Jamuan di Tengah Badai

Oleh: Nevatuhella

Nurhevy berjalan menyusuri jalanan tak beraspal. Jalan menuju pasar yang buka hanya di pagi dan sore hari. Beberapa orang perempuan menyertainya di depan dan di belakang. Menjelang siang kios-kios ditutup, sore buka lagi. Sebagian pedagang hanya menutup dagangannya yang ada di los-los yang jumlahnya beberapa. Termasuk pasar tradisional, namun menyediakan lengkap kebutuhan umum. Pedagang menjual dagangannya, terutama ikan segar dengan harga melebihi pasar lainnya.

 Mendadak debu beterbangan makin tebal. Sebelum berangkat, anak Nurhevy,  Hussin, sudah mengingatkan agar ia tak pergi berbelanja, sebab  mendung sudah sangat memberat. Angin pun  mulai bertiup kencang.

“Nanti malam kita tak ada ikan dan sayur lagi untuk sahur.” Nurhevy beralasan menolak peringatan anaknya.

Bulan puasa masih di minggu kedua saat wabah virus korona sedang menjadi pandemi di seluruh dunia. Orang-orang berjalan kemana-mana dengan memakai masker. Tiga minggu yang lalu, Nurhevy masih berpergian dengan kereta api ke ibukota. Waktu itu semua penumpang yang sudah berkurang 75 persen lebih dari biasanya, menutup muka dengan masker. Tampak bagai zombi-zombi yang dibawa kereta api ajaib. Namun sejak seminggu lalu, kereta api jarak pendek dan jauh sudah dibekukan.

Sekarang ia rasakan akibatnya, belum sampai sepuluh menit Nurhevy berjalan, angin tambah kencang berhembus. Sepertinya badai akan datang. Belum pernah terjadi selama ini di desa kecil pertanian ini. Sama seperti wabah korona yang juga belum pernah terjadi selama hampir 10 abad. Korona diperhitungkan akan memakan korban cukup banyak. Pemerintah sudah membuat peraturan agar warga tak keluar rumah. Bantuan sosial juga sudah diberikan kepada warga terdampak virus korona. Nurhevy tercatat salah seorang penerima. Janda dengan penghasilan tidak tetap, begitu sebut identitasnya di dalam kartu keluarga.

Para pengendera sepeda motor melaju. Pejalan kaki mempercepat langkahnya, sebagian berlari, sambil mengucapkan takbir atau tahmid. “Ya, Allah, ya Allah, Allahuakbar.”

 Nurhevy terpaksa berteduh di bawah pohon jati. Badai benar-benar datang. Berangsur-angsur makin ganas. Nurhevy masih sempat mengingat sekeping lirik lagu Adam Lambert, weather the hurricanes to get to that one thing. Beberapa saat kemudian teringat pula ia cerita Menjelang Badai Pasir karya Jamil Massa, sebelum angin kencang melepaskan pelukan tangannya pada pohon jati yang masih muda. Batangnya masih sepelukan Nurhevy yang kurus kerempeng. Kurang gizi dan terlalu banyak berpikir.

Sebulan yang lalu, ia bertengkar hebat dengan dokter. Ia kena demam dan sedikit batuk, tetapi dokter seolah-olah memaksa statusnya untuk pasien pandemi korona. Untuk kemudian di karantina di rumah sakit.

Saat ini, Hussin tak mungkin menyusulnya dalam badai yang sudah menggila. Cuaca  pekat seperti malam, padahal waktu salat asar baru saja berlalu. Masih ada orang yang terkurung dalam musholla yang baru selesai melaksanakan salat asar. Tek! Tiba-tiba bunyi kontak lampu serentak mematikan listrik. Azan yang digemakan dari musholla sayup-sayup saja terdengar. Badai menyusur atap rumah dan pepohonan. Seng dan ranting beterbangan melayang di hantam angin. Sebagian ada yang berputar-putar di angkasa.  

Di tengah badai yang menggila, Nurhevy terbawa terbang. Seseorang ia rasakan menggendongnya dan melepaskannya di sebuat tempat. Nurhevy merasa orang ataupun yang bukan orang ini, sebangsa jin atau malaikat entahpun, berniat baik ingin menyelamatkannya dari ganasnya badai. Belum tiba saat mati, batinnya. Lupa ia mengucap syukur karena perasaan tak menentu. Ingat pula ia keadaan yang sama ketika masih SMP dulu selalu kebolean belum makan sesiangan. Dalam kantuk dan lapar ia diterbangkan malaikat ke angkasa.

Begitu sadar Nurhevy berada di sebuah suasana asing. Dari semula rebahan, sambil menggosok-gosok matanya yang kabur pandangannya, dengan susah payah berusaha berdiri. Beberapa saat ia menyadari, tempat ia berada adalah lokasi Bukit Tursina dalam film Ten Commandement  yang ditontonnya hampir dua puluh tahun yang lalu. Ketika Hussin masih lima tahun, dan sudah yatim.

“Ya, disitu Moses berdiri!” Nurevy menunjuk kaki bukit batu. Ia ingat betul, Musa, yang dalam film itu dinamai Moses berdiri tanpa sandal dan memegang sebuah tongkat. Sesaat kemudian Nurhevy melepas pandang kesemua arah. Tak ada manusia atau binatang. Hanya kabut asap tipis mengelilingi. Suasana mencekam, sepertinya hantu-hantu akan berdatangan.

Sontak datang gemuruh menggelegar yang memekakkan telinga. Dari kejauhan sesosok manusia terlihat muncul. “Manusia. Pasti. Laki-laki dengan busana seadanya,” yakin hati Nurhevy.

“Maryamkah?” tanya lelaki yang baru muncul berkendaraan gemuruh tersebut dalam hatinya pula. “Mengapa ia datang kesini, bukankah Tuhan Yang Maha Esa telah memasukkannya ke dalam surga yang penuh kedamaian!”

Nurevy, yang disangkakan lelaki itu sebagai Maryam terus mendekat melangkah pelan mendekati seperti prosesi pemakaman para pahlawan. Menekan ketakutan. Melawannya dengan sepenuh keberaniaan. Ia teringat ketika melawan dokter yang memaksanya menjadi pasien korona.

“Baiklah, aku akan melemparkan tongkatku ke arahnya. Kalau ia jelmaan setan, tongkatku akan berubah menjadi ular. Dan kalau ia betul Maryam, ibunya Isa, tongkatku akan berubah menjadi emas lantakan 1000 karat!” tekad lelaki yang merasa perlu kepastiaan siapa perempuan ini.

Sesudah dilemparkan, tongkat lelaki itu, yang rupanya tak lain nabi Musa, berubah menjadi emas. Berbeda dengan ketika tongkat itu dilemparkan mendekati ular-ular para penyihir Firaun, tongkat berubah menjadi ular raksasa. Menelan ular-ular para penyihir.

 Musa meraih tongkatnya kembali dan memutarnya ke semua penjuru mata angin, seketika seluruh kawasan menjadi taman yang megah dan indah melebihi Taman Rusafa yang pernah dibuat Dinasti Ummayah di Damaskus. Pohon-pohon berbunga emas, perak dan logam mulia lainnya. Buah-buahan bergantungan warna-warni penuh keranuman. Bulan dan bintang-bintang berada begitu dekatnya.

Nurhevy mendekat dan mencoba mengenali Musa. Tiba-tiba seorang laki-laki lain muncul menyerahkan nampan ke tangannya. Nurhevy memandang ke arah laki-laki. Ia mengenalinya. Bukankah ini lelaki yang beberapa hari mengganggu pikirannya.  Apa yang selama ini menjadi misteri bagi Nurhevy sudah tertebak pula. Rupanya nampan yang berada di telapak tangan laki-laki ini berisi makanan yang lezat dan buahan segar warna-warni berkilauan.

Tanpa basa-basi Musa dan Maryam makan bersama dengan ucapan basmallah memulainya. Maryam, yang tak lain Nurhevy mengucap basmallah dengan bahasa Arab, Musa dengan bahasa Ibrani.

Tentang laki-laki pemberi makanan, sudah beberapa kali mengganggu tidur Nurhevy. Setiap malam Nurhevy didatanginya dalam mimpi. Mulanya laki-laki ini berukuran besar tak terhinggakan. Tingginya kira-kira sejarak antara kota paling barat di pulau Nias, dengan kota tertimur di Papua. Hampir 6000 km. Begitulah Hevy mendefinisikan. Kapan maunya, laki-laki ini bisa menjelmakan dirinya menjadi seukuran manusia biasa. Selalu kehadirannya dengan telapak tangan terbuka berisi nampan, layaknya seorang penari piring.

Awalnya Nurhevy hanya merasa kehadiran laki-laki misterius dalam mimpinya ini hanya sebagai dampak penasarannya karena belum membaca karya Dante Allagheri yang pergi ke surga dan neraka. Yang kedua belum juga sempat membaca Don Quixote de La Mancha karya Cervantes. Yang ketiga, belum pula mendapat jodoh laki-laki berduit, soleh, bukan seniman seperti dirinya. Yang keempat ketidakpuasannya kepada pemerintah yang sedang berkuasa. Terhadap hal yang terakhir, Nurhevy sudah bersumpah memilih miskin dan teraniaya, ketimbang menjadi penguasa kaya raya yang menindas dan menganiaya.

Nurhevy menyeret-nyeret nama Frued bapak psikologi menganalisa mimpinya yang berbuah hingga di rasa penasaran.

Selesai makan, Musa minta diri. Pertama ia mengatakan alasan karena ia dan Maryam bukan muhrim. Kedua mengatakan kepada Maryam, bahwa si pemberi makanan adalah Imam Mahdi. Imam yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh umat Muhammad. Imam yang akan menyelamatkan umat yang kini teraniaya.

Nurhevy terperanjat penuh haru dan merasa kagum tak kepalang mendengar apa yang dikatakan Musa. “Subhanallah,...allahuakbar.” Serunya berulang-ulang. Ingin ia berlari-lari ke lapangan sambil berteriak-teriak mengungkap rasa takjubnya seperti Newton menemukan gaya gravitasi.

“Imam Mahdi, Imam Mahdi. Aku telah bertemu!” teriak Nurhevy. Musa khawatir Nurhevy riya dan mengingatkan, “Tak usah girang-girang amatlah,” komentar Musa yang berbadan kekar melebihi Ade Rai. “Anakmu menunggu di rumah. Badai sudah reda. Pulanglah!” tambah Musa sebelum menghilang dibawa gemuruh gelegar seperti kehadirannya tadi.

Dengan gerakan, Imam Mahdi kemudian menyuruh Nurhevy memicing mata sekedip untuk kembali ke tempat asal ia dibawa, di bawah pohon jati yang sudah tumbang oleh badai.

Badai yang berlangsung tak lebih sepuluh menit telah memporakporandakan desa itu. Korban luka parah dan ringan diperkirakan ratusan orang. Suara sirene ambulance dan mobil kebakaran bersilewaran. Para penolong menemukan Nurhevy tergeletak dekat pohon jati yang tumbang. Awalnya tak seorang mengenalinya karena wajahnya putih bersinar. Ketika para penolong, termasuk Hussin membantunya berdiri, Nurhevy samar-samar berujar, ia baru saja makan dengan nabi kaum Ibrani di langit. (*)

 

*Nevatuhella, lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Azahar Revista Poetica, Waspada, Jawa Pos, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Koran Sindo, Majalah Sagang, Basabasi.co, Cendananews.co, dan lainnya. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016) dan Bersampan ke Hulu (2018), buku puisi Bila Khamsin Berhembus (2019), serta biografi penyair Damiri Mahmud Teriakan dalam Senyap (2021).

Latest Articles

Comments