Sejarah Awal Rumah Sakit Islam; Berasal dari Kemajuan Persia

Alfatih-media.com-Umat Islam telah mengenal cikal bakal rumah sakit sejak masa Nabi Muhammad Saw. Pada saat itu, tepatnya saat perang khandaq disediakan sebuah kamp khusus berisi para tabib dan perawat. Fungsinya tiada lain adalah untuk mengobati setiap luka yang diderita pasien pasca pertempuran.

Saat perang Khandaq, Sa’ad bin Mu’adz terluka akibat dipanah oleh musuh. Melihat hal tersebut, Rasulullah Saw bergegas memintanya untuk pergi menuju sebuah posko kesehatan yang terletak di sebuah masjid. Seorang perawat bernama Rufaidah telah bersiap di sana untuk mengobati setiap pasien yang datang. Para sejarawan menilai kisah ini mengawali perjalan sejarah rumah sakit Islam.

Adapun orang yang pertama kali mendirikan rumah sakit dalam Islam adalah Khalifah Walid bin Abdul Malik pada tahun 88 H. Uniknya, penamaan rumah sakit pada masa itu tidak menggunakan bahasa Arab (Musytasyfa) melainkan bahasa Persia (Bimarastan). Sementara istilah Musytasyfa baru diperkenalkan di Kairo Mesir saat pendirian Musytasyfa Abi Za’bal tahun 1825 M. Penggunaan bahasa Persia ini mungkin sebagai bentuk apresiasi terhadap sumbangsih besar yang telah mereka berikan.

Bimarastan dalam bahasa Persia tediri dari dua kalimat. Bimar berarti penyakit dan Stan berarti tempat atau rumah. Kemudian disingkat dan terciptalah istilah Bimarastan artinya tempat orang sakit. Dulu, tempat ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat pengobatan berbagai macam penyakit namun tidak jarang juga digunakan sebagai madrasah tempat belajar bagi para calon dokter.

Dalam sejarahnya Bimarastan terbagi ke dalam dua kategori yaitu Bimarastan Tsabit (tetap) dan Bimarastan Mahmul (dibawa/tidak tetap). Seperti namanya, jenis yang pertama berupa bangunan tetap, tidak berpindah – pindah. Seperti rumah sakit yang ada sekarang, hanya saja berbeda dalam segi operasionalnya. Jenis pertama banyak diaplikasikan umat Islam era klasik terutama di kota – kota besar seperti Kairo, Baghdad dan Damaskus.

Sementara bimarastan mahmul, tidak menetap di satu titik. Artinya, tenaga medis sambil membawa peralatan medis terus berpindah – pindah menyesuaikan situasi dan kondisi. Dulu model ini sering diterapkan dalam peperangan. Dimana seorang  tenaga medis bergerilya mencari temannya yang terluka atau membuat posko darurat seperti yang pernah Rasulullah lakukan. Sekarang metode ini berkembang dan dikenal sebagai ambulans.

Konon, Bimarastan mahmul diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh umat Islam. Sebagaimana banyak khalifah dan raja Muslim menggunakan cara ini khususnya untuk memasok tenaga kesehatan ke area yang belum terjamah rumah sakit tetap. Selain itu, jika ada keperluan mendesak seperti menjenguk tawanan atau menangani wabah maka para tim medis ini lah yang menjadi garda terdepan.

Sejumlah dokter kenamaan Islam pernah ditunjuk untuk bertugas di bimarastan mahmul. Diantaranya, Tsannan bin Tsabit, Abu Al-Hakam Al-Maghribi dan Abu Al-Wafa Yahya. Tsannan bin Tsabit bekerja di sebuah rumah sakit di Baghdad di masa perdana menteri Ali bin Isa bin Jarrah. (sumber:BincangSyariah.com)

Latest Articles

Comments