Prinsip-prinsip Dakwah Rasulullah

Alfatih-media.com-Di dalam Islam, dakwah merupakan cara untuk menyerukan kebaikan dan nasihat kepada sesama. Dakwah hanyalah wasilah dan bukan tujuan, untuk selalu berpegang pada ajaran dan nilai Islam. Dakwah harus dilakukan dengan cara yang elegan dan tidak memaksa. Anjuran untuk berdakwah ini merupakan salah peran penting risalah Nabi Muhammad saw.

 

Rasulullah saw berdakwah di tengah masyarakat jahiliyah Arab. Masyarakat yang masih butah huruf, tidak menghargai keilmuan dan sebagainya. Sifat ekslusifitas agama kadang juga menjadi tantangan dan benalu dalam Islam. Pada fakta sejarah, Nabi tidak pernah memaksakan ajaran Islam kepada orang lain, bahkan sekalipun itu pihak keluarga dan saudaranya.

Kata dakwah sendiri merupakan serapan yang berasal dari bahasa Arab. Ia derivasi dari kata da’a-yad’u yang berarti “mengajak,” dan “menyerukan”. Menurut para ahli linguistik Arab, kata dakwah berarti sebagai tuntunan dan menjadi uswah bagi para pengikutnya. Peran uswah ini diterapkan oleh Nabi Muhammad saw ketika berdialog dan bermusyawarah dengan para sahabatnya.

Hal ini tercatat dalam sejarah Islam, sebagaiamana dicatata dalam sirah Ibnu Hisyam, bagaimana sejumlah orang-orang Nasrani berdialog dengan kaum Muslim persoalan ketuhanan Isa as. Kemudian, beberapa sahabat Nabi membantah dan memaksakan agar orang-orang Nasrani, kala itu menganut agama Islam.  Karena peristiwa tersebut, Allah Swt menurunkan ayat Al-Quran

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh telah tampak jelas kebenaran dan kebatilan.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Berdasarkan ayat di atas, kita bisa  memahami bahwa pemaksaan terhadap ajaran Islam hanya akan menyebabkan orang lain antipati terhadap Islam. karena pemaksaan merupakan cara yang terburuk untuk mengajak orang lain dalam Islam.

Dakwah tentu bukan saja persoalan akidah-tauhid, dan fikih. akan tetapi dakwah juga harus menyasar kepada berbagai ketidakadilan dan ketimpangan sosial di masyarakat. Karenanya beragama Islam tidak hanya terbatas pada aspek pengamalan ajaran agama semata bagi umatnya, akan tetapi juga harus bersikap adil kepada siapapun, bahkan termasuk kepada penganut agama lain.

Salah satu dakwah kekinian di Indonesia adalah mengajak masyarakat untuk membenahi diri dan memperkuatkan ikatan solidaritas sesama anak bangsa. Ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Khaldun, ulama dan sejarawan Muslim klasik, bahwa ikatan dan solidaritas sosial akan memperkuat suatu bangsa dan agama.

Ibarat sebuah pohon, masyarakat dengan beragam kultur adalah ranting-dedaunan. Akarnya adalah bahasa pemersatu tanpa adanya sekat dan batas-batas. Untuk memperkuatkan akar ini, dakwah menjadi sarana yang tepat untuk memperkuat solidaritas.

Ikatan solidaritas itu sendiri membutuhkan prinsip-prinsip utama. Setidaknya ada tiga prinsip. Pertama yaitu saling memahami (al-tafahum). Prinsip ini dilandasi atas kepercayaan satu sama lain, memahami karakter-karakter yang beragam. Kedua, saling membebani (al-tadhamun). Yaitu saling memberikan tanggung jawab antarkelompok sosial. Ketiga, (al-ta’awun) yaitu bentuk sikap dan perilaku yang mau disusahi dan saling membantu.  Keempat saling mentolerir (al-tasamuh). Dari sini akan terciptanya hubungan simbiosis mutualisme antara lapisan masyarakat.

Dakwah pun mengakui adanya perbedaan pandangan dalam masyarakat. Sebagaimana dalam Islam, yang dilarang adalah berpecah belah, bukan perbedaan. Aspek kemanusiaan seperti realitas sosial, perbedaan sudut pandang dan menjadikan kehidupan di dunia lebih baik.

Cara bergama yang sering melibatkan dan memfokuskan pada bentuk, akan melupakan substansi. Pandangan yang picik hanya akan menutup kebenaran sejati yang bisa datang dari mana saja. Sebagaimana hadis Nabi, al-Hikmatu Dhallatul Mu’minin, Faman Wajadaha fahuwa Ahaqqu biha. (Hikmah/kebenaran adalah barang langka bagi orang beriman. Siapa yang menemukannya, maka dia adalah orang yang berhak mendapatkannya. HR. Ibnu Majah.)

Firman Allah Swt,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan serukanlah kepada jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan pencerahan yang baik. Dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik” (QS. An-Nahl: 125).

Dari ayat di atas, para ulama memahami bahwa Islam didakwahkan dengan jalan ketuhanan dan spiritual serta tidak mengandung kebencian, gusar dan kasar (non-violent). Mengajak seseorang untuk beragama harus didasarkan atas prinsip kebijaksanaan dan hikmah. Dakwah tidak dilakukan dengan jalan-jalan kekerasan. Justru dakwah seyogyanya dilakukan dengan cara damai dan penuh kebahagiaan. Bukan dengan ucapan kasar, dan kata-kata kasar.  Kita bisa belajar dari sikap Nabi ketika berhadapan dengan orang agama non-Muslim.

Saat itu, Nabi sedang mengajarkan para sahabat, di mana ada beberapa orang yang sedang mengangkat jenazah dan hendak menguburkan jenazah seorang Yahudi. Lantas Nabi pun berhenti, dan berdiri. Lalu, para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah kenapa kamu berdiri? Bukankah dia seorang Yahudi. Nabi menjawab, alaisat nafsan, “bukankah ia manusia juga.”

Dari kisah tersebut, kita bisa memahami bahwa jalan agama yang dijalankan oleh Nabi Muhammad saw berangkat dari paham kemanusiaan dan memanusiakan manusia. Tidak menyalahkan kelompok lain. Jika Nabi Muhammad saw saja berlaku demikian, lantas kita masih mengaku lebih Islam daripada Nabi Muhammad? (sumber:BincangSyariah.Com)

 

Latest Articles

Comments