Refleksi 62 Tahun IMM: Menakar Kedalaman Intelektual, Menjemput Fajar Kemajuan.

March 14, 2026 - 18:57
1 dari 3 halaman

Penulis : M. Reza Adyan Saski

Tepat pada 14 Maret 1964 di Gedung Muhammadiyah Yogyakarta, sebuah ikrar besar dipancangkan. Hari ini, enam puluh dua tahun kemudian, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan lagi sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan sebuah laboratorium peradaban yang terus berdenyut di jantung perguruan tinggi dan masyarakat.

Milad ke-62 ini bukan sekadar seremoni pergantian kalender. Ia adalah cermin besar bagi setiap kader untuk menoleh ke belakang demi mengambil hikmah, dan menatap lurus ke depan untuk memetakan arah kemajuan.

1. Refleksi Trilogi: Antara Wacana dan Realita
Trilogi IMM—Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas—adalah fondasi yang tak boleh lekang oleh panasnya pragmatisme zaman.
Religiusitas kita bukan sekadar ritual, melainkan basis etis dalam bertindak.
Intelektualitas kita bukan sekadar tumpukan gelar, melainkan ketajaman analisis dalam membaca realitas sosial.
Humanitas kita bukan sekadar bakti sosial musiman, melainkan keberpihakan nyata pada mereka yang terpinggirkan (mustad’afin).
Refleksi di usia 62 tahun menuntut kita bertanya: Apakah narasi besar yang kita diskusikan di forum-forum pengaderan sudah bertransformasi menjadi solusi bagi krisis energi, ketimpangan ekonomi, atau kerusakan lingkungan di sekitar kita?