Organisasi Muslim AS Bantu Mantan Narapidana Muslim Jalani Kehidupan Normal

Alfatih-media.com-Kembali ke kehidupan normal setelah di bui bukanlah hal mudah karena peluang untuk melakukannya terbatas atau bahkan tertutup sama sekali. Sebuah organisasi Muslim di Amerika bernama Inner City  Musim Action Network (IMAN) mencoba mengubah keadaan itu lewat programnya yang disebut Green Reentry.  

Pernah menonton film The Honest Struggle? Film dokumenter garapan sutradara peraih Emmy, Justin Mashouf, yang dirilis tahun 2017 ini menggambarkan betapa sulitnya kembali ke kehidupan normal setelah dipenjara.

Film ini menyoroti perjalanan Darrell Davis seorang pemimpin gang yang dipenjara selama 25 tahun sejak usia 18 tahun. Ia dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan dan kekerasan bersenjata. 

Davis susah payah berjuang menata kembali hidupnya, namun kerap menghadapi kendala. Sampai-sampai ia pernah berpikir bahwa nasib seorang mantan residivis adalah kembali ke kehidupan penjara.

Davis memang berhasil bangkit dari keterpurukan, namun pergulatan hidupnya yang luar biasa sulit selepas dari penjara merupakan gambaran umum mantan residivis: bertekad mengubah nasib dengan memperbaiki diri, namun lingkungan sulit menerima, dan akhirnya kembali menjadi kriminal.

Fakta ini tidak luput dari perhatian Inner City Muslim Action Network (IMAN). 

Organisasi Muslim itu memprihatinkan nasib Davis dan orang-orang seperti dirinya. Apalagi Davis adalah seorang Muslim. Davis mengubah namanya menjadi Sadiq setelah memeluk ajaran Islam sewaktu di penjara. IMAN pun menggelar program yang disebut Green Reentry, yang ditujukan untuk membantu para residivis kembali ke kehidupan normal melalui sejumlah pelatihan dan bimbingan.

Apa sebetulnya Green Reentry ini?

“Program Green Reentry pada intinya terfokus pada kesehatan dan kesejahteraan orang-orang yang baru ke luar dari penjara. Kami menawarkan program rumah transisi dan program pelatihan kerja. Dalam program pelatihan kerja ada dua yang ditawarkan, yakni pelatihan ringan dan pelatihan keterampilan khusus,” kata kata Mansoor Sabree, Direkur IMAN cabang Atlanta.

“Pelatihan ringan mempersiapkan mereka untuk wawancara kerja, atau mendapatkan bimbingan dalam menjalani kehidupan normal. Pelatihan keterampilan pada intinya pelatihan untuk mendapatkan sertifikat di bidang teknik listrik, teknik AC dan pemanas ruangan, serta teknik pipa ledeng,” lanjutnya.

IMAN memang memfokuskan program ini untuk residivis Muslim. Namun, menurut, Sabree organisasi yang berkantor pusat di Chicago ini juga memberi kesempatan kepada non-Muslim.

Hasil studi Pew Research Center menunjukkan, sekitar 9-10 persen tahanan di penjara negara bagian dan federal Amerika adalah Muslim, dan mereka pada umumnya berkulit hitam.

Menurut Sabree, program Green Reentry memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat residivisme atau tingkat kecenderungan seorang kriminal yang pernah menjalani hukuman untuk kembali berbuat kejahatan. Di Amerika Serikat saat ini tingkat residivisme mencapai 37 persen. Di beberapa kota angkanya jauh lebih tinggi. Baltimore, contohnya, mencapai 73 persen, sementara Chicago 60 persen.

“Misi terbesar dari program ini adalah mengakhiri residivisme. Mengakhiri siklus di mana orang-orang muda yang ke luar dari penjara hanya menemukan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain selain melakukan hal yang sama yang membuat mereka dipenjarakan sebelumnya,” katanya.

Sabree menjelaskan, stigma sosial bahwa residivis pastinya akan selalu menjadi penjahat sangat menyesatkan. Stigma ini menyulitkan para mantan narapidana menemukan cara untuk mengubah diri dan bahkan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Orang-orang yang memiliki catatan kriminal selalu dianggap penjahat oleh masyarakat. Mereka tidak memiliki akses untuk memperoleh tempat tinggal. Tempat tinggal yang aman, sehat dan dekat dengan tempat kerja. Ini benar-benar halangan besar bagi mereka. Mereka juga tidak memiliki kesempatan untuk bekerja dan bahkan kesempatan wawancara kerja. Kami berusaha mengubah semua itu.

Zaed Saei, seorang mantan residivis yang mengikuti program Green Reentry merasa senang dengan kehidupan barunya. Ia merasa diberi kesempatan ke-dua setelah divonis bersalah melakukan pembunuhan.

“Setelah 30 tahun dipenjara tanpa memiliki pengalaman kerja merupakan hal yang sulit. Green Reentry tidak hanya memberi saya keterampilan tapi juga akses untuk mendapatkan pekerjaan. Saya tidak tahu apa jadinya bila saya keluar dari penjara dan tidak memiliki tujuan hidup,” katanya. (Sumber: berbagai sumber)

 

 

 

Latest Articles

Comments