Kisah Para Sahabat yang Hijrah ke Abisinia

November 23, 2020 - 16:26
Foto : Ilustrasi/int
2 dari 3 halaman

Maka, diutuslah Amr bin ‘Aș dan Abdullah bin Rabi’ah kepada Najasyi agar mau menyerahkan kaum Muslimin yang telah berhijrah. Kaum Quraisy mempersembahkan hadiah besar kepada Najasyi.

Kedua utusan dari kaum Quraisy berkata: “Paduka Raja, mereka yang datang ke negeri tuan ini adalah budak-budak kami yang tidak mempunyai malu.

Mereka meninggalkan agama nenek moyang mereka dan tidak pula menganut agama Paduka; mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga Paduka pahami.

Kami diutus oleh pemimpin-pemimpin mereka, orang-orang tua mereka, paman-paman mereka, dan keluarga-keluarga mereka supaya Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada pemimpin-pemimpin kami. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan mencerca agama mereka.”

Najasyi kemudian memanggil kaum Muslimin yang berhijrah dan bertanya kepada mereka: “Agama apa ini sampai membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri?”

Kaum Muslimin yang diwakili oleh Ja’far bin Abi Ţalib kemudian menjawab, “Paduka Raja, masyarakat kami masyarakat yang bodoh, menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan berbagai macam kejahatan, memutuskan hubungan dengan kerabat, tidak baik dengan tetangga; yang kuat menindas yang lemah.

Demikianlah keadaan masyarakat kami hingga Allah Swt. mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri yang kami kenal asal usulnya, jujur, dapat dipercaya, dan bersih.

Ia mengajak kami hanya menyembah kepada Allah Swt. Yang Maha Esa, meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama ini kami dan nenek moyang kami sembah.

Ia melarang kami berdusta, menganjurkan untuk berlaku jujur, menjalin hubungan kekerabatan, bersikap baik kepada tetangga, dan menghentikan pertumpahan darah.