Tiga Hal yang Dicintai Sayyidina Utsman bin Affan

Alfatih-media.com-Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Begitulah kira-kira kata pujangga. Bagi Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, harapan mencintai adalah untuk meraih kebahagian dua kehidupan sekaligus yakni, kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, para al-Khulafa ar-Rasyidun ketiga ini sangat mawas dalam mencinta.

Merujuk pada kitab Syarhu Nasaihul Ibad, Sayyiduna Utsman bin Affan Ra. sangat mencitai tiga hal:

فقال عثمان رضي الله عنه: وحبب من الدنيا ثلاثة اشباع الجيعان وكسوة العريان وتلاوة القران

Maka Ustman Radliyallahu ‘anh berkata: Ada tiga hal yang aku cintai dari dunia ini yakni, memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang telanjang, dan membaca Al-Quran.

Pertama, memberi makan orang yang lapar. Artinya, beliau adalah paling anti enak sendiri, kenyang sendiri, makan sendiri, dan seterusnya. Sebab itu, dia gemar membagimakanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Kegemaran ini terus dicontohkan bukan saja dalam keadaan lapang, bahkan dalam keadaan susah sekalipun ia masih mencoba mengupayakan.

Sayyiduna Utsman bin Affan seringkali menangis apabila melihat orang yang kelaparan dan tak punya sesuatu untuk dikorbankan. Walaupun beliau tidak kenal intim dengan mereka yang kelaparan. Sungguh teladan yang luar biasa. Sedang kebanyakan kita acap kali acuh tak acuh dengan tetangga yang setiap hari dengan mereka (yang kelaparan) kita bersua. Yang paling ironis, justru masih ada sebagian kita hidup bahagia tatkala tetangga masih menderita kelaparan. Na’udzibillah.

Kedua, memberi pakaian orang yang telanjang. Telanjang disini tidak hanya bermakna badan yang tanpa pakaian. Lebih luas dari itu. Sayyidina Ustman paham betul bahwa, iman sejatinya telanjang dan takwa adalah bajunya. Wajar bila dia menghabiskan sebagian besar untuknya untuk mendandani setiap orang, termasuk dirinya, dengan semaksimal mungkin. Caranya dengan imtistalu awamirihi wa ijtinabu nawahihi  (melakukan segala perintah Allah sekaligus menjauhi larangan-Nya).

Lantaran itulah, Utsman bin Affan datang dari majelis ke majelis untuk menghiasi jiwa-jiwa yang masih telanjang tak terkecuali jiwanya sendiri. Dia tahu betul bahwa kadar iman tiap-tiap manusia senantiasa selalu yazid wa yanqush (labil atau naik-turun). Bahkan, sering kali dia tidur larut malam dan terjaga pada pertengahan malam untuk berdoa agar ditetapkan dalam keimanan. Lalu, jika Utsman bin Affan yang tergolong dengan orang yang sangat dekat dengan Rasulullah riyadhah sedemikian ragam cara, bagaimana dengan kita? Semoga kita bisa meneladaninya.

Ketiga, membaca Alquran. Sebagai pribadi yang sangat dekat dengan Rasulullah, Utsman bin Affan tidak menyia-nyiakan pahala membaca Alquran. Melalui kecintaannya terhadap membaca Alquran, Utsman bin Affan berharap bisa mendapat syafaat pada hari pembalasan kelak. Kecintaan ini ditunjukkan dengan kebiasaan Utsman bin Affan yang tidak pernah alpa pada tiap malam dan siang untuk berasyik-asyik dengan Alquran.

Bahkan kecintaan terhadap Alquran, Utsman bin Affan mengumpulkan ayat-ayat Alquran yang dimasa Rasulullah berserakan. Utsman tidak ingin Alquran hilang bersama gugurnya para huffadzul quran (para penghafal Alquran). Hasil dari kecintaannya ini adalah munculnya mushhaf ‘utsmani yang bisa kita baca sampai saat ini, meskipun kita belum hafal Alquran. Semoga kita juga mendapat syafaat Alquran kelak. (sumber:BincangSyariah.Com)

Latest Articles

Comments