Lalu Allah berfirman kepada Nabi Saw. ,
يا مُوسى أنا الشّافى وأنا المُعافى وأنا الضارّ وأنا النافع قصدتَنى فى المرّة الأولى فأزَلتُ مرَضك والآن قصدتَ
الحشيشة وما قصدتَنى
“Wahai Musa, Aku-lah Dzat yang menyembuhkan, yang memberi sehat, yang memberi bahaya dan yang memberi manfaat. Engkau bermaksud kepada-Ku pada saat sakit yang pertama, sehingga Aku menghilangkan rasa sakit itu. Sementara sekarang, engkau bermaksud kepada rumput itu (yang bisa menyembuhkan), bukan Aku.”
Kisah diatas juga dapat ditemukan dalam kitab tafsir al-Futūḥāt al-Ilāhiyyah karya Syekh Sulaiman bin ‘Umar al-‘Ajali as-Syāfi’i atau lebih dikenal dengan nama Sulaiman al-Jamal.
Pelajaran atau hikmah yang bisa diambil adalah, sudah sepantasnya bagi seorang hamba yang sedang diuji dengan suatu penyakit untuk selalu berdoa (meminta bantuan kepada Allah), yang kemudian diikuti dengan usaha (ikhtiar) untuk sembuh yaitu dengan cara mencari obat atau konsultasi kepada dokter. Bahkan, dua anjuran ini seyogyanya juga dilakukan ketika menghadapi segala urusan. Bukan hanya berdiam diri dengan berdalih sedang bertawakal kepada Allah tanpa berusaha, atau disisi lain merasa bahwa satu-satu yang menyebabkan kesembuhan adalah obat itu sendiri yang hakikatnya adalah bagian dari ciptaan Allah Swt. Wallahu A’lam. (sumber: BincangSyariah.com)