Mush’ab bin Umair: Pemuda Inspiratif Zaman Nabi

Masa muda adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda yang lalai dan lupa. Sehingga untuk melakukan amal salih dianggap hal yang belum bisa dilakukan dan masih ada kesempatan di hari tua. Apalagi bagi mereka yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil bagus, uang cukup, tempat tinggal mewah, dan kenikmatan lainnya. Seolah ia hidup bagaikan raja.

Di zaman Nabi, ada seorang pemuda kaya, berpenampilan rupawan, biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama saat melihat Mush’ab bin Umair. Yaitu al-Barra bin Azib, ia berkata:

رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ

“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

Mush’ab bin Umair salah seorang remaja Quraisy terkemuka, gagah dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.  Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: “Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum.”

Mush’ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorangpun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sebagaimana yang dialami Mush’ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang berkecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Makkah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan.

Saat Islam datang, kekayaan yang ia miliki ditinggalkannya. Kekayaan itu ia ganti dengan bekal menuju kebahagiaan di akhirat.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya

Mushab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, kurang lebih 14 tahun setelah kelahiran Nabi SAW. Dengan kekayaan yang dimiliki Mush’ab, sehingga segala hal yang melekat ke tubuh menjadi perhatiannya, seperti sandal, pakaian, bahkan rambut Mush’ab tertata rapi dengan aroma parfum yang begitu harum.

Rasulullah SAW bersabda: مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorangpun di Makkah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mushab bin Umair.” (HR Hakim)

Ibu Mush’ab sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia bangun, maka hidangan makanan sudah ada di hadapannya.

Menjual Dunia untuk Akhirat

Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mushab bin Umair sedang beribadah kepada Allah. Maka ia pun melaporkan kejadian tersebut kepada ibu Mushab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyangnya itu, ibu Mushab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus berdiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mushab meninggalkan agamanya. Saudara Mushab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar,Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya.” Mushab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mushab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mushab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat kurus.

Kehidupan yang dialami Mush’ab kian berubah. Tidak ada lagi fasilitas layaknya orang kaya yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah SAW di masjid. Lalu muncullah Mushab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah SAW melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang.” (HR Tirmidzi)

Demikianlah perubahan keadaan Mushab ketika ia memeluk Islam. Kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia nikmati ketika memeluk Islam. Bahkan sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya. Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaan yang ia alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya. Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.

Peranan Mush’ab dalam Islam

Mush’ab bin Umair adalah pemuda yang memiliki ilmu dan kecerdasan yang luar biasa. Sehingga Nabi SAW mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.

Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajarkan dan mendakwahkan Islam, termasuk tokoh utama di Madinah seperti Saad bin Muadz. Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah mulai memeluk agama Allah. Hal ini menunjukkan petunjuk dari Allah akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap alquran dan sunnah. Baik cara penyampaian dan kecerdasannya dalam berargumentasi.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi dan para sahabatnya hijrah. Kemudian kota itu dikenal dengan kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

Singkat cerita, Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah dalam usia 40 tahun. Saat itu, Mush’ab bin Umair mendapat tugas yang mulia sebagai pemegang bendera perang di medan Uhud. Semoga Allah meridhai Mush’ab

Latest Articles

Comments