Sejarah Penamaan Bulan “Shafar”

Alfatih-media.com-Bulan kedua dalam penanggalan Hijriyah disebut dengan Shafar (shad-fa-ra). Pada artikel kali ini saya akan coba mengulas apa makna kata shafar dan apa yang melatarbelakangi penamaan bulan tersebut.

Ada banyak makna sebenarnya dari kata ini. Shafar bisa berarti kelaparan atau kesusahan atau penyakit yang menimpa seseorang sehingga membuat kulitnya menjadi kuning. Ia juga dimaknai sebagai cacing yang hidup dalam tubuh manusia, ketika mereka terkena kelaparan. Mengutip kamus daring Almaany.com , ia juga bisa berarti bisikan halus bahkan saya pada tingkatan hanya embusan angin saja yang terdengar. Ia juga bisa berarti warna kuning atau emas (adz-dzahab). Kata shafar akhirnya juga seakar kata dengan kata shifr yang berarti nol atau kosong.

Dari beberapa penjelasan tentang makna kata shafar diatas, kita dapat menemukan sebuah titik temu bahwa kata shafar seringkali dikaitkan dengan penyakit atau sesuatu yang buruk dan tidak berharga (seperti adanya makna kosong dari akar kata shafara). Meskipun, kesimpulan ini juga tidak mutlak. Karena ada contoh makna lain seperti kata al-shufru/al-shafru itu artinya juga kuning keemasan atau emas itu sendiri.

Makna ini rupanya memiliki pendasaran dari aspek sejarah penamaan bulan Shafar sendiri. Mengutip laman berbahasa Arab tentang shafar di Wikipedia, ada beberapa penyebab mengapa bulan ini disebut shafar. Ada yang berpendapat karena di bulan ini orang-orang Mekkah pernah pergi meninggalkan kota tersebut sehingga kota itu kosong dari penduduk (li ishfaari makkata min ahlihaa). Ada juga yang mengartikan kalau suku-suku di bulan tersebut berperang sampai musuh yang kalah diambil seluruh barang-barangnya sehingga mereka tidak memiliki apapun. Jika dilihat dari kedua alasan tersebut, ini baru cocok dengan salah satu makna kebahasaan kata shafar (atau shifr) yang berarti kosong.

Bagaimana dengan maknanya yang lain, yaitu penyakit yang membuat kulit menguning (atau juga dimaknai penyakit secara umum). Tentang maknanya sebagai penyakit, kita justru menemukannya dalam sebuah teks hadis Nabi saw. Hadis tersebut di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Ra., Nabi Saw. bersabda:

لا عدوى، ولا صفر، ولا هامة”، فقال أعرابي: يا رسول الله، فما بال الإبل تكون في الرمل كأنها الظباء، فيجيء البعير الأجرب فيدخل بينها فيُجربُها كلها ؟! قال: “فمن أعدى الأول ؟

“Tidak ada penyakit menular, cacingan, atau menentukan nasib (menggunakan burung)! Seorang penduduk arab Badui (kampong) berkat: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta yang dapat berlari kencang (karena sehat) seolah ia seperti kijang kemudian ia bercampur dengan unta lain yang terkena penyakit ajrab (sejenis kudis/scabies) lalu unta itu menularkannya ?” Rasulullah saw. menjawab: “Maka, siapa yang pertama menakdirkan penyakit? (tentunya Allah !)” 

Hadis ini secara umum sebenarnya bermakna penegasan dari Nabi saw. tentang ketauhidan. Bahwa, segala sesuatu itu sebenarnya tidak disebabkan oleh makhluk tapi apapun yang masuk kategori ciptaan Tuhan. Penyakit, sakit, ataupun nasib semauanya adalah bagian dari takdir Allah Swt. Tentang bagaimana makna hadis ini serta ulasannya akan kami coba ulas pada tulisan lain. Ibn Rajab al-Hanbali, dalam bukunya Lathaif al-Ma’arif memasukkan ulasan tentang hadis ini secara panjang lebar justru dalam bab wazhifah syahr shafar (amalan di bulan Shafar).

Sebelum diubah menjadi Shafar, bulan tersebut awalnya bernama Naajir. Tidak kami temukan keterangan mengapa naajir berubah menjadi shafar. Bulan tersebut dinamai dengan naajir karena teriknya panas di bulan tersebut dan unta minum dengan sangat banyak. (sumber:bincangsyariah)

 

Latest Articles

Comments