Tiga Wasiat Nabi untuk Abu Hurairah

Abu Hurairah r.a. merupakan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Sebanyak 5374 hadis darinya telah berhasil terpublikasikan di dalam kitab-kitab hadis. Salah satunya adalah tentang tiga wasiat Nabi saw. untuk Abu Hurairah sebagaimana berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ. رواه البخاري.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ. رواه البخاري.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Kekasihku (Nabi Muhammad saw.) telah mewasiatkan kepadaku tiga hal yang aku tidak akan meninggalkannya sampai aku meninggal dunia. Yakni berpuasa tiga hari di setiap bulan, shalat Duha, dan tidur setelah menunaikan salat Witir.” (H.R. Al-Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ. رواه البخاري.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Kekasihku telah mewasiatkan kepadaku tiga hal, yakni puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat salat Duha, dan salat Witir sebelum aku tidur.” (HR. Al-Bukhari).

Dua riwayat di dalam kitab Shahih Al-Bukhari tersebut menunjukkan bahwa tiga wasiat yang telah dipesankan khusus untuk Abu Hurairah r.a. meliputi,

Pertama, puasa tiga hari setiap bulan. Puasa ini disebut juga dengan puasa ayyamul bidh. Yakni puasa yang dilaksanakan setiap tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan penanggalan Hijriyah, bukan Masehi, di mana pada tanggal-tanggal tersebut merupakan tanggal munculnya bulan purnama. Malam-malam di tanggal itu pun terlihat terang dengan sinar purnama, sehingga disebut dengan hari-hari putih (ayyamul bidh) atau hari-hari yang malam-malamnya putih (ayyamu layalil bidh). Salah satu keistimewaan puasa ayyamul bidh ini adalah puasa yang diganjar seperti puasa setahun. Hal ini sebagaimana riwayat Abu Qatadah r.a. Rasulullah saw. bersabda:

صَوْمُ ثَلاَثَةٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَمَضَانَ إِلَى رَمَضَانَ صَوْمُ الدَّهْرِ (رواه مسلم)

“Puasa tiga hari dari setiap bulan dan puasa Ramadan ke bulan Ramadan berikutnya adalah seperti puasa setahun.” (H.R. Muslim).

Kedua, salat Duha. Salat Duha dikerjakan minimal dua rakaat dan maksimalnya adalah dua belas rakaat. Dalam riwayat kedua Abu Hurairah di atas disebutkan bahwa ia diwasiatkan Nabi saw. agar melaksanakan dua rakaat salat Duha. Yakni batas minimal dari rakaat salat Duha. Mungkin Nabi saw. memaksudkan bahwa pentingnya mengistiqamahkan salat Duha meskipun hanya dua rakaat saja.

Ketiga, salat Witir sebelum tidur. Batas minimal salat Witir adalah satu rakaat, sedangkan batas maksimal adalah sebelas rakaat. Adapun waktu pelaksanaannya adalah setelah salat Isya hingga fajar subuh. Waktu terbaik melaksanakan salat Witir adalah di akhir sepertiga malam, yakni sebagai penutup rangkaian salat malam, tahajud, dan hajat. Namun hal itu diutamakan bagi orang yang sudah terbiasa bangun malam. Sedangkan yang khawatir tidak dapat bangun di malam hari, maka hadis Abu Hurairah r.a. ini dapat dijadikan pegangan untuk melaksanakan salat Witir sebelum tidur.

Demikianlah tiga wasiat Nabi saw. untuk Abu Hurairah r.a., yakni puasa ayyamul bidh atau tiga hari setiap bulannya di tanggal 13,14 dan 15 kalender Hijriyah, salat Duha dua rakaat dan salat Witir sebelum tidur. Ketiga hal ini rutin dilaksanakan oleh Abu Hurairah r.a. sampai beliau wafat. Semoga kita pun dapat menjalankan ketiga hal tersebut. Aamiin. Wa Allahu A’lam bis Shawab. (sumber :bincangsyariah)

Latest Articles

Comments