Waktu Terbaik Tidur Siang (Qailulah) Menurut Ulama Fiqh

Alfatih-media.com- Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa yang dimaksud dengan qailulah adalah tidur sebentar di waktu siang hari dalam rangka untuk istirahat. Menurut para ulama, tidur qailulah hukumnya adalah sunnah. Namun kapan waktu terbaik untuk tidur qailulah?

Selain hari Jumat, waktu terbaik untuk melakukan tidur siang sesaat adalah menjelang tergelincirnya matahari atau sebelum waktu zuhur tiba. Waktu ini telah disepakati oleh kalangan ulama Syafiiyah. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain berikut;

ويسن للمتهجد القيلولة، وهي النوم قبل الزوال،وهي للمتهجد بمنزلة السحور للصائم

Disunnahkan bagi orang yang biasa melakukan shalat tahajud untuk tidur siang sesaat, yaitu tidur sebelum matahari tergelincir. Manfaat tidur qailulah bagi orang yang biasa melakukan tahajud sama seperti manfaat sahur bagi orang yang berpuasa.

Juga sebagaimana disebutkan oleh Imam Syaikh Syarbini dalam kitab Al-Iqna’ berikut;

ويسن للمتهجد القيلولة وهي النوم قبل الزوال وهي بمنزلة السحور للصائم لقوله صلى الله عليه وسلم استعينوا

بالقيلولة على قيام الليل

Disunnahkan bagi orang yang biasa melakukan shalat tahajud untuk tidur qailulah, yaitu tidur sebelum matahari tergelincir. Manfaat tidur qailulah bagi orang yang biasa melakukan tahajud sama seperti manfaat sahur bagi orang yang berpuasa. Ini berdasarkan hadis Nabi Saw; ‘Minta bantulah kalian dengan tidur qailulah agar bisa bangun malam.’

Sementara pada hari Jumat, maka waktu terbaik untuk tidur siang adalah setelah melakukan shalat Jumat di masjid. Pada hari Jumat, tidur siang tidak dianjurkan dilakukan sebelum matahari tergelincir karena dikhawatirkan akan ketinggalan shalat Jumat.

Terdapat beberapa hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Saw dan para sahabat melakukan tidur siang pada hari Jumat setelah melaksanakan shalat Jumat. Di antaranya adalah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Sahl bin Sa’d, dia berkata;

ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم

Dahulu kami di zaman Nabi Saw tidak melakukan tidur siang dan tidak sarapan kecuali setelah melaksanakan shalat Jumat.

Juga hadis riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik, dia berkata;

كُنَّا نُبَكِّرُ بِالْجُمُعَةِ وَنَقِيلُ بَعْدَ الْجُمُعَةِ

Kami berangkat pagi-pagi untuk melaksanakan shalat Jumat dan tidur qailulah setelah shalat Jumat. (sumber:BincangSyariah.com)

Latest Articles

Comments