Molena

January 6, 2021 - 15:29
Foto : Ilustrasi/int
2 dari 3 halaman

Pasrahnya. Ia memejam matanya yang sudah padat kantuk. Gerimis memberat alam, bulan sudah menghilang. Tak sekerjap suara yang bisa ditangkap. Bahkan hanya jangkrik sekalipun tak mengangkat lagu.

Apa yang terjadi berikutnya, “Mimpi!” ucap Molena begitu sadar. Ia mengusap wajahnya dengan kesyukuran tiada bertara merasa baru saja lepas dari maut. Dilihatnya langit-langit triplek putih kamar. Dilihatnya ke samping jendela yang masih utuh dengan kain jendela berbunga-bunga.

“Kamarku. Memang. Tadi aku mimpi. Alhamdulillah, ya Allah. Tadi itu hanya mimpi!”

Malam kejadian mimpi akan diterkam Tsunami, berada pada bulan suami keduanya meninggal dunia setahun yang lalu. Ia ingat pula bulan Desember, bulan yang sama dengan terjadinya gempa bumi dan tsunami di Aceh, Indonesia, yang merupakan banjir terbesar sesudah banjir masa Nuh Alaihissalam yang bisa dilacak para ilmuwan.

Molena sendiri pernah bermimpi, waktu itu ia tinggal di daerah tepi pantai. Sebuah sungai pasang surut berada dibelakang rumahnya. Ia bermimpi terjadi gempa dan tsunamai. Dilihatnya sungai yang ada, tiba-tiba mengalami pasang surut berkali-kali dalam urutan waktu yang sama.  Padahal pasang surut normal hanya terjadi dua kali dalam tempo 24 jam.

Dua hari berikutnya setelah mimpi tersebut, gempa dan tsunami memang benar terjadi. Tsunami kecil. Begitu orang tua di kampungnya mengatakan. Molena masih SMP waktu itu.

Gempa kuat pernah pula terjadi dalam mimpinya yang berdurasi cukup panjang.  Setelah gempa yang meruntuhkan gedung dan rumah-rumah sederhana pemukiman warga, Syarif tak ditemukannya di dalam rumah dan dihalaman. Molena meraungi nasib Syarif. Akankah anak semata wayangnya itu masih hidup?

Para korban gempa berjalan bak zombie dengan tubub penuh debu dan berdarah-darah. Sulit mengenalinya. Letih menangis dan bertanya pada tiap-tiap rombongan yang lewat, Molena sempat tertidur. Dalam tidur Molena bermimpi tsunami datang menghantam wilayah yang baru dilanda gempa. Beberapa saat ia sadar kembali, memperhatikan lagi rombongan korban gempa yang lewat. Ia akhirnya melihat sosok Syarif terselip diantar orang-orang yang berjalan.

“Allahuakbar...subhanallah. Anakkuuuu!” jerit Molena tanpa seorang yang mempedulikan. Ia memeluk anaknya yang kini sudah berusia 24 tahun. Waktu itu Syarif masih tujuh tahun.