Kepling mencak-mencak atas gugatan Hamdan dan Hayani yang menyebut pembetonan kiri kanan sungai merusak lingkungan. Sungai di manfafatkan.
Karena faktor usia dan gerogotan ususnya yang terus menerus mengonsumsi obat reumatik, Hamdan semakin lemah. Tiga orang anaknya telah menjadi sarjana. Fairy, si lemah jiwa tapi kuat tekad, salah satunya. Walaupun ia harus pernah menjadi pasien psikiater, karena selalu merasa cemas dan ketakutan. Hantu segala hantu mengambil tempat di ghost spot dalam otaknya.
Ketika Hamdan sedang menghadapi sakratul maut, pada sore usai melaksanakan salat Asar dengan isyarat-isyarat saja, semua anak, cucu, istri dan keluarga dekat mengelilinginya. Sedu sedan masih tertahan. Fairy dengan kekuatan ghaib berada di sisi kepala Hamdan. Tidak biasanya demikian. Mendengar berita kematian saja ia selalu hampir pingsan. Apalagi jeritan-jeritan, sekalipun itu suara di televisi.
Hamdan mengatakan, “Sebentar lagi malaikat akan datang menjeputnya. Tak usah semua bersedih.”
Mendengar ini isak dan sedu sedan yang ditahan tumpah keluar dengan lirih. Kesedihan yang sangat mendalam bagi semuanya. Ayah yang sangat dicintai oleh anak-anaknya. Atok yang disayangi semua cucunya. Keluarga yang sebenarnya dalam hati sangat mengagumi Hamdan dengan perjuangannya menegakkan kebenaran dengan landasan agama.
“Tak perlu kalian bersedih. Kematian ini sangat menyenangkan, asal kita berada di jalan yang lurus. Fairy, kuatkan jiwamu. Ingat, selalu berada di jalan yang lurus, nak.” Kemudian Hamdan menyebut satu persatu anaknya masing-masing dengan sebilah kata nasihat. Selly yang menjadi guru, jadilah guru yang berada di jalan yang lurus. Hayani yang apoteker, jangan pernah salah meresep obat. Selalulah berada di jalan yang lurus.
Sore itu dengan wajah muda belia dan suara tak patah kalam, Hamdan menghembuskan nafasnya terakhir. Seisi ruangan terasa menyebarkan harum. Malaikat membawa ruh suci Hamdan.