Pelajaran yang Membentuk Kepribadian Nabi Muhammad

Alfatih-media.com- Dalam Islam, istilah kepribadian lebih dikenal dengan al-syakhshiyahSyakhsiyah berasal dari kata syakhshy yang berarti pribadi. Kata tersebut kemudian diberi ya nisbiyah sehingga menjadi kata benda buatan, mashdar shina’iySyakhshiyah yang berarti kepribadian.

Banyak literatur Islam yang menggunakan kata syakhishiyah untuk mengambarkan dan menilai kepribadian individu. Pergeseran makna inilah yang menunjukkan bahwa kata syakhshiyah telah menjadi kesepakatan umum untuk dijadikan sebagai padanan dari personalitiy.

Jadi, kepribadian bisa diartikan sebagai totalitas sifat manusia, baik secara fisik atau psikis, yang membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.

Untuk itu, kepribadian Nabi jika ditinjau dari psikologi banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang sederhana meskipun sebenarnya kakeknya Abdul Muthallib adalah seorang ketua kaum dan seorang eksportir yang terbiasa membantu banyak orang sesuai dengan kemampuannya sehingga kerja samanya menghasilkan keuntungan besar.

Seperti yang kita ketahui bersama, Nabi Muhammad Saw. adalah anak yatim yang hidup bersama keluarga ibu susuannya sampai umur 5 tahun. Lalu di umur 6 tahun ibunya meninggal sehingga beliau pun menjadi anak yatim piatu. Kemudian, beliau diasuh oleh kakeknya di umur 8 tahun. Sang kakek kemudian wafat dan meninggalkannya. 

Kondisi psikologis Nabi Muhammad Saw. yang tidak pernah diperkenalkan dengan kehidupan materilistik dari kehidupan lingkungan kakeknya adalah hal-hal yang membentuk psikologis Nabi sehingga tidak terpengaruh dengan materi di dunia. Kepribadian beliau juga terbentuk oleh berbagai perasaan, emosi, dan segala hal yang ada dalam lingkungannya.

Seorang ahli etnopsikologi bernama A.F.C Wallace membuat sebuah kerangka tentang apa saja materi yang menjadi objek dan sasaran yang disebut sebagai unsur-unsur kepribadian manusia secara sistematis. Kerangka tersebut memuat tiga hal sebagai berikut:

Pertama, beragam kebutuhan biologis diri sendiri, beragam kebutuhan dan dorongan psikologis diri sendiri, dan beragam kebutuhan dan dorongan baik biologis atau sesama manusia selain diri sendiri.

Sementara itu, kebutuhan-kebutuhan tadi bisa dipenuhi atau tidak dipenuhi oleh individu yang bersangkutan sehingga memuaskan dan bernilai positif baginya, atau tidak memuaskan dan bernilai negatif.

Kedua, beragam hal atau obyek yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri sendiri, baik dari aspek fisik ataupun psikologis, dan segala hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu mengenai bermacam-macam kategori manusia, binatang,tumbuh-tumbuhan, benda, zat, kekuatan, dan gejala ala baik yang nyata atau yang gaib dalam lingkungan sekelilingnya.

Ketiga, berbagai macam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan, atau mengggunakan beragam kebutuhan dari hal tersebut tadi, sehingga bisa tercapai keadaan yang memuaskan dalam kesadaran individu yang bersangkutan. Pelaksanaan berbagai macam cara dan jalan tersebut terwujud dalam aktivitas hidup sehari-hari.

Tiga hal tersebut berhubungan dengan masa lalu Nabi Muhammad Saw. sebelum diangkat menjadi Rasul. Nabi Muhammad sama dengan manusia biasa yang mendambakan bersenang-senang dan bisa bermain serta merasakan sebagaimana seorang pemuda yang gagah yang berkeinginan hal-hal yang bisa dinikmati.

Tetapi, tidak demikian dengan Nabi. Beliau menahan dirinya dan bertahan dalam kondisi yang sederhana. Beliau terjaga dari dorongan untuk melakukan hal-hal yang buruk bagi dirinya sehingga beliau senantiasa mendapat hal-hal yang positif dalam hidup.

Beliau memiliki perasaan yang mendalam dan kecedasan yang kreatif. Saat kecil, beliau harus membantu pamannya dalam meringankan beban keluarga. Itulah gambaran dari kepribadian Nabi yang mulia, juga sebagai perasaan terima kasih yang tinggi.

Dalam hidunya, beliau termotivasi menjadi seseorang yang maju, sebagai orang yang mempunyai harga diri, dan pemerhati hubungan sosial yang baik. Hal-hal yang membentuk kepribadian Nabi Muhammad tak bisa lepas dari lingkungan keluarga dan sosialnya.

Dalam kesederhanaan, Nabi Muhammad Saw. selalu menahan diri untuk berbuat buruk dan senantiasa berbuat baik. Hal tersebut adalah gambaran kepribadian Nabi Muhammad Saw. yang berkait-kelindan dengan unsur-unsur kepribadian yang dikemukakan A.F.C Wallace. (sumber:BincangSyariah.com)

Latest Articles

Comments