Rahasia Dua Komandan Yarmuk

Oleh: Nevatuhella

Perang Yarmuk adalah perang yang terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, yang diawali semasa akhir kehidupan khalifah Abu Bakar. Pada saat perang berkobar, di tahun 636 Masehi, bertepatan empat tahun wafatnya Rasullullah Muhammad Saw, kabar dukacita disampaikan kepada para prajurit Islam, atas berpulangnya Abu Bakar.

Perang ini bertujuan untuk membebaskan Syria (sekarang Suriah) dari cengkeraman tangan kebengisan Romawi, yang selama ratusan tahun bergantian dengan Persia menzalimi rakyat negeri ini. Tentara Muslim berhadapan dengan ribuan tentara Romawi yang bersenjata lengkap. Jumlah perbandingan ini sangat variatif. Dalam Jurnal Artefak, Maret 2014, ditulis oleh Yat Rospia Brata dan Rina Dwi Gustina, menyebutkan korban di pihak Muslim 4000 orang, sementara pihak Romawi 70.000 orang.

Khalid bin Walid menjadi komandan yang menebas ratusan batang leher tentara Romawi. Kala itu dengan perbandingan jumlah pasukan yang tak seimbang ini, Khalid berseru membangkitkan semangat pasukannya, “Demi Allah yang diriku di tangan-Nya. Tak ada lagi kesabaran dan ketabahan yang tinggal pada orang-orang Romawi, kecuali apa yang kamu lihat! Sungguh aku mengharap Allah memberikan kesempatan kepada kalian untuk menebas batang-batang leher mereka.”

Khalid bin Walid adalah sahabat Rasul yang keislamannya terjadi sesudah Perang Uhud yang mengorbankan banyak tentara Muslim, termasuk paman Hamzah “Singa Padang Pasir” yang menjadi pahlawan gemerlap di Perang Badar. Cerita tenatang Keislaman Khalid adalah begini: Dari Madinah, dengan mengenderai unta menuju Makkah, Khalid telah memutuskan untuk menjadi pengikut Muhammad Saw.

Ia berkawan dalam perjalanan ini dengan Ustman bin Thalhah, yang sama juga telah berikrar menjadi pengikut Muhammad Saw. Begitu tiba di Makkah, Khalid dan Ustman bertemu dengan Amr bin Ash “Pahlawan Pembebasan Mesir” yang rupanya juga sedang menuju kediaman Rasul, dengan niat sama untuk menjadi pengikut Muhammad. Sebagaimana diceritakan bahwa Amr bin Ash sendiri telah mendengar cerita dari seorang Raja Habsyi bernama Neguss tentang Muhammad yang merupakan orang jujur dan dipercaya yang telah menerima wahyu dari Tuhan yang Maha Esa.

Khalid bin Walid yang memang semasa Jahiliah merupakan seorang pemberani dan pemberontak, demikian pula sesudahnya. Keberanian dan keluarbiasaan Khalid telah membuat kagum para panglima dan komandan pasukan Romawi. Salah seorangnya, Gregorius Theodore, mengundang Khalid menemuinya karena alasan penasarannya atas pedang yang begitu gemerincing ketika berada di tangan Khalid. Gregorius bertanya, “Ya, Tuan Khalid, jujurlah Anda padaku. Jangan berbohong, sebab orang merdeka tak pernah berbohong! Apakah Allah telah menurunkan sebilah pedang kepada nabi Anda dari langit, lalu pedang itu diberikannya kepada Anda, hingga setiap Anda hunuskan terhadap siapapun, pedang tersebut pasti membinasakannya?”

Khalid menjawab, “Oh, tidak!”

Georgius bertanya kembali, “Lalu mengapa Anda dinamai Pedang Allah?”

Jawab Khalid, “Sesungguhnya Allah telah mengutus rasulnya kepada kami. Sebagian kami ada yang membenarkannya, dan sebagian pula mendustakannya, sehingga akhirnya Allah menjadikan hati kami menerima Islam, dan memberi petunjuk kepada kami melalui rasulnya, lalu kami berjanji setia kepadanya. Kemudian rasul mendoakanku, dan beliau berkata kepadaku, bahwa kau adalah Pedang Allah diantara sekian banyak pedang-pedangnya.”

Saat itu juga Gregorius masuk Islam, dan lanjut berperang di pihak Muslim. Muallafnya komandan ini yang kemudian menjadi salah satu alasan lemahnya semangat pasukan Romawi.

Arkian, saat-saat mana peperangan akan dimenangkan tentara Muslim dalam Perang Yarmuk, yang kian menyusutkan semangat tentara Romawi, sebuah kejutan datang dari Khalifah Umar bin Khattab. Seorang pesuruh diutus untuk memberi surat kepada Khalid. Isi surat memberhentikan Khalid dari pimpinan pasukan dan mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai gantinya. Sekaligus adanya berita wafatnya Abu Bakar. Khalid merahasiakan surat tersebut. Ia menyuruh sang pembawa surat untuk berdiam diri, merahasiakan isi surat. Sebab perang sedang berkecamuk.

Setelah kemenangan dicapai, kedua prajurit ataupun panglima perang yang masih bergelimang darah, yakni Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarrah saling berpelukan. Khalid dengan besar hati membisikan isi surat kepada sahabatnya ini. Abu Jarrah memeluk Khalid dengan berlinang air mata. Sementara, ia sendiri menyimpan surat pengangkatannya, yang tentunya ia rahasiakan juga. Keduanya rupanya merasa memenangkan perang lebih penting daripada jabatan apapun yang akan ditingalkan ataupun diraih.

Kaisar Romawi yang sedang berkuasa di Suriah dan sekitarnya, yaitu Heraclitus dengan terpaksa membalik badan keluar dari Suriah sesudah kemenangan di pihak kaum Muslimin. 

“Dulu engkau temanku, wahai Suriah, dengan Damaskus yang hijau dan subur. Kini kau menjadi musuhku!” serapahnya. Lembah Yordania, dimana sungai Yarmuk mengalir, saksi bagi kemenangan kaum Muslimin yang secara khusus dapat dikatakan sebagai perang pertama antara pasukan Islam dengan Kristen di luar Jazirah Arab.

Demikianlah, begitu besar keikhlasan kedua pahlawan syahid Islam itu. Sama saja bagi keduanya, apakah menjadi panglima atau prajurit. Kedua status ini masing-masing sama, membawa kewajiban yang harus ditunaikan terhadap Allah yang diimani dan kepada rasul dimana mereka telah berbai’at terhadap agama yang dipeluknya, dimana ia bernaung dibawah panji-panjinya.

Sewaktu Khalid bin Walid meninggal dunia, Umar menangis sedemikian rupa. Ia memang sudah berniat untuk mengangkat kembali Khalid sebagai Panglima Perang Muslim. Alasan sebelumnya menggantikan Khalid dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, karena begitu kuatnya kefanatikan para prajurit terhadapnya. Gelar “Pedang Allah” yang disematkan padanya membuat banyak prajurit bergantung sangat kepada Khalid.

Abu Ubaidah bin Jarrah sendiri adalah sahabat nabi. Sepuluh dari para orang kepercayaan nabi yang dijamin masuk surga. Dalam Al-Quran kesepuluh para penghuni surga yang telah dijamin rasul ini disebut sebagai Assabiqunaal Awwalun. Dalam perang Badar, Abu Jarrah membunuh sendiri ayahandanya Muhammad bin Jarrah. Rasul menyebut bahwasanya yang dibunuh oleh Abu Ubaidah bin Jarrah pada hakikatnya adalah kemusyrikannya.

Atas hal ini turunlah ayat Al-Quran suarat Mujadilah ayat 22, yang terjemahannya sebagai berikut, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasulnya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.

Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkannya mereka kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap limpahan rahmat-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” 

 

*Penulis adalah sastrawan, buku religinya Perjuangan Menuju Langit (2016) dan Agama Tumbuh dan Berkembang dalam Diri (akan terbit)

Latest Articles

Comments