Sikap Jujur Menurut Imam al-Ghazali

Alfatih-media.com-Di tengah perkembangan zaman yang sangat cepat, masyarakat semakin hari semakin rasional dan logis. Hal ini berimplikasi terhadap hilangnya banyak hal yang sangat fundamental seperti persoalan-persoalan moral etika. Persoalan etika mau tidak mau akan berhadapan dengan rasionalitas. Orang akan memihak kepada segala hal yang menguntungkan mereka, yang paling masuk akal untuk diterima dibandingkan harus berbuat jujur dan menenangkan hati mereka. Pesan-pesan agama pada dasarnya mengakomodir dua hal ini secara bersamaan, rasionalitas dan etika. Ada dialog menarik dalam Ihya Ulumiddin antara Hakim dengan seorang laki-laki menyoal kejujuran yang semakin jarang.

وقال رجل لحكيم: ما رأيت صادقا! فقال له:  لو كنت صادقا لعرفت الصادقين

Seorang laki-laki berkata kepada Hakim: “Aku tidak bisa mengenali orang yang jujur!” Kemudian dijawab oleh Hakim: “Seandainya kamu adalah orang yang jujur kamu juga akan mengenal orang-orang yang jujur.” Laki-laki dalam dialog di atas memiliki keinginan untuk mengetahui kejujuran orang lain, tapi ketika dirinya sendiri tidak memiliki sikap jujur, maka orang-orang jujur tidak lagi bisa ia liat, dan tidak nampak baginya. Ada indikasi dalam dialog di atas bahwa laki-laki tersebut sudah semakin susah untuk membedakan antara orang yang jujur dan bohong. Bahkan dirinya sendiri tidak sadar kalau bukan bagian dari orang-orang yang jujur.

Salah satu kitab yang memersoalkan tentang jujur adalah Ihya Ulumiddin. Kitab ini merupakan kitab fenomenal yang memuat banyak sekali hikmah dan moral yang layak dijadikan pedoman. Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) sendiri memasukkannya ke dalam Rubu’ al-Munjiyat (seperempat hal yang dapat menyelamatkan).  Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan kepada surga. Sungguh akan ada seorang laki-laki yang berbuat jujur sehingga ia akan dicatat sebagai orang yang sangat jujur. Sebaliknya, dusta menunjukkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan mengantarkan seseorang ke neraka, sungguh akan ada seorang laki-laki yang pandai berdusta sehingga ia dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di samping jujur menyelamatkan manusia, jujur juga merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh para nabi, Allah SWT sendiri mendokumentasikan sikap jujur ini di dalam firman-Nya. Para Nabi terdahulu beberapa kali disebut bahwa mereka adalah orang yang jujur atau benar ucapannya. Di antaranya adalah Nabi Ibrahim yang disebut sebagai Shiddiq (yang sangat jujur) dalam surah Maryam ayat 41: “Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat jujur lagi seorang Nabi.”

Kemudian Nabi Isma’il yang disebut sebagai Shadiqal Wa’d (yang benar janjinya) dalam surah Maryam ayat 54: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.”

Adapula Nabi Idris yang disebut sebagai Shiddiq (yang sangat jujur) dalam surah Maryam ayat 56: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.”

Jujur adalah sifat terpuji yang selayaknya dimiliki oleh umat Islam. Jujur secara bahasa bisa diartikan sebagai ketulusan dan keikhlasan hati, kebenaran ucapan dan sikap. Dalam kitab yang sama, Imam Abu Hamid al-Ghazali secara khusus membahas tentang hal ini. Tepatnya dalam sub tema yang berjudul fi al-Shidqi wa Fadhilatih wa Haqiqatihi (Jujur, Keutamaan dan Hakikatnya).

Menurut al-Ghazali kata jujur dapat diartikan dalam berbagai makna. Pertama adalah jujur dalam perkataan, jujur dalam niat dan kehendak, jujur di dalam azam (tekad), jujur di dalam menunaikan azam, jujur di dalam perbuatan dan yang terakhir jujur di dalam mengimplementasikan maqamat di dalam agama. Berikut kami paparkan masing-masing dari pengertian jujur di atas.

Pertama, jujur dalam lisan;  jujur dalam lisan atau ucapan berkaitan langsung dengan informasi atau berita yang disampaikan, apakah itu benar atau salah. Baik yang telah berlalu maupun yang akan terjadi. Menurut al-Ghazali kejujuran ini akan semakin lengkap jika seseorang tidak terlalu membesar-besarkan informasi. Karena menurut al-Ghazali, hal itu dekat dengan kedustaan. Dan kedua, memperhatikan makna jujur secara seksama agar tidak bercampur dengan syahwat keduniaan.

Kedua, jujur dalam niat dan kehendak. Jujur dalam hal ini terkait langsung dengan keikhlasan. Tidak ada dorongan sedikitpun kecuali hanya karena Allah. Jika niat dan kehendak seseorang bercampur dengan nafsu maka batal kejujuran niat tersebut. Dan orang  yang niatnya bercampur dengan nafsu bisa dikategorikan sebagai orang yang berdusta. Kejujuran yang kedua ini tercermin dalam hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

فَقَالَ : مَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ : تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَقَرَأْتُ الْقُرْآنَ وَعَمِلْتُهُ فِيكَ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، إِنَّمَا أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلاَنٌ عَالِمٌ ، وَفُلاَنٌ قَارِئٌ ، فَقَدْ قِيلَ ، فَأُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

..kemudian ditanyakan (kepadanya): “Apa yang engkau perbuat sewaktu di dunia?” ia menjawab: “Aku menuntut ilmu dan membaca Alquran serta mengamalkannya di jalan-Mu.” Lalu dijawab, “Bohong! Kamu melakukannya hanya ingin disebut sebagai orang yang alim, yang qari.” Kemudian Allah memerintahkan untuk disungkurkan wajahnya dan dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Hakim)

Ketiga, jujur dalam azam (tekad); sebelum seseorang melakukan sesuatu kadangkala seseorang memiliki tekad terlebih dahulu sebelum mengimplementasikannya. Contohnya adalah jika seseorang mengatakan jika Allah memberiku harta maka aku akan mensedekahkan sekian dari harta tersebut. Kejujuran tekad yang dimaksudkan di sini adalah kesempurnaan dan kekuatan tekad tersebut.  Tekad yang benar atau jujur tidak akan ragu atau goyah sedikitpun.

Keempat, jujur dalam menunaikan azam (tekad); Maksudnya adalah ketika seseorang telah memiliki azam dan ia memiliki peluang untuk melaksanakan azamnya. Ketika ia tidak menunaikan apa yang menjadi tekadnya maka itu bisa dikatakan sebagai kebohongan atau ketidak jujuran.

Kelima, jujur dalam perbuatan; adalah usaha seseorang untuk menampilkan perbuatan lahiriah agar sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Berbeda dengan riya’, riya’ berati perbuatan baik secara lahir tidak sama dengan niat buruk di dalam hati. Seseorang yang antara perbuatan lahir dan niatnya berbeda tanpa adanya maksud yang disengaja. menurut al-Ghazali hanya dikatakan sebagai orang yang tidak jujur dalam perbuatan.

Keenam, jujur dalam mengimplementasikan maqamat di dalam agama seperti jujur di dalam khauf (takut kepada Allah), raja’ (berharap kepada Allah), zuhud dan lain sebagainya. Ini adalah tingkatan jujur yang paling tinggi. Seseorang dapat dikatakan jujur dalam tahap ini ketika ia telah mencapai hakikat yang dimaksud dalam khauf, raja’ atau zuhud yang dikehendaki. Tingkatan jujur ada dalam ajaran sufi yang ada dalam Islam. (sumber:bincangsyariah) 

 

Latest Articles

Comments