"Kita lihat gaji bedah saraf dan guru besar itu gajinya itu jauh lebih besar daripada walikota. Terus kenapa mau jadi walikota? Sisa masa bakti yang masih panjang dan harus mundur jika nantinya maju walikota, ini tentu pengorbanan yang cukup besar," ujar Haris.
Menjawab hal itu, Prof Ridha dengan keyakinan mengaku ingin membuat satu kebaikan bagi kota Medan.
"Terlalu besar untuk berfikir tentang Indonesia, tapi kita ingin membuat satu kebaikan bagi Medan. Moga ini nantinya jadi prototipe untuk Indonesia. Kita melihat UU Omnibuslaw kesehatan. Saya tahu persis karena saya bidang kesehatan. Jika kita berdiam diri maka kita akan jadi penumpang di negeri sendiri. Dimulai dari kota kita dulu. Bagaimana kita nanti akhirnya bisa berbuat untuk menyelamatkan anak bangsa," tutur Prof Ridha.
Menyinggung konflik masalah Medan, dirinya tak ingin dipandang dari keahliannya sebagai seorang bedah saraf saja. Tapi bagaimana melihat masalah. Kapan dia harus bertindak dan menentukan putusan.
"Misalnya ketika kita berbicara keamanan. Kita gak bisa berbicara tentang cctv dan memperbanyak petugas kemanan, itu solusi primitif menurut saya. Kita harus cari akar masalahnya. Narkoba, pinjol dan lainnya. Sehingga banyak pemuda tak produktif dan tak mendapatkan lapangan kerja. Kita harus membedah dari semua sisi," ujar Prof Ridha.
"Melihat lapangan kerja, kita lihat saat ini masyarakat tinggal di tengah-tengah industri, tapi banyak anak muda yang tidak bekerja. Mereka yang memiliki produktivitas tapi tidak mendapatkan kesempatan sehingga akan menimbulkan problematika lainnya. Menyikapi hal itu, pemerintah daerah bisa mengeluarkan kebijakan khusus dalam mengurai masalah tersebut," ujarnya melanjutkan.