Tiga Jenis Hakim Menurut Nabi

Alfatih-media.com-Menjadi hakim merupakan salah satu profesi yang sangat dituntut keadilannya. Betapa tidak, ia harus jeli, tegas, serta hati-hati dalam memutuskan suatu perkara. Jika tidak, maka urusannya tidak hanya di dunia, ia pun harus mempertanggung jawabkannya di akhirat kelak.

Terkait dengan profesi hakim tersebut, Nabi saw. di dalam salah satu sabdanya telah menjelaskan ada tiga macam hakim.

عَنِ ابنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: القُضَاةُ ثَلاَثَةٌ: قَاضٍ فِى الْجَنَّةِ وَقَاضِيَانِ فِى النَّارِ

قَاضٍ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِى الْجَنَّةِ وَقَاضٍ عَرَفَ الحَقَّ فَحَكَمَ بِخِلاَفِهِ فَهُوَ فِى النَّارِ وَقَاضٍ قَضَى عَلَى جَهْلٍ

فَهُوَ فِى النَّارِ. (رواه أبو داود)

“Dari Ibnu Buraidah dari bapaknya dari Nabi saw., beliau bersabda, “Hakim ada tiga macam. Satu di surga dan dua di neraka. Hakim yang mengetahui kebenaran dan menetapkan hukum berdasarkan kebenaran itu maka ia masuk surga, hakim yang mengetahui kebanaran dan menetapkan hukum bertentangan dengan kebenaran ia masuk neraka, dan hakim yang menetapkan hukum dengan kebodohannya ia masuk neraka.” (H.R. Abu Dawud)

Berdasarkan hadis tersebut, Nabi saw. telah menunjukkan umatnya bahwa satu-satunya hakim yang selamat dari panasnya api neraka kelak adalah hakim yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Yakni ia memutuskan perkara sesuai dengan kebenaran yang ia ketahui, tidak berbohong, dan tidak asal-asalan dalam memutuskan perkara.

Sedangkan hakim yang mengetahui kebenaran, namun ia tidak mengamalkannya, ia tidak memutuskan perkara atas dasar kebenaran itu, serta hakim yang memutuskan perkara atas ketidak tahuannya/kebodohannya maka mereka berdualah yang akan masuk neraka.

Sehingga meskipun hakim yang memutuskan perkara atas dasar kebodohannya (asal-asalan saja) itu putusannya benar maka ia juga masuk neraka.

Dengan demikian maka hadis ini menjadi warning bagi semua hakim atau kita semua agar tidak pernah memutuskan perkara atas dasar ketidak tahuan atau memutuskan perkara yang bertentangan dengan kebenaran yang telah kita ketahui. Putuskanlah dengan seadil-adilnya sesuai dengan kebenaran yang ada.  Wa Allahu A’lam bis Shawab. (sumber:BincangSyariah.Com)

Latest Articles

Comments