Nah, inilah sumpah walikota Tanjungbalai yang signifikan dengan sumpah-sumpah di atas yang diucapkan seorang bapak yang giginya tinggal beberapa biji menggantung.
“Haa-haaa...”
“Brilliant! Exellent! Very very good!”
Semua menyalami pencetus kalimat yang ditunggu beberapa menit. Magma adrenalin orang-orang ini turun menjadi endapan vitamin suplemen emosi mereka untuk bekal tidur nyenyak malam nanti. Dengan cara ini, tiap hari kupikir mereka selalu bergembira menyelamatkan apa yang masih bisa diupayakan sebagai gizi jiwa mereka yang kering kerontang.
Bacaan Al-Quran dari mushalla pertanda sebentar lagi waktu Maghrib terdengar mengudara. Aku permisi pulang menyalami orang-orang yang kuanggap pintar dan cerdas dalam menangani masalah kehidupan yang makin gamang dihadapi. Dalam hati muncul juga gurauanku, atau juga mungkin keseriusanku menyatakan, “Tak percuma kota ini berwalikotakan seorang ustadz yang doktorandus, ah bukan doktorandus, tapi doktor! Doktor bosar. S Tiga. Berkaromah! Karomah seorang ustadz!”
*Nevatuhella. Lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016) dan Bersampan ke Hulu (2018) serta satu buku puisi Bila Khamsin Berhembus (2019). Tahun ini akan menerbitkan buku biografi penyair Damiri Mahmud Teriakan dalam Senyap.