Tiga Sikap Mulia Nabi di Hadapan Hidangan

Alfatih-media.com-Nabi Muhammad SAW layaknya manusia pada umumnya juga makan secara bersama-sama dalam satu kegiatan, layaknya kita hari ini makan bersama di meja makan. Namun, salah satu bentuk suri teladan beliau di hadapan hidangan adalah pesan-pesan moral terkait makanan. Penulis mencoba merangkum beberapa hal, yang mungkin kurang begitu diperhatikan kita, selain dari kemestian berdoa sebelum dan sesudah memakan hidangan. Imam al-Nawawi dalam kitab al-Adzkar merangkum berbagai macam doa atau zikir serta perilaku Nabi Saw. dalam berbagai hal, termasuk hal makan.

Pertama, Rasulullah Saw. senang makan secara bersama-sama. Dalam persoalan ini, pernah terjadi sebuah mukjizat. Nabi Saw. pernah diundang makan Abu Thalhah beserta istrinya, Ummu Sulaim. Kisah tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim. Rupanya, Nabi Saw. justru membawa rombongan sampai tujuh puluh orang (dalam riwayat disebutkan sampai 80 orang). Nabi Saw. lalu berkata, I’dzan li ‘asyarah (izinkan sepuluh orang untuk makan). Sebelum masuk, Nabi Saw. kembali berkata, kulu wa sammu Allah ta’ala (makan dan bacalah nama Allah/Bismillah). Selanjutnya masuk sepuluh orang berikutnya, sampai akhirnya delapan puluh orang itu bisa makan semua. Demikian juga disebutkan dalam riwayat Shahih al-Bukhari.

Kedua, Nabi Saw. tidak mencela makanan dan minuman. Sikap seperti ini beliau di sampaikan dalam  banyak kesempatan. Abu Hurairah Ra. seperti diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim pernah menceritakan,

ما عاب رسول الله صلى الله عليه وسلم طعامًا قط، إن اشتهاه أكله، وإن كرهه تركه

“Rasulullah Saw. tidak sedikitpun menyampaikan celaan terhadap makanan. Kalau beliau berselera, beliau makan. Jika tidak, dia tinggalkan.”

Dalam riwayat al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibn Majah, Nabi Saw. menyamakan sikap orang-orang yang mudah memunculkan celaan terhadap apapun termasuk makanan, dengan sikap orang-orang Nasrani. Ini beliau sampaikan ketika ada seseorang yang berujar kepada Nabi,

Ada makanan-makanan yang saya jauhi sama sekali”

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw. lalu bersabda,

لا يتحلجن في صدرك شيء ضارعت به النصرانية

Jangan pernah mudah keraguan merasuki hatimu karena engkau menjadi sama dengan orang-orang Nasrani.

Tapi, Nabi Saw. juga pernah menyampaikan penolakannya terhadap makanan karena secara pribadi beliau tidak suka. Ini terjadi ketika Nabi Saw. menolak untuk memakan dhabb (nama biologi: Kadal Uromastyx) namun beliau enggan memakannya. Beliau ketika ditanya apakah itu haram atau tidak, ia menjawab,

لا، ولكنه لم يكن بأرض قومي فأجدني أعافه

“Tidak !, cuma hewan ini tidak ada di tanah kaumku. Maka saya merasa enggan untuk memakannya.”

Ini menjadi dalil dibolehkannya menolak hidangan makanan jika memang menyatakan ketidaksukaan itu menjadi mendesak. Atau bisa juga makanan itu halal, namun dalam kasus tertentu akan berbahaya jika kita makan, misalnya meningkatkan tekanan darah dan uzur lainya.

Ketiga, Nabi memperhatikan kaum yang lemah dan terpinggirkan jika mereka belum makan. Ini dikisahkan dalam riwayat al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibn Majah dari Jabir bin Abdullah. Nabi Saw. pernah mengajak makan orang kusta. Mereka sama-sama makan di atas qash’ah (wadah makanan) lalu makan bersama-sama, dan Nabi Saw. berkata,

كل بسم الله ثقة بالله وتوكلا عليه

Makan, baca bismillah, percaya dan berserahlah hanya kepada-Nya !

Demikian beberapa suri tauladan Nabi Saw. kepada kita dan umat manusia pada umumnya tentang etika saat makan. Semoga kita semua bisa meneladani. (sumber :bincangsyariah)

Latest Articles

Comments