Mereka tercenung. Saat itu perlahan-lahan mereka mendengar koak-koak gagak. Mereka memandang ke langit, dan tidak melihat apa-apa. Namun ketika itulah Nizar merasakan terbakar di dada kirinya. Ia tertembak. Seketika seluruh orang panik. Berhamburan kesana-kemari.
Qabbani berusaha melindungi Nayla, seraya menangis lirih menatap sahabatnya yang tewas di depan matanya. Qabbani tak lagi merasakan darah yang mengaliri punggungnya. Peluru-peluru yang dilepaskan kaum keji telah bersarang di tubuhnya.
Mereka tak bisa melawan. Serangan itu begitu mendadak itu. Tak ada yang bakal menyadari bahwa mereka akan diserang pagi itu. Tak satu pun dari mereka selamat. Tubuh Nayla terkapar mengenaskan, dengan darah yang bersimbah. Tak jauh beda dengan yang lainnya.
Matahari mulai naik, menyinari tubuh mayat-mayat itu. Darah-darah yang tumpah memerah. Sementara orang-orang keji yang menembaki mereka bergegas pergi, dengan penuh tawa durjana.
Namun...lihatlah!
Lihatlah tubuh mereka. Bukan, itu bukan cahaya dari matahari. Lihatlah, perlahan-lahan, tubuh-tubuh mereka menjadi bersinar. Tubuh mereka jadi cahaya. Tubuh mereka bercahaya. Cahaya begitu indah. Cahaya dari surga menyambut mereka...
Medan, 2018-2019
*Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 1997. Menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia, Azahar Revista Poetica dan terangkum dalam beberapa buku antologi, termutakhir Cinta Pertama (Cerpen Pemenang Firma Harris & YBWS, 2020).