Tips Agar Terhindar dari Sifat Riya Ala Kiai Sholeh Darat

Alfatih-media.com-Riya atau pamer merupakan sifat yang dibenci dalam Islam. Sifat ini bisa menyebabkan seseorang pada taraf yang ekstrim terjebak pada gila pujian. Riya yang menyelimuti hati selalu mengarahkan manusia tidak menuju tujuan yang sejati, yaitu Allah. Padahal sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan beribadah hanya untuk-Nya.

Dalam tradisi tasawuf, sifat riya dapat menutup jalan kita menuju Allah. Ia adalah hijab bagi para pejalan (salik) dalam dunia spiritual Islam. Sifat-sifat tercela, termasuk riya, merupakan kelambu hitam yang menutupi proses dalam menjernihkan hati seorang hamba. Oleh karenanya, setiap amal dan ibadah dalam Islam selalu dituntut dan didasarkan pada sikap keikhlasan dalam kerangka tauhid.

Al-Quran dalam surat al-Bayyinah: 4 menjelaskan bahwa manusia hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas dan hanya semata-mata untukNya. Karena ibadah yang didasarkan pada keikhlasan (kemurnian), hanya untuk Allah, merupakan ajaran agama yang lurus. Sehingga Islam begitu melarang sikap riya yang bertolak belakang dengan semangat ajaran ikhlas.

Menurut kiai Sholeh Darat dalam kitab Minhaj al-Atqiya’, riya bermakna mencari kedudukan, pangkat, dan penghormatan dari manusia dengan melakukan amal-amal ibadah ukhrowi seperti salat sunah, puasa, sedekah dan lain-lain. Orang-orang yang riya mengidamkan kehormatan dan pujian dari manusia agar mendapatkan keuntungan (harta, kedudukan, dan lainnya) dari manusia. Beliau mengingatkan bahwa pada saat itu (Abad XIX), banyak orang berilmu dan ahli ibadah menggunakan kealimannya untuk uang dan kekuasaan.

Bagi kiai Sholeh Darat, ada tiga hal yang menjadi akar kemunculan sifat riya. Ketiganya yaitu suka dipuji, benci dicaci, dan rakus dan iri terhadap (milik) orang lain. Selama tiga hal ini belum hilang dari hati manusia, maka sifat riya akan mudah muncul. Kiai Sholeh Darat menyarankan tiga hal tersebut agar dijauhi agar akar penyebab lahirnya sifat riya manusia hilang. Untuk menghindarinya ada dua hal yang perlu dimiliki seseorang, yaitu:

Pertama, meyakini bahwa akhir dari kehidupan manusia hanya Tuhan yang tahu. Keyakinan ini akan berdampak pada respon kita saat menerima pujian dan celaan. Pada akhirnya kita tidak menginginkan pujian manusia juga tidak khawatir akan cacian manusia. Karena pada dasarnya, kebaikan dan keburukan manusia tidak ditentukan oleh kuantitas pengakuan manusia, melainkan hak preogratif Tuhan dan akan nampak di akhir kehidupan manusia. Ia akan meninggalkan dunia secara baik (husnul khotimah) atau buruk (suul khotimah).

Ini diperkuat dengan pandangan Gusdur yang menyatakan bahwa “orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, sesungguhnya dia masih hamba amatiran”. Karena pada dasarnya, pujian dan cacian manusia bukanlah ukuran untuk menentukan seseorang dianggap hamba yang baik atau tidak. Maka dengan meyakini bahwa akhir dari kehidupan manusia hanya Tuhan yang tahu, maka seorang hamba tidak takut jika ada cercaan dan bersikap biasa saja saat mendapat pujian. Karena hidupnya adalah proses yang majhul (belum diketahui) akhirnya.

Kedua, selalu bersyukur atas yang ia miliki. Sifat syukur menurut kiai Sholeh Darat dirasa ampuh untuk menangkal rasa tamak terhadap orang lain. Dalam menjalani kehidupan, rasa ingin menjadi seperti orang lain dan memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain akan selalu ada. Akan tetapi, manusia harus menyadari bahwa rasa ingin pada dasarnya adalah awal dari setiap keburukan.

Dalam tradisi sufi, mereka selalu menempatkan hal-hal yang bersifat duniawi jauh di bawah kepentingan akhirat. Hal ini dilakukan bukan karena lari dari persoalan dunia, melainkan untuk menjaga agar persoalan-persoalan dunia “tidak mengganggu” misi utama manusia di dunia untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas (QS Al-Bayyinah; 4). Sehingga dalam menghadapi dan menjalani kehidupan dunia, mereka sama sekali tidak sedikitpun memiliki rasa takut (la khoufun) dan rasa sedih (la yahzanun) menghadapi kehidupan dunia.

Sifat syukur ini akan dapat tumbuh jika seseorang dalam memandang kehidupan dunia sama seperti para sufi memandang dunia. Mereka meyakini bahwa kemampuannya dapat beribadah membaca Al-Quran, misalnya, lebih baik daripada hal-hal duniawi. Dari sana kemudian lahir rasa syukur dan memendam dalam-dalam rasa keinginan untuk memiliki harta, kedudukan dan posisi yang dimiliki orang lain. Semoga kita semua termasuk hamba yang dijauhkan dari sifat riya, amin ya rabbal alamin. (sumber:BincangSyariah.com)

Latest Articles

Comments