Syaikh Abu Bakar bin Hajjaj, Ulama yang Selalu Menepati Janji

July 21, 2020 - 16:15
Foto : Ilustrasi/int
2 dari 3 halaman

Dari kisah di atas, selain kita mengetahui karamah (keramat) syaikh Abu Bakar bin Hajjaj (karena datang di saat yang tepat padahal terpaut jarak yang jauh), kita juga menjadi lebih paham bagaimana para ulama menepati janjinya: meski harus naik gunung, ia tetap datang.

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu…” (QS. Al-Maidah [5]: 1).

Dalam pandangan al-Sya’rawi, ayat ini menunjukkan bahwa iman bukanlah hal yang “pernah” dirasakan dan dimiliki oleh seseorang. Iman adalah hal yang hendaknya selalu diperbarui dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai keimanan.  Ayat ini, masih dalam pandangan al-Sya’rawi, juga mengajak semua manusia untuk beriman kepada Allah Swt. Baru setelah itu, mereka diperintahkan untuk memenuhi janji yang telah mereka buat.

Uraian di atas menunjukkan bahwa janji memiliki hubungan erat dengan iman. Semakin seseorang memperhatikan janjinya berarti ia memiliki iman yang kokoh. Pun sebaliknya, jika ada orang yang suka melanggar janji, berarti tingkat keimanannya masih rendah atau bahkan tidak memiliki iman sama sekali. Na’udzubillah.

Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Empat (prilaku) kalau seseorang ada padanya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat, jika bertikai, melampau batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai  dia meninggalkannya.” (HR. Bukhari)