Takwa, Yang Menjadi Ukuran Derajat Manusia

Alfatih-media.com-Derajat manusia di sisi Allah Swt adalah sama. Tidak ada istilah pilah-pilih kasih dari Allah Swt. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama. Allah Swt. tidak membedakan-bedakan makhluknya. Mau lain suku, ras, partai, almamater, bangsa, dan lain sebagainya, semua bernilai sama. Dalam artian tidak ada yang lebih diunggulkan. Hanya saja secara personal tentunya masing-masing makhluk berbeda tingkat pengabdiannya atau penghambaan kepada-Nya. Oleh karena itu, ketakwaanlah yang menjadi tolak ukur derajat manusia. Bukan ketampanan, kekayaan, atau kedudukan. Semakin tinggi ketaqwaannya, maka semakin tinggi pula derajatnya. Allah Swt. Berfirman dalam Surat Al-Hujurat (49): 13,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ

عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Taqwa sendiri diartikan sebagai upaya menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjahui semua larangan-Nya. Imam al-Qurthubi berkata,

والتقوى معناه مرلعاة حدود الله امرا ونهيا والاتصاف بما امرك ان تتصف به والتنزه عما نهاك عنه

Wattaqwa maknahu muroatu hududillahi ta’ala amron wanahyan walittishofu bima amaroka an tatashoffa bihi wattanazzahu amma nahaka anhu.

Takwa adalah memelihara semua batasan-batasan yang telah ditetapkan Allah Swt, baik yang berbentuk perintah atau larangan, dan bersifatan (kepribadian) dengan sifat yang diperintahkan, serta menjaga diri dari sifat-sifat yang terlarang.

Jadi, percuma hartanya melimpah ruah kalau dia tidak bayar zakat. Percuma berpangkat jenderal atau mahkamah agung kalau ia tidak salat. Percuma tampangnya bak artis papan atas kalau ke masjid tak pernah sempat. Sempatkanlah ibadah bukan ibadah di waktu sempat. Semakin tekun beribadah, semakin rajin bersedekah, semakin istiqomah berjamaah, maka di situlah letak derajat tertinggi manusia. Bukan berdasarkan pangkat, suku, bahasa, dan bangsa. (seumber:bincangsyariah)

Latest Articles

Comments