Dosen Antropologi Ungkap Kekuatan Partikel Tersembunyi yang Membentuk Dinamika Politik Lokal Indonesia
Dalam konstelasi politik Indonesia yang dinamis, perubahan tak hanya terjadi di permukaan. Sebuah diskusi yang digelar di Medan, Jumat (22/8), mencoba menelisik lebih dalam "partikel-partikel" tersembunyi yang menjadi penyusun utama dan penggerak rekonfigurasi politik di tingkat lokal.
Forum Diskusi & Kajian Antropologi bersama Yayasan Lentera Cipta Dinamis (YLCD) menghadirkan Ibnu Avenna Matondang, atau yang akrab disapa Abu, untuk membedah tajuk “Rekonfigurasi Politik Lokal: Sebuah Pandangan Antropologi”. Acara yang berlangsung hangat di San Coffee, Jl Perjuangan, Medan, ini dihadiri secara antusias oleh dosen dan mahasiswa Antropologi dari sejumlah perguruan tinggi.
Dalam paparannya, Ibnu Avenna Matondang—seorang dosen Antropologi FISIP USU, seniman, dan aktivis budaya—mengibaratkan rekonfigurasi politik sebagai sebuah mozaik yang terus bergerak. Menurutnya, mozaik ini tersusun dari beragam "partikel" kekuatan seperti kebudayaan, identitas, ideologi, wilayah, agama, dan kebijakan.
"Partikel-partikel inilah yang saling tarik-menarik, berkoalisi, atau bahkan bertubrukan, membentuk dinamika baru yang tidak pernah statis dalam perjalanan bangsa.
Rekonfigurasi adalah keniscayaan," tegas Abu di hadapan peserta diskusi.
Ia menjelaskan prosesnya dimulai dari figura (partikel-partikel penyusun), lalu membentuk konfigurasi (susunan kekuatan tertentu), yang kemudian mengalami rekonfigurasi (perubahan susunan) seiring waktu. Faktor eksternal seperti perkembangan teknologi, ekonomi, dan sosial disebutnya sebagai katalisator yang mempercepat perubahan bentuk ini.
Membaca konteks Indonesia, Abu menjabarkan bahwa fase rekonfigurasi politik lokal dapat dengan jelas dilihat dalam perjalanan panjang pesta demokrasi, mulai dari Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi, hingga dinamika elektoral yang terjadi saat ini.