Tiga Kepribadian Imam Syafi’i yang Perlu Ditiru

Alfatih-media.com-Nama asli Imam Syafi’i adalah Abu Abdullah Muhammad Bin Idris Bin Al-Abbas Bin Utsman Bin Syafi’ Asy-Syafi’i. Syekh Mohammad Nawawi Al-Banteni menyebutkan bahwa beliau lahir pada Tahun 150 H di Gaza Pelestina dan wafat pada Tahun 204 H di Mesir (Usia beliau 54 Tahun). Imam Syafi’i termasuk salah satu imam mazhab yang empat. Salah satu guru beliau adalah Imam Malik (Pendiri Mazhab Maliki), pengarang Kitab Muwattho’. Salah satu murid beliau yang terkenal adalah Imam Ahmad Bin Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.

Imam Syafi’i adalah mujtahid mutlak yang dijuluki nashirussunah waddin, penolong sunah dan agama. Mayoritas umat islam di Indonesia mengikuti mazhab beliau. Kita sebagai penganut mazhab syafi’i tentunya sedikit banyak harus mencontoh kepribadian dari beliau. Jika tidak bisa meniru secara keseluruhan, maka setidaknya ada sebagian kebaikan beliau yang kita lanjutkan. Dalam Mukhtasor Ihya’ Ulumiddin disebutkan:

ما شبعت مذ ست عشرة سنة لانه يثقل البدن ويقسي القلب ويزيل الفطنة ويجلب النوم ويضعفه صاحبه عن

العبادة وقال ما حلفت بالله تعالي لا صادقا ولا كاذبا وسئل عن مسالة فسكت فقيل الا تجيب فقال حتى اعلم

ان الفضل في سكوتي او في الجواب

Masyabi’tu mudz sitta asyrota sanatan, liannahu yustaqqilul badana wayuqsil qolba wayuzilul fathonata wayudo’ifahu sohibahu anil ibadah. Waqola ma halaftu billahi ta’ala la sodiqon wala kadziban. Wasu’ila an masalatin fasakata faqila ala tujibu?  Faqola hatta a’lamu annal fadhla fisukuti au filjawab.

Aku tidak pernah makan enak (kenyang) selama 16 tahun. Karena sesungguhnya makan sampai kenyang dapat  memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, menyebabkan banyak tidur, dan membuat lesu untuk ibadah. Beliau berkata: Aku tidak pernah bersumpah billahi, baik dalam keadaan benar atau bohong. Ketika beliau ditanya tentang suatu permasalahan, beliau akan diam agak lama. Baru setelah ditanya, apakah akan menjawab beliau berkata “sampai akau tahu, mana yang lebih utama antara diam dan menjawab”.

Pertama, uswah hasanah dari beliau yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah mengurangi makan. Dalam artian makan sekedar menjaga stamina tubuh. Kenyang, tapi tidak sampai sulit bernafas.

Kedua, kurangi kalimat sumpah. Bahkan sebisa mungkin jangan sampai mengucapkan kalimat tersebut. Apalagi sumpah serapah yang tak ada baiknya sama sekali. Banyak sumpah hanya menunjukkan kepribadiannya sebagai seorang pembohong.

Terakhir, jangan terburu dalam apapun. Termasuk dalam percakapan. Lebih-lebih dalam menjawab suatu permasalahan. Katakan tidak tahu jika memang tidak tahu, jangan sampai mengada-ngada. Pikirkan matang-matang, mana yang lebih baik antara menjawab atau diam saja. Allah Ta’ala A’lam. (sumber:bincangsyariah)

 

Latest Articles

Comments