Orang yang Paling Pelit Menurut Nabi

Sudah menjadi jamak bagi kita bahwa salah satu sifat tercela menurut agama Islam adalah pelit. Hal ini pun telah banyak diterangkan dalam teks-teks agama baik di Al-Qur’an, hadis maupun penjelasan-penjelasan dari ulama. Namun, di dalam salah satu hadis terdapat suatu pernyataan dari Nabi saw. tentang orang yang sangat pelit menurut beliau. Siapakah dia?

Hadis tentang orang yang paling pelit menurut Nabi saw. tersebut diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai berikut.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: البَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ. رواه الترمذي.

Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang sangat pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di sampingnya, ia tidak mau membaca shalawat kepadaku.” (H.R. At-Tirmidzi).

Selain terdapat di dalam kitab sunannya imam At-Tirmidzi, hadis tersebut juga terdapat di dalam kitab Al-Mustadrak Ala Shahihainnya imam Al-Hakim, dan beliau menilai hadis ini shahih.

Pelit di dalam bahasa Arab adalah al-bukhl, sedangkan di dalam sabda Nabi saw. tersebut, beliau menggunakan kata al-bakhiil yang menurut gramatikal Arab ketika kata itu mengikuti wazan fa’iil yakni sighat mubaalaghah, maka kata itu menunjukkan arti sangat, atau berarti pelaku suatu perbuatan. Hal ini juga telah diterangkan di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi karya imam Al-Mubarakfuri ketika mensyarahi hadis ini.

البخيل” أي الكامل في البخل

Al-Bakhiilu artinya adalah yang sempurna sifat pelitnya.

Berdasarkan teks hadis di atas, maka orang yang paling pelit menurut Nabi saw. adalah orang yang tidak mau membaca shalawat kepadanya ketika nama beliau disebut. Betapa tidak, mendoakan Nabi saw. dengan membaca shalawat terlebih ketika mendengar ada yang menyebut nama beliau adalah gratis. Artinya kita tidak diminta membayar untuk mengucapkannya, bahkan Nabi saw. sendiri menjamin sepuluh pahala untuk umatnya yang mau bershalawat kepadanya satu kali saja. Hal ini pun telah dijelaskan di dalam kitab shahih Muslim sebagai berikut.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ ». رواه مسلم.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, bahwasannya ia pernah mendengar Nabi saw. bersabda, “Jika kalian mendengarkan seorang muadzin (adzan), maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sungguh siapa yang membaca shalawat untukku satu kali shalawat, maka Allah akan bershalawat untuknya (merahmatinya) sepuluh kali. Kemudian, mintalah kalian kepada Allah untukku sebuah wasilah (perantara), maka sungguh hal itu adalah tempat di surga yang tidak diperkenankan (menempatinya) kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Dan aku berharap aku lah yang mendapatkannya. Maka siapa yang memintakan wasilah untukku, ia halal mendapatkan syafaat.” (HR. Muslim).

Dengan demikian, agar kita tidak termasuk menjadi umat muslim yang sangat pelit menurut Nabi saw., maka bacalah shalawat setiap nama beliau disebutkan. Terlebih kita tidak menunggu nama beliau disebutkan, tetapi dengan sadar diri kita membacakan shalawat kepadanya setiap saat. Wa Allahu A’lam bis Shawab. (sumber:bincangsyariah)

Latest Articles

Comments