Somalia dan negara tetangga Ethiopia dan Kenya menghadapi musim hujan tanpa kehadiran tetes air hujan selama enam tahun berturut-turut. Harga-harga bahan pangan global yang melonjak dan pasokan palawija yang terganggu akibat perang di Ukraina menambah krisis kelaparan semakin parah.
PBB dan mitra-mitranya awal tahun ini mengatakan tidak lagi memperkirakan deklarasi bencana kelaparan resmi untuk Somalia untuk saat ini, tetapi menyebut situasinya “sangat kritis” dengan lebih dari 6 juta orang mengalami kelaparan di negara itu saja.
“Risiko famine masih ada,” kata koordinator PBB di Somalia Adam Abdelmoula kepada wartawan, hari Senin.
Famine adalah situasi kekurangan makanan ekstrem dan tingkat kematian yang signifikan akibat kelaparan atau malnutrisi diaertai dengan penyakit seperti kolera. Deklarasi bencana kelaparan resmi artinya data menunjukkan lebih dari seperlima rumah tangga di suatu negara mengalami kekurangan makanan ekstrem, lebih dari 30% anak mengalami malnutrisi akut dan lebih dari dua per 10.000 orang meninggal dunia disebabkan kondisi itu setiap hari.
Sejumlah pejabat kemanusiaan dan iklim tahun ini memperingatkan bahwa trennya akan memburuk dibandingkan bencana kelaparan tahun 2011 di Somalia di mana seperempat juta orang meninggal dunia.
“Tingkat kematian bertambah di saat menjelang akhir tahun,” kata Profesor Francesco Checchi dari London School of Hygiene and Tropical Medicine kepada jurnalis. Penduduk yang paling terdampak berada di wilayah Bay dan Bakool di bagian barat daya Somalia dan orang-orang tak punya rumah yang menyelamatkan diri dari ibu kota, Mogadishu.