Pesan Kemerdekaan dalam Persepektif Islam

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Alfatih-media.com-Tak lama lagi, tepatnya pada 17 Agustus 2019, kita akan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-74 tahun. Menurut catatan sejarah Indonesia, pada hari itu, akan mengingatkan kita pada peristiwa bahwa Indonesia merdeka dari segala bentuk penjajahan. Namun, cukup ironi jika hari yang memiliki makna luar biasa itu hanya dilalui dengan sekedar mengenang, memperingati dan menghiasinya dengan berbagai kegiatan seremonial saja, yang terkesan melupakan akan makna dan tujuan kemerdekaan sesungguhnya.

Sejatinya, sebagai rakyat Indonesia, kita harus melihat bagaimana ‘rekaman’ perjalanan kemerdekaan ini secara utuh, bukan hanya hasil akhirnya. Tujuannya, agar kita bisa menuruskan cita-cita para pejuang bangsa kita. Mereka berjuang bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk generasi selanjutnya yang akan menjadi pemegang amanah negeri ini. Karena itu, semangat kepahlawanan mereka, seharusnya meresap dalam diri kita sejak mendengar, membaca dan mengetauhi sejarah kemerdekaan bangsa ini.

Jika kita membaca kembali sejarah Indonesia merdeka, ada tiga pesan yang dititipkan para pejuang untuk generasi setelah mereka. Ketiga pesan itu memiliki nilai untuk menjadi orang sukses, apapun profesi yang dijalani dan ditekuni. Karena, pesan-pesan tersebut telah diuji mampu membawa Indonesia sukses meraih kemerdekaan, tanpa ada pertumpahan darah sedikit pun.

Pertama, selalu berpikir positif. Di dalam literatur sejarah diterangkan, bahwa pengumandangan proklamasi Indonesia, ternyata, didahului oleh perdebatan ‘hebat’ antara golongan muda dengan golongan tua. Tujuannya sama yaitu, menginginkan secepatnya dikumandangkan proklamasi kemerdekaan. Hanya saja, cara berfikir yang membedakan. Kaum tua menginginkan proklamasi terjadi tanpa ada pertumpahan darah, sedangkan kaum muda menginginkan proklamasi secepatnya, sekalipun harus terjadi pertumpahan darah.

Di dalam al-Qur’an, Allah SWT. telah mengingatkan bahwa tujuan kita diciptakan di dunia hanya menjadi khalifah, yang tugasnya senantiasa melakukan perbuatan yang paling baik. “Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya. Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Mulk [67]: 2).

Ayat ini cukup jelas menuntun kita senantiasa berpikiran positif, karena memang sudah takdir bahwa tugas kita di bumi ini untuk selalu berbuat yang lebih baik. Bahkan, Rasulullah SAW menganjurkan agar hidup kita pada hari ini senantiasa lebih baik dari kemarin dan menyongsong hari esok yang lebih baik dari hari ini. Tak pelak lagi, orang yang berpikiran positif yang dapat melakukan perbuatan yang kian hari kian baik. 

Oleh karena itu, apa pun status kita sangat dituntut untuk selalu berpikit positif yang dapat melahirkan perbuatan yang baik. Jika kita seorang pelajar, kita harus membuktikan bagaimana pelajaran yang diberikan hari ini harus benar-benar bermanfaat untuk kita. Jika kita seorang pengusaha, maka kita harus berpikir bagaimana cara berdagang kita hari ini lebih baik dari kemarin. Jika kita seorang leader (pimpinan) kita sangat dituntut untuk selalu bekerjasama dengan bawahan, agar perusahaan yang dibina makin bagus.

Kedua, sabar dan syukur. Sifat sabar dan syukur adalah pondasi utama kemerdekaan Indonesia. Tepatnya, saat kaum muda memaksa Soekarno untuk melakukan revolusi, ia dengan santai menyatakan bahwa ada hari yang lebih tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan. Ia sengaja memilih 17 Agustus sebagai hari untuk memproklamasikan Indonesia, karena terinspirasi dengan tanggal turunnya al-Qur’an. Karena saat itu, seluruh umat Islam sedang menjalankan puasa Ramadhan. Selain itu, tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan jatuh pada hari Jumat. Sehingga, Soekarno berpikiran bahwa inilah saat yang tepat. Ia sabar dengan tidak menuruti keinginan kaum muda untuk segera mengumandangkan proklamasi, dan bersyukur karena hari yang dipilihnya sebagai hari proklamator sesuai dengan hari yang istimewa untuk umat Islam.

Maka, pesan yang diambil dari keputusan Soekarno, kita harus bersabar dan bersyukur dalam menentukan pilihan. Karena hidup memang pilihan. Jika kita ingin sukses, maka kita harus bisa melihat kesempatan yang ada. Bukankah dalam menemukan kesempatan dibutuhkan sabar dan syukur? Apapun status kita, sangat diharuskan mampu melihat kesempatan yang ada.

Ketiga, jangan sombong. Dalam sejarah Indonesia dimaktubkan, Soekarno tidak mau membaca naskah proklamasi jika tidak didampingi oleh M. Hatta. Dapat dipahami, Soekarno ingin menunjukkan kepada masyarakat Indonesia saat itu bahwa kemerdekaan Indonesia bukan di tangan satu orang, tapi ditangan bersama. Padahal, jika ia ingin memproklamasikan Indonesia dengan sendiri kemungkinan besar tidak ada seorang pun yang menyalahkan.

Sikap Soekarno seperti ini layak dijadikan teladan. Teladan karena meyakini bahwa hidup ini akan indah jika ada kebersamaan. Kebersamaan baru akan tercipta kita tidak ada ego antara satu dengan lainnya. Sikap seperti ini yang kurang menjamur di masyarakat kita. Sikap tidak sombong dan selalu merasa ada karena orang lain. Padahal Allah telah mensitir di dalam al-Qur’an, “Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan dan janganlah kamu bertolong-tolangan dalam kebatilan”. (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Karena itu, sudah saatnya menjalankan pesan semangat kemerdekaan yang dititipkan para pejuang. Harapannya, agar kita mampu membangun bangsa ini menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Karena perjuangan harus dilanjutkan, bukan hanya dijadikan kenangan sepanjang masa. Tak pelak lagi, yang harus kita lakukan saat ini adalah merdeka dari pikiran negatif, merdeka dari ketidaksabaran dan ketidaksyukuran, merdeka dari kesombongan. (*)

 

 

 

Latest Articles

Comments