medan yang berhasil hatrick ke penjara karena korupsi.
"Saya tidak ingin berbicara ke depan tapi lihat apa yang telah saya lakukan. Boleh dilihat track recordnya semua lingkar pekerjaan dan kegiatan yang telah saya lakukan bersih dari korupsi. Culture Koruptif semua tergantung siapa pemimpinnya. Saya sudah komitmen dan itu ditandai dengan menghindari cukong. Ketika berbicara tentang money politic tentu saja pilkada butuh dana ratusan miliar. Tapi itu tidak berlaku dalam pilkada bersih. Bagaimana berhadapan dengan orang-orang penganut money politik dan pragmatis ini akan menjadi tugas berat yang kita hadapi sehingga ini alasan kita tidak ingin memakai cukong," sebut Prof Ridha mengakhiri.