Tak sampai seminggu peristiwa mimpi itu, Molena mendapat talak cerai dari suaminya.
“Mimpi kali ini, gerangan apa yang akan terjadi? “ kata Molena dalam hati.
Desember tahun lalu, ia berada di kota kembang Bandung. Tahun ini rencana keberangkatan sudah dipersiapkan. Ongkos sudah cukup. Molena dan Syarif hanya mengkhawatirkan, kalau-kalau mereka reaktif terhadap tes rapid Covid-19, yang berarti mereka harus diisolasi selama dua minggu. Tak mungkin lagi bisa meninggalkan kota. Hingga bulan Desember ini, sudah sepuluh bulan pandemi Covid-19 belum berakhir melanda seluruh dunia.
Tekadnya di bulan ini, Molena ingin mencukupi jumlah cerpen yang ditulisnya selama tahun 2020 menjadi sepuluh cerpen. Setiap ada kesempatan berdiam diri, terutama saat berbaring, ia menginginkan muncul inspirasi yang bisa dituangkan ke dalam tulisan, menjadi cerpen. Dan hari ini, Molena bangkit, menuju laptopnya, dan bergegas memulai ceritanya. Itulah cerpen yang tengah Anda baca sekarang....
Medan, 2-11 Desember 2020
*Nevatuhella. Lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016) dan Bersampan ke Hulu (2018) serta satu buku puisi Bila Khamsin Berhembus (2019). Tahun ini akan menerbitkan buku biografi penyair Damiri Mahmud Teriakan dalam Senyap.