Pemimpin Islam Kembali ke Khittah

Oleh: NEVATUHELLA

Pemimpin adalah orang yang diteladani. Pemimpin adalah orang yang bijaksana mengambil keputusan. Pemimpin adalah orang yang adil. Pemimpin jauh dari mementingkan diri sendiri. Bila empat kriteria ini saja dipenuhi, amanlah sebuah negara dari berbagai celaan. Tidak seperti saat ini. Teladan apa yang bisa dipetik dari pemimpin? Keputusan bijaksana apa yang ditelorkannya? Adilkah ia? Adakah ia tidak mementingkan diri sendiri?

Sungguh, jauh panggang dari api. Pemimpin sekarang sebagian besar lupa daratan. Lupa akar. Lupa sejarah. Lupa ajaran agama. Mereka sangat-sangat mencintai dunia. Terbalik dengan sikap ke-zuhud-an yang diamanahkan agama. Allah Swt tidak memberi petunjuk kepada orang-orang seperti ini. Mereka termasuk orang yang kafir atau ingkar. Seperti apa yang disebutkan dalam Al-Quran surah An-Nahl (ayat 107) berikut, “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bawasanya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”

Saling mengingatkan adalah salah satu prinsip agama. Tentu termasuk untuk mengingatkan para pemimpin kita. Sebagaimana yang diamanatkan dalam surah Al-Ashr (ayat 3), “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ayat lainnya adalah terdapat di dalam surah Al-A’la (ayat 9), “Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” Kini, saatnya pemimpin yang jahat dan naif, yang sudah mabuk dunia di ingatkan. Mereka akan masuk jurang. Telah mati nanti akan diminta pertanggungjawabannya. Lubang neraka menganga menunggu mereka, kalau tidak sempat bertaubat.

Dalam soal mengingatkan ini ada sebuah kisah singkat, yakni pada suatu hari, saya melihat kejadian yang luar biasa hebatnya untuk ukuran orang sekarang. Seorang pedagang bakso sudah beberapa kali dikelabui oleh pembeli yang sama. Sang pembeli, selesai menghabiskan bakso langsung kabur dengan berbagai alasan. Suatu kali, ketika hendak kabur, abang bakso menegur dengan lembut si penipu. Apa yang dikatakan abang bakso?

“Aku hanya ingin membebaskanmu dari dosa. Membersihkan isi perutmu dari makanan yang haram. Persoalan bayaran bakso yang sudah kau ganyang beberapa kali, bagiku nomor sekian.” Laki-laki penipu ini tertunduk. Berjanji akan membayar harga bakso yang telah dimakannya. “Demi membebaskan darahnya dari makanan yang haram.”

Hebat! Ini dilakukan oleh orang kecil, rakyat jelata yang tak pernah duduk diperguruan tinggi. Sudah sewajarnya Departemen Agama memberi apresiasi dan penghargaan kepada tukang bakso yang punya tanggung jawab moral. Moral yang berhulu di aqidah yang kuat dan kokoh.

Kembali ke Khittah

Kini diingatkan para pemimpin untuk kembali ke khittah, kembali ke ajaran moral dan sikap yang paling mendasar, yaitu agama. Mengapa agama? Sebab agama yang bisa memberi jalan keluar dengan beberapa alasan yang sudah digariskan. Dan sebagai fitrah, dimana rasa sukur kita menjadi seorang yang terlahir sebagai seorang muslim.

Alasan pertama mengapa orang beragama karena ada rasa takut. Yang paling fatal adalah takut mati. Kalau anak-anak biasanya takut kegelapan, takut di tinggal ibu, atau takut tidak naik kelas. Jadi bagi orang tua pilihan pertama harus pada takut mati. Sebabnya kalau sudah mati, tak ada lagi waktu bertaubat. Kalau ada pemeluk Islam yang tidak takut mati, maka betapa ruginya ia. Karena inilah jembatan atau penghubungan dengan kehidupan akhirat yang kekal.

Kedua, mengapa harus kembali ke agama, karena lihatlah di depan mata kita sendiri. Betapa sudah banyaknya cercaan kepada kalian, wahai para pemimpin. Waduh, sudah banyak budayawan menyebut zaman ini sudah zaman edan. Kalian pemimpin keparat, tak berhati nurani, hukum tembak saja para koruptor, dan lain-lain celaan.

Ketiga, dampak dari jauhnya pemimpin dari agama merugikan orang lain. Seharusnya dari tiap keluarag Indonesia, sudah bisa lahir seorang sarjana. Bahkan dua orang sarjana kalau melihat banyaknya jumlah uang yang kalian korupsi. Dengan ketidakpedulian dan ketidaksadaran kalian dengan keadilan yang diajarkan agama, ini tidak terjadi. Terlebih otak kalian sudah dicuci dari kesucian agama, diganti dengan ajaran dan teori teori yang katanya modern. Padahal kotor, dan sama sekali tidak berkeadilan.

Satu saja contoh yang sangat-sangat tidak dibenarkan dalam Islam adalah ketika seseorang menjajakan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Bagaimana dengan kampanye yang kemudian tidak ditindaklanjuti juga? Super pembohong jadinya pemimpin seperti ini. Sikap berbohong adalah salah satu tanda-tanda orang munafik. Nauzubillah!

Contoh yang dekat, ialah sistem kapitalisme yang dibangga-banggakan. Menguras habis sumber kehidupan negara-negara berkembang yang dikendoninya. Contoh negara kita yang sudah mendekati gopong buminya. Hasil laut kita yang berprotein tinggi, semua dijual ke luar negeri. Sehingga saat ini banyak anak-anak Indonesaia yang tidak mengenal lagi kepiting yang berwarna biru terang dan merah.

Karena hasil tangkapan laut, kepiting terus dipindahkan ke refrigerator raksasa para kapitalis. Ikan bawal jawa dan ikan senangin juga sudah tak dikenali anak-anak. Mereka hanya tau ikan dencis kecil-kecil. Beruntung kalau kenal ikan gembug selar dan kuring yang rasanya lezat sekali. Demikian juga buah-buhan primadona, seperti manggis dan durian. Sudah dilelang negara atas nama pengusaha pada para pedagang dunia.

Atas nama ajaran agama, para pemimpin berdosa besar dengan hal ini. Maka kembalilah ke khittah sebelum malaikal maut datang mencekik leher kalian. Berjalan-jalan atau berdamawisatalah ke rumah-rumah sakit. Wisata jiwa tentunya. Lihatlah sekaratnya orang-orang yang akan menghembuskan nafas terakhirnya. Berkeringat dingin. Ada yang matanya melotot. Biasanya sampai mengeluarkan kotoran yang masih berwarna hijau. Bayangkan, kotoran tinja yang masih belum saatnya untuk dikeluarkan, pun keluar sangking sakitnya sakaratul maut itu.

Kalau selama ini pemimpin hanya bertakziah ke rumah duka, duduk di depan mayat yang sudah ditutup rapat atau dihias dengan berbagai aksesori, maka tidak terlihat lagi kengerian dan kesakitan sakratulmaut itu. Sebab, jodoh hidup adalah mati. Inilah kesamaan paling abadi yang dimiliki manusia. Mengingat mati menyuburkan iman dan ketaqwaan. Membuat taubat secepatnya.

Maka, marilah pemimpin Indonesai yang beragama Islam, bertaubatlah! Sudah terlalu banyak tulisan dan pendapat dari para pakar, tokoh agama, budayawan yang beriman mencambuk kalian dengan kata-katanya. Banyak pula ayat Al-Quran yang menyebutkan, betapa mudahnya Allah Swt mengganti kalian dengan manusia-manusia lain, sebab oleh kejahatan tangan, mata dan pikiran kalian.

Kembalilah ke khittah. Kembali mengkaji permasalahan kehidupan sosial dan bernegara dengan prisip-prinsip yang diajarkan oleh agama Islam. Mundurlah, jangankan satu meter, sejuta meter pun tak mengapa, demi menyembuhkan penyakit yang di derita, yakni penyakit kurang iman. Mari meresapi bait-bait Al-Quran yang merupakan kalimah-kalimah Allah Swt. Melupakan Al-Quran adalah orang-orang yang merugi.

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al-Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih” (An-Nahl ayat 104). Sebab Al-Quran merupakan mukjizat. Punya kekuatan menguapkan dosa dan daki-daki dunia yang melekat.

 

*Nevatuhella, sastrawan. Lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya Perjuangan Menuju Langit (2016) dan buku puisinya Bila Khamsin Berhembus (2019).

 

 

 

 

Latest Articles

Comments