“Lantas apa lagi?” tanya Dzun Nun ingin lelaki itu melanjutkan nasihatnya.
“Siapa yang Allah buat terhibur dengan kedekatan denganNya, maka ia akan mendapatkan empat hal. Pertama, kemuliaan tanpa teman. Kedua, ilmu tanpa mencari. Ketiga, merasa cukup meski tanpa harta. Dan keempat, tak pernah merasa kesepian meski tak sedang bersama orang banyak,” jawab lelaki itu menjelaskan.
Setelah berkata seperti itu, ia menjerit dan jatuh pingsan. Dzun Nun menduga ia telah meninggal dunia. Ia tunggui lelaki itu. Setelah tiga hari berlalu, ternyata ia siuman/sadar. Setelah sadar, ia menunju samping gua untuk mengambil air wudlu dari sebuah mata air.
“Berapa kali shalat fardlu yang aku meninggalkan? Satu, dua, atau tiga shalat?,” tanya lelaki itu kepada Dzun Nun.
“Engkau tidak shalat fardlu selama tiga hari tiga malam,” jawab Dzun Nun.
Lelaki mengatakan, teringat Sang Kekasih (Allah SWT) telah membangkitkan kerinduannya dan cinta kepadaNya telah membuatnya kehilangan akal/kesadaran. Ia juga mengatakan, bertemu makhluk membuatnya tidak nyaman. Sebaliknya, ia merasa nyaman ketika bertemu dengan Tuhan.
“Sekarang, silakan kamu pergi dari sini!” kata lelaki itu menyuruh Dzun Nun untuk segera menyingkir darinya.
Dzun Nun merasa keberatan. Ia berkata, “Aku telah di sini selama tiga hari menunggumu agar aku mendapat nasihat yang lebih banyak lagi darimu.” Dzun Nun pun menangis.