Perbedaan yang Membebaskan

Oleh: Nevatuhella

Dalam Islam, di fatwakan bahwa anjing dan babi haram dimakan. Ketentuan ini tecantum dalam Al-Quran. Tuhan yang menentukan langsung. Menunjukkan ada perbedaan antara penganut Islam dan non-Islam.

Kemudian ada perbedaan dalam diri manusia yang diciptakan Tuhan. Umpamanaya saya tidak menyukai ikan tenggiri.  Anak saya tidak suka ikan cencaru. Perbedaan ini sudah datang dari sananya. Dari alam sebelum saya dan anak saja menjadi manusia sempurna. Dengan kata lain Tuhan memaksudkan demikian.

Jadi soal perbedaan sudah lumrah. Alami. Tak ada yang harus diperdebatkan. Mengapa kok anjing dan babi yang diharamkan? Tidak ayam atau kerbau. Ini tak bisa di otak-atik lagi. Tidak mematuhi hal ini, misal ada orang yang Islam tak mengharamkan anjing dan babi, maka ia telah berbuat dosa besar.

Manusia harus dibebaskan dari memperdebatkan hal diatas. Gunanya untuk memelihara hubungan manusia dalam hubungannya sesama manusia yang beragama lain. Atau yang tidak menganut agama sama sekali. Sebaiknya menyadari kesamaan adalah kebaikan. Untuk kebaikan bersama. Misalnya menyadari sama-sama pasti mati, sama-sama butuh makan dan minum, sama-sama perlu pendidikan. Jangan perbedaan yang dibesar-besarkan. Terus jangan pula menganggap enteng keyakinan orang lain.

Kalau diri sendiri sudah terbebaskan dari keunikan dan ketidakmasukan akal tentang perbedaan yang ada sebagai fitrah, maka diri masuk ke ranah membebaskan. Maksudnya sudah bisa pula membebaskan orang lain dari aspek-aspek agar orang lain bisa tetap bertahan hidup dan menemukan kecerdasannya melalui perbedaan. Misalnya dengan memberikan bantuan makanan, baik berupa uang maupun bahan mentahnya.

Hal yang filosof ini, tidak membutuhkan seorang presiden atau ratusan anggota dewan dan puluhan menteri. Seperti yang terjadi di Indonesia saat ini. Dimana 50 persen lebih  kekayaan negara dikuasai oleh satu persen warga negara Indonesia. Seandainya pemilik kekayaan ini sudah terbebaskan dari keunikan dan ketidakmasukakalan tentang perbedaan, maka tugas mulianya membebaskan warga negara lainnya yang miskin dan terpinggirkan adalah sangat mulia. Terlebih kalau yang miskin dan terpinggirkan itu tetangga kita sendiri.

Tapi yang justru kini terjadi, orang kaya memilih mendirikan partai ketimbang menaklukkan kemiskinan lewat hartanya secaa langsung. Padahal semua kita tahu, tujuan partai adalah kekuasaan. Kekuasaan berbuah proyek.

Manusia seperti ini––meminjam istilah sastrawan Indra Tranggono––belum menjadi “manusia selesai”. Manusia yang belum terbebaskan dari kemiskinan mental dan spritual. Padahal idealnya seorang pemimpin, katakanlah presiden harus orang yang sudah selesai dengan dirinya terlebih dahulu.

*Nevatuhella, esais, penulis buku Perjuangan Menuju Langit (2016)

Latest Articles

Comments