Runtuhan Nyawa Nayla

Oleh: Muhammad Husein Heikal

Nayla tak pernah tahu ia punya ayah dan ibu. Ia tak pernah tahu dan tak ingin tahu bagaimana cara dirinya bisa terlahir ke dunia yang menurutnya kejam ini. Nayla tak pernah sempat dan tak ingin menyempatkan untuk memikirkan apakah ia punya ayah atau ibu. Ia hanya tahu, setiap matahari belum menyenter bumi, matanya sudah harus awas dan jari-jari mungilnya telah bersiap dipelatuk. Bila tidak dengan cara demikian, barangkali tubuhnya telah membusuk disimbahi debu dan amis darah, sejak sebelas hari lalu.

“Ia belum mati. Lihatlah hidungnya masih bernafas!”

“Cepat geser batu itu, cepat! Ia masih bernyawa!”

Qabbani, pemuda bertangan satu dengan sekuat daya menggeser batu yang menghimpit kaki gadis kecil itu. Qabbani sendiri baru saja kehilangan tangan kirinya pada tragedi mengerikan semalam. Meski hanya sepercik, zat racun dalam mortir itu cukup untuk mengharuskan ia memotong tangannya sendiri, bila tak hendak zat itu segera menjalari seluruh aliran darahnya.

“Ia masih hidup, cepat bawa ia ke tenda! Ia perlu ditolong. Lekas, gegaslah!”

Itu suara Nizar yang masih memiliki bagian tubuh lengkap. Namun luka dalam jiwanya telah menganga. Ia kehilangan semuanya. Terutama orang-orang yang dicintainya. Ah, tak hanya dia sebenarnya! Semua, ya semua manusia yang kini teronggok murung di tenda-tenda itu ialah orang-orang dengan jiwa yang terluka. Jiwa yang hampa. Perang, tak lain jadi penyebabnya. Perang dan kekejaman oleh kaum mereka sendiri.

Gadis yang tengah digotong Nizar ke arah tenda itulah Nayla. Padahal,  ketika itu Nayla merasa ia sudah terbaring disamping ajal. Ia terhimpit oleh runtuhan batu-batu yang besar. Tubuhnya tidak merasakan apapun saat ia digotong, diselamatkan oleh beberapa manusia yang tersisa itu.

***

Pagi masih terlalu prematur untuk melahirkan mentari. Gelap masih bergelayut, sama seperti kantuk yang sebenarnya masih menggantungi mata kaum itu. Nayla mengerjap-ngerjapkan matanya. Sayup-sayup ia mendengar suara azan. “Allahuakbar, allahuakbaaar..”

Ia terkesiap. “Azan? Siapakah itu yang azan?”

Sudah sepuluh hari ia tak sekalipun mendengar azan. Nayla segera beranjak bangkit dari tidurnya. Batu yang menjadi bantalnya setiap malam lembab oleh tubuhnya. Beberapa rumput kering dan pasir berlengketan di bajunya yang lusuh. Ia melihat para manusia yang mendiami tenda-tenda itu bergerak bangkit.

Walau keadaan masih gelap, dari kejauhan ia dapat melihat bahwa Qabbani-lah yang menyerukan azan di atas sebuah batu pipih yang cukup tinggi. “Asyhaduallaillahaillalaaahh…” sambungnya dengan khusyu, sekaligus menyayat.

Nayla bergegas menyapukan debu ke tubuhnya. Ia bersuci dengan debu itu.

“Sesudah salat subuh ini, kita semua akan pergi! Sebab menurut informasi yang kami dapatkan, tempat ini juga akan dibumihanguskan siang nanti. Kelompok laknat itu telah menguasai kota kita. Mereka telah berpesta arak disana, dan bakal berpesta darah disini, bila kita tak segera pergi. Naudzubillah, tsumma naudzubillah.”

Itu suara Nizar. Ia tersedan. Menahan rasa perih yang melekat dalam di jiwanya.

Nayla mendengar suara Nizar dengan jelas. Ia amat menyayangi pemuda itu, dan Qabbani tentu saja. Kedua pemuda itu adalah penyelamat nyawanya. Mereka berdua juga sangat menyayangi Nayla.

***

“Aku tidak punya siapapun. Kemana aku akan pergi?”

Mata kedua manusia itu terlihat hampir putus asa, tak jauh beda dengan mata gadis kecil yang bertanya didepan mereka. Semua arah sama saja. Tak terlihat sinar harapan disana.

Mereka tercenung. Saat itu perlahan-lahan mereka mendengar koak-koak gagak. Mereka memandang ke langit, dan tidak melihat apa-apa. Namun ketika itulah Nizar merasakan terbakar di dada kirinya. Ia tertembak. Seketika seluruh orang panik. Berhamburan kesana-kemari.

Qabbani berusaha melindungi Nayla, seraya menangis lirih menatap sahabatnya yang tewas di depan matanya. Qabbani tak lagi merasakan darah yang mengaliri punggungnya. Peluru-peluru yang dilepaskan kaum keji telah bersarang di tubuhnya.

Mereka tak bisa melawan. Serangan itu begitu mendadak itu. Tak ada yang bakal menyadari bahwa mereka akan diserang pagi itu. Tak satu pun dari mereka selamat. Tubuh Nayla terkapar mengenaskan, dengan darah yang bersimbah. Tak jauh beda dengan yang lainnya.

Matahari mulai naik, menyinari tubuh mayat-mayat itu. Darah-darah yang tumpah memerah. Sementara orang-orang keji yang menembaki mereka bergegas pergi, dengan penuh tawa durjana.

Namun...lihatlah!

Lihatlah tubuh mereka. Bukan, itu bukan cahaya dari matahari. Lihatlah, perlahan-lahan, tubuh-tubuh mereka menjadi bersinar. Tubuh mereka jadi cahaya. Tubuh mereka bercahaya. Cahaya begitu indah. Cahaya dari surga menyambut mereka...

Medan, 2018-2019

*Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 1997. Menyelesaikan studi ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Media Indonesia, Azahar Revista Poetica dan terangkum dalam beberapa buku antologi, termutakhir Cinta Pertama (Cerpen Pemenang Firma Harris & YBWS, 2020).

Latest Articles

Comments