Ratusan Warga Tunisia Protes Perampasan Kekuasaan Presiden Saied

Alfatih-media.com-Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di ibukota Tunisia untuk memprotes langkah Presiden Kais Saied untuk merebut kekuasaan pemerintahan.

Demonstran berkumpul pada hari Minggu (26/9/2021) di pusat kota Tunis di sepanjang Habib Bourguiba Avenue menuntut pengunduran diri Saied, seraya meneriakkan, “Rakyat menginginkan kudeta itu jatuh.”

Mengesampingkan sebagian besar Konstitusi 2014, Saied memberi dirinya kekuatan untuk memerintah dengan dekrit pada hari Rabu (22/9/2021), dua bulan setelah memecat perdana menteri, menangguhkan parlemen, dan mengambil alih otoritas eksekutif.

Sekitar 2.000 orang menghadiri rapat umum di depan National Theatre, yang secara historis merupakan rumah bagi semua demonstrasi besar di Tunis. “Saya benar-benar marah,” kata Soumaya Werhani, mahasiswa berusia 30 tahun di tengah hiruk pikuk kerumunan dan panas terik. “Kami berdemonstrasi untuk mengecam keputusan presiden yang menghentikan konstitusi dan kudetanya terhadap lembaga negara.”

Sekitar 20 kelompok HAM global dan Tunisia mengeluarkan pernyataan pada hari Sabtu (25/9/2021) mengutuk langkah itu sebagai “perampasan kekuasaan”.

Para penandatangan berpendapat bahwa dekrit tersebut, yang memperkuat kekuasaan kantor presiden dengan mengorbankan kekuasaan perdana menteri dan parlemen, adalah secara implisit mencabut tatanan konstitusional dalam sebuah langkah pertama menuju otoritarianisme.

Kembali ke Diktator

Dalam demonstrasi itu, Belgassen Bounara melambaikan salinan Konstitusi 2014 yang Saied rencanakan untuk ditulis ulang. Dia berasal dari Tataouine, di selatan Tunisia, wilayah miskin yang dilupakan oleh negara.

Bounara mengatakan dia datang untuk berdemonstrasi karena “Saied ingin menyingkirkan konstitusi dan demokrasi kita. Dia membawa kita kembali ke kediktatoran,” kata Bounara. Protes hari Minggu (26/9/2021) adalah yang kedua sejak Saied membubarkan pemerintah dan menangguhkan parlemen pada 25 Juli.

Namun, langkah Saied memiliki konsensus sebagian besar penduduk, yang melihat tindakannya diperlukan untuk mengatasi krisis kelumpuhan politik, stagnasi ekonomi, dan respons yang buruk terhadap pandemi virus corona. Di sisi lain jalan, sekelompok kecil pendukung Saied yang vokal meneriakkan, “Kais Saied baik.”

“Dekrit itu tidak penting, rakyat Tunisia menginginkan presiden yang bersih dan jujur ??yang tidak mencuri dari rakyat,” kata seniman Mohamed Khaled. “Ini membuat stres. Orang-orang hanya ingin mengisi tas belanja mereka dan makan.”

Cherif El Kadhi, seorang mantan pejabat parlemen, mengatakan, bahwa demonstrasi adalah tanda bahwa tindakan Saied dibenci sebanyak yang diterima. “Protes ini saya pikir akan terus mendapatkan momentum tergantung pada situasi ekonomi,” katanya.

Cukup jelas rakyat Tunisia muak dengan elit politik 10 tahun setelah revolusi, itulah sebabnya mereka menaruh kepercayaan mereka pada Saied, seorang mantan profesor hukum, tambahnya. Namun, ketidakpuasan dapat menyebabkan lebih banyak protes dalam beberapa minggu dan bulan mendatang.

Partai politik terbesar Tunisia, Ennahdha Islamis moderat, mengecam langkah Saied sebagai “kudeta mencolok terhadap legitimasi demokrasi”, dan menyerukan rakyat untuk bersatu dan membela demokrasi dalam “perjuangan damai yang tak kenal lelah”.

Ennahdha sendiri bergulat dengan perbedaan pendapat internal setelah 113 anggota senior partai mengumumkan pengunduran diri mereka pada hari Sabtu (25/9/2021). Mereka menyalahkan ketua partai, Rachid Ghannouchi, dan rombongannya karena gagal membentuk front persatuan untuk menentang Saied dan menghadapi krisis politik negara. (berbagai sumber)

Latest Articles

Comments