Lelaki itu pun menasihati agar Dzun Nun mencintai Allah dan tidak dengan yang lain. Ia lantas menjerit dan pingsan. Dzun Nun mencoba membangunkannya, namun ia telah benar-benar meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tak lama dari wafatnya lelaki itu, beberapa orang turun dari gunung dan memakamkannya. Dzun Nun mencoba mencari tahu identitas lelaki yang ia temui itu. Ia bertanya kepada mereka, “Siapa lelaki ini?”
Mereka menjawab, “Dia adalah Syaiban al-Mushab”
Kisah ini ditulis Ibnu Jauzi dalam kitab ‘Uyun al-Hikayat. Lewat kisah ini kita bisa belajar bahwa ketenangan dan kebahagiaan sejati adalah ketika kita dekat dengan Allah. Mereka yang dekat denganNya akan menjadi wali atau kekasihNya. Sebab, Allah SWT berfirman
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” (QS. Yunus [10]: 62)
(sumber:Islami.co)