Ia terkesiap. “Azan? Siapakah itu yang azan?”
Sudah sepuluh hari ia tak sekalipun mendengar azan. Nayla segera beranjak bangkit dari tidurnya. Batu yang menjadi bantalnya setiap malam lembab oleh tubuhnya. Beberapa rumput kering dan pasir berlengketan di bajunya yang lusuh. Ia melihat para manusia yang mendiami tenda-tenda itu bergerak bangkit.
Walau keadaan masih gelap, dari kejauhan ia dapat melihat bahwa Qabbani-lah yang menyerukan azan di atas sebuah batu pipih yang cukup tinggi. “Asyhaduallaillahaillalaaahh…” sambungnya dengan khusyu, sekaligus menyayat.
Nayla bergegas menyapukan debu ke tubuhnya. Ia bersuci dengan debu itu.
“Sesudah salat subuh ini, kita semua akan pergi! Sebab menurut informasi yang kami dapatkan, tempat ini juga akan dibumihanguskan siang nanti. Kelompok laknat itu telah menguasai kota kita. Mereka telah berpesta arak disana, dan bakal berpesta darah disini, bila kita tak segera pergi. Naudzubillah, tsumma naudzubillah.”
Itu suara Nizar. Ia tersedan. Menahan rasa perih yang melekat dalam di jiwanya.
Nayla mendengar suara Nizar dengan jelas. Ia amat menyayangi pemuda itu, dan Qabbani tentu saja. Kedua pemuda itu adalah penyelamat nyawanya. Mereka berdua juga sangat menyayangi Nayla.
***
“Aku tidak punya siapapun. Kemana aku akan pergi?”
Mata kedua manusia itu terlihat hampir putus asa, tak jauh beda dengan mata gadis kecil yang bertanya didepan mereka. Semua arah sama saja. Tak terlihat sinar harapan disana.