Tiga Fondasi yang Diletakkan Rasulullah untuk Membangun Kota Madinah

Alfatih-media.com-Peristiwa hijrahnya umat Islam ke Madinah menandai babak baru dari perjalanan dakwah Rasulullah Saw. Madinah yang mulanya adalah arena perselisihan antar suku, perlahan-lahan beralih menjadi kota yang sangat solid. Hal ini, tidak terlepas dari peran Rasulullah sebagai pimpinan tertinggi Madinah kala itu.

Syekh Ramadhan Al Buthi dalam bukunya, Fiqh Sirah, menuturkan ada tiga fondasi awal yang dilakukan Rasulullah untuk membangun kota Madinah. Ketiga langkah tersebut adalah, membangun masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar serta membuat piagam Madinah.

1.Membangun Masjid

Rasulullah tiba di Madinah di kampung Bani Najjar pada hari Jumat, 12 Rabiul Awwal tahun 1 H. Beliau tinggal di rumah Abu Ayyub Al Anshari. Tidak berselang lama, Rasul meminta para sahabat untuk mendirikan masjid.

Rasul kemudian membeli sebidang tanah dari dua anak yatim. Beliau ikut terjun langsung dalam proses pendirian masjid. Beliau membantu memindahkan batu dan bahan material lainnya. Hal ini membuat para sahabat terpacu agar lebih semangat. Bisa dibayangkan betapa malunya seseorang jika ia berdiam diri sedangkan utusan Allah bersusah payah membawa batu – batu itu.

Masjid menjadi bangunan pertama yang dibangun Rasulullah di Madinah. Mengapa ? Sebab, untuk membangun sebuah masyarakat plural tentu dibutuhkan sebuah bangunan yang mempresentasikan keadilan, persamaan serta kasih sayang.

Ketika warga masuk ke dalam masjid maka tidak ada lagi perbedaan antara pejabat dan petani, tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin.  Mereka berdiri sejajar satu sama lainnya serta sama – sama mengikuti gerakan imam. Tidak ada seorang pun yang dispesialkan dalam hal ini.

Selain itu, masjid juga memiliki banyak fungsi tidak hanya fungsi keagamaan namun juga soal pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Masyarakat muslim biasanya membuat sebuah halaqah berbentuk lingkaran mengaji kepada seorang Syekh. Begitu pula yang terjadi di masa Rasulullah. Sebagaimana para sahabat mempelajari agama Islam dan bermusyawarah di masjid.

Dari sisi sosial, masjid menjadi tempat berkumpulnya orang – orang dari beragam suku dan latar belakang. Dimana di masa Jahiliah dulu, mereka memegang teguh fanatik kesukuan sehingga kerap berperang antara satu suku dengan yang lainnya. Dengan adanya masjid, tidak ada lagi sekat di antara mereka.

2.Mempersaudarakan Kaum Muslimin

Langkah kedua, Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan Anshar. Misalnya mempersaudarakan Ja’far bin Abu Thalib dengan Mu’adz bin Jabal, Hamzah bin Abdul Muthalib dengan Zaid bin Harist, Abu Bakar Shiddiq dengan Kharijah bin Zuhair, Umar bin Khattab dan Utban bin Malik, Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’.

Sebuah negara tidak dapat berdiri tegak kecuali dengan kesatuan umat. Dan tidak mungkin kesatuan umat bisa tercapai jika tidak ada rasa persaudaraan dan rasa saling menyayangi di tengah – tengah masyarakat. Oleh karena itu, persaudaraan yang diterapkan oleh Muhajirin dan Anshar merupakan benih utama persatuan umat.

Persaudaraan sudah sepatutnya dilandasi dengan landasan yang kuat yang mampu menekan ego masing – masing sehingga manusia dengan beragam karekter bisa hidup berdampingan. Oleh karena itu, Rasulullah menjadikan akidah Islam .sebagai dasar persaudaraan.

Dengan begitu, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar memahami betul bahwa bantuan yang mereka salurkan adalah semata – mata untuk meraih rida Allah. Mereka pun paham bahwa tidak ada perbedaan kecuali dalam bertakwa dan beramal shalih. Dengan begitu, maka yang terjadi adalah kedua kelompok saling bantu dalam kebaikan.

Masyarakat yang tentram dibangun atas dasar keadilan dan persamaan. Dua komponen ini tidak akan tercapai kecuali setelah terjalinnya persaudaraan dan  kasih sayang antar sesama. Oleh karena itu, Rasulullah menempatkan persaudaraan sebagai dasar untuk mengimplementasikan keadilan dan persamaan.

Persaudaraan yang dijalin antara Anshar dan Muhajirin bukan ucapan belaka namun benar – benar direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, Sa’ad bin Rabi’ yang dipersaudarakan oleh Abdurrahman bin Auf. Sa’ad menawarkan kepada Abdurrahman untuk berbagi rata dari mulai tempat tinggal, harta hingga keluarga. Abdurrahman berterimakasih atas hal itu, namun beliau hanya meminta Sa’ad untuk mengantarkannya ke pasar agar dia bisa mencari penghidupan dari sana.

Dalam sejarah Islam, jalinan persaudaraan ini sebenernya bukan hal baru, sebab sebelumnya Rasul pun telah mempersaudarakan kaum Muhajirin di Makkah. Ibnu Abdul Bar berkata, “Persaudaraan terjadi dua kali, pertama khusus antara Muhajirin di Makkah dan kedua di antara Muhajirin dan Anshar”.

3.Piagam Madinah

Piagam Madinah merupakan bukti konkret bahwasanya masyarakat Islam sejak awal perkembangannya dibangun atas dasar peraturan yang jelas. Negara yang dibangun Rasulullah berdiri secara sempurna, sebab telah memenuhi berdirinya persyaratan sebuah negara yakni adanya wilayah, peraturan perundangan – undangan dan masyarakat.

Hal ini sacara langsung menampik  pendapat miring terhadap Islam yang mengatakan bahwa ajaran Muhammad tidak lebih dari hubungan peribadatan privat antara seseorang dengan Tuhannya, tidak memiliki aturan atau undangan – undang.

Ibnu Hisyam menuturkan, tidak lama setelah Rasul menetap di Madinah, warga Madinah berbondong – bondong masuk Islam. Lalu beliau mengumpulkan kaum Muhajirin, Anshar dan Yahudi untuk mendiskusikan sebuah undang – undang yang kemudian dikenal dengan nama sahifah atau piagam  Madinah.

Piagam Madinah pada intinya berisi tentang keadilan dan persamaan hak dan kewajiban bagi semua elemen masyarakat Madinah termasuk umat Yahudi. Misalnya, mereka diizinkan untuk tetap beragama dan melakukan praktek keagamaan sesuai apa yang mereka yakini. Mereka pun bisa mencari nafkah sama seperti umat lainnya. Dan mereka pun berkewajiban membela Madinah jika ada musuh yang menyerang.

Dengan adanya perjanjian ini, maka tidak ada lagi percekcokan antar umat beragama. Artinya, semua bisa hidup berdampingan dengan penuh kedamaian. Dengan begitu, solidaritas dan kerjasama antar sesama akan tetapi bentuk sehingga nantinya akan berguna untuk menopang sebuah negara menuju negara yang aman, tentram dan sejahtera. (sumber:BincangSyariah.com)

 

 

 

Latest Articles

Comments