Menyusuri Sejarah Al-Quran Koleksi Toledo

Oleh: Nevatuhella

Islam yang kita anut sekarang sudah instan. Seorang Muslim tak perlu lagi melakukan berbagai penelitian dan pembelajaran mendalam atas kesempurnaannya sebagai agama Samawi terakhir sesudah Yahudi dan Kristen. Keshahihan Al-Quran berbahasa Arab diterapkan sebagai satu-satunya bahasa peribadatan (salat).

Berbeda dengan awal-awal Islam masuk ke wilayah non-Arab. Bagaimana seorang Yahudi atau pemeluk Kristen yang berbahasa Ibrani atau Kastilla, atau orang-orang yang berada di Roma (Eropa Latin) yang berbahasa Latin, memahami Al-Quran.

Untuk yang terakhir disebut, pada abad ke-12, tepatnya tahun 1142, Peter yang Mulia (Peter Venerable) (1092-1156), seorang kepala pendeta di wilayah Cluny, dengan keingintahuan yang luar biasa tentang isi Al-Quran mengembara untuk bisa melakukan penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Latin.

Cluny pada waktu itu merupakan sebuah pusat dunia Kristen Latin, dimana jumlah gereja dan biara––serta kemegahannya tak tertandingi––melebihi jumlah yang ada di kota-kota Kristen lainnya. Peter yang Mulia saat itu berhadapan dengan para pendeta Ortodoks yang mengharamkan filsafat dan rasio-ilmiah ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat kelak masa kependetaan Cluny sebagai masa gerakan pembaruan kependetaan. Dimulai dari keberhasilannya tidak lagi menjadikan para pendeta sebagai pekerja kasar, petani-petani yang diagung-agungkan misalnya.

Pada waktu itu banyak orang yang memiliki ambisi intelektual yang luar biasa untuk menemukan hal-hal berharga pada masa hidup mereka. Mereka bukan saja menjelajah dari satu kota ke kota lain, dengan kota tujuan utama Baghdad dan Toledo di Spanyol. Tapi yang terpenting menjelajah ke relung ilmu pengetahuan yang sedang mekar dan bersinar. Masa kejahiliahan Arab telah berganti masa kejayaan Islam. Semua mata mengarah ke sana, kekhalifahan Abbasyah di Baghdad dan kekhalifahan Ummayah di Andalusia. Para pencari masa itu disebut sebagai penjelajah.

Adalah bahasa Arab yang menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat. Peter sendiri cukup lama baru menemukan seorang yang bersedia mengerjakan penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Latin yang diinginkannya. Setelah melalui beberapa penolakan, akhirnya Peter menawarkan pembayaran cukup mahal pada Robert Ketton (1110-1160), sang “penjelajah” berkebangsaan Inggris yang bekerja di perpustakaan Toledo.

Robert Ketton dalam bahasa Latin disebut Robertus Castrensis. Selain penerjemah, dia juga seorang teolog, astronom dan ahli bahasa Arab. Ketton sebelumnya telah menerjemahkan kitab Algebra karangan Al-Khawarizmi dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Al-Khawarizmi adalah seorang dari sekian banyak ilmuwan Muslim yang bekerja di pusat studi lanjutan milik kekhalifahan di Baghdad. Ketton dan beberapa rekan seprofesi  juga telah berjasa memperkenalkan sistem angka Arab nol, titik dan koma.dalam perhitungan. Membuat angka Latin menjadi sempurna dan simpel.

Proyek penerjemahan yang dilakukan Peter tidak hanya meliputi Al-Quran, tetapi juga sekumpulan teks-teks berbeda. Mencakup pelbagai hadist dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw serta para sahabat dari generasi awal. Semuanya disusun oleh kepala pendeta itu sendiri dengan saran-saran dari para pendeta gereja-gereja cabang Cluny yang ada di Spanyol.

Awalnya prasangka banyak kalangan tujuan Peter menterjemahkan Al-Quran untuk mengetahui dan mengenali musuh. Padahal akhirnya, setelah berjalan waktu, dengan membaca (memahami) teks Al-Quran, Peter menjadi seorang pemuka Kristen yang sangat menentang perlawanan senjata berhadapan dengan Islam (Perang Salib). Memang hanya pesoalan waktu saja yang menjadi telengka, bahwa Peter mengakui Islam dan Yahudi merupakan agama yang sedarah daging dengan agama Kristen. Peter menyebut, pemeluk Yahudi dan Islam merupakan ahli kitab. Tuhan Bapa menurutnya akan mengampuni mereka. Dan bukankah Islam juga menyebut Yahudi dan Nasrani merupakan ahli kitab sejelas-jelasnya. Hanya saja kedua agama tersebut sudah kadaluwarsa dengan kedatangan Islam.

Tak dapat ditolak bahwasanya penerjemahan ini merupakan proyek sistematis pertama yang dilakukan pemimpin Kristen guna mempelajari Islam, yang dalam pandangan awam awalnya jauh dari motif keagamaan. Yang paling menarik, setelah memahami teks Al-Quran, Peter mulai menulis debut karya awalnya dengan tema Yahudi. Buku yang ditulisnya berjudul “Liber Adversus Judaeorum Inveteratam Duritiem” (Melawan Orang Yahudi yang Bersikukuh dalam Kedegilan). Yahudi memang degil, tapi ulet, sekaligus jenius.

Dalam berbagai situasi untuk memperkenalkan terjemahan Al-Quran yang telah berbahasa Latin, yang terpenting adalah menujukannya kepada Bernard Clairvaux, Peter menyertai pernyataan sebagai berikut.

“Tujuan saya mengerjakan terjemahan ini adalah mengikuti tradisi Bapa (gereja), yakni mereka tidak pernah melewatkan setiap bid’ah atau penyimpangan pada masanya dengan mendiamkan begitu saja, walaupun masalahnya sangat ringan, tanpa mengajukan penolakan berdasarkan seluruh kekuatan iman dan juga pembuktian, baik melalui tulisan maupun diskusi, bahwa hal yang ditolak tersebut memang benar-benar tidak baik atau tidak benar.”

Bernard Clairvaux sendiri merupakan seorang lawan terkuat Peter yang mengharamkan pembaruan dan kelompok pendeta yang tak membolehkan beribadat kecuali dalam bahasa Latin. Beliau juga menjadi orang kuat dalam pembentukan kelompok Kstaria Pendeta (Knight Templar) yang menjadi prajurit dalam berbagai pertempuran (waktu itu Perang Salib yang digerakkan pertama-tama dari Paris, berhasil membebaskan Jerussalem). Sementara Peter anti kekerasan, memilih perdamaian dan adu opini yang berakhlak.

Dari awal kedudukannya sebagai Kepala Pendeta, Peter memang sudah menunjukkan naluri kemanusiaan yang tinggi. Ketika memberi suaka kepada Peter Abelard (1079-1142), seorang guru pendeta ternama yang mengajar di sekolah-sekolah yang menjadi cikal bakal Universitas Paris, Abelard benar-benar tidak sejalan dengan gereja yang Ortodoks.

Waktu itu Roma telah mengutuk Abelard dengan menuduh Abelard telah murtad. Tapi pada saat yang sama Peter yang Mulia memberi perlindungan dan suaka kepada Abelard hingga akhir hayatnya. Bahkan melayani pula penguburannya di tempat yang jauh di sebuah biara pinggiran dekat Paris. Di biara tersebut tinggal kekasih Abelard bernama Heloise yang telah memberinya seorang putra, Astrolabe.

Nama Astrolabe dibenci banyak pendeta yang menolak pembaruan. Sebab Astrolabe merupakan nama benda temuan ilmiah yang bercirikan daya tarik khas Islam Spanyol. Gunanya untuk melakukan pengukuran astronomi akurat, yang memungkinkan astronom mengukur dan menentukan posisi bintang-bintang. Juga untuk alat navigasi kelautan.

Walaupun sebenarnya Ketton tidak tinggal di Toledo selama pengerjaan  penerjemahan, tepatnya ia mengerjakannya di kediamannya di luar Toledo, yaitu Pomplona, di tepi sungai Ebro. Di kota ini Ketton menetap sebagai Archdeacon, pimpinan pendeta dalam aliran Anglikan. Namun, karena pusat dan sumber utama proyek besar ini adalah Toledo, maka hasil kerja Peter dan Ketton dinamakan sebagai “Koleksi Toledo”.   

 

*NEVATUHELLA, esais menetap di Medan. Lahir tahun 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Bukunya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016), Bersampan ke Hulu (2018) dan satu buku puisinya Bila Khamsin Berhembus (2019). Buku terbarunya Teriakan dalam Senyap (2021).

Latest Articles

Comments