Merenda Sabar Mencari Ridha Allah

Oleh : NEVATUHELLA

Sabar merupakan sikap mental yang harus ditempa, direnda sedikit demi sedikit untuk kebaikan diri sendiri. Beruntung kalau sejak kecil orang tua sudah mendidik dengan benar tentang sikap sabar ini, sehingga tak perlu lagi memulainya. Cukup memelihara dan meningkatkannya. Andai yang terjadi satu kenyataan pahit, dimana sikap ini belum ada dalam diri, betapa berat segala macam cobaan akan ditanggung.

Sudah menjadi fitrah manusia, bahwa semasa hidup di dunia manusia mendapat berbagai kesusahan dan kesenangan. Tentang kesusahan Allah Swt berfirman dalam surah Al-Baqarah (ayat 155), “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Nah, sabarlah yang menjadi obat semua kesusahan yang terjadi.

Banyak pengalaman orang-orang yang sukses, berkat kesabaran yang betul-betul dihayatinya. Ada cerita seorang ibu, yang harus membesarkan anak-anaknya sendiri, karena suaminya telah meninggal dunia. Ibu yang tidak tammat SMP ini berhasil menjadikan tiga anak laki-lakinya bergelar sarjana. Bermodal mental sabar, yang menjadi spiritnya untuk maju. Sang suami tidak meninggalkan harta.

Hanya sebuah rumah sederhana. Lalu ibu yang sabar ini memulai hidup dengan membuat kue kering dan kue basah  di rumah. Lalu anak-anaknya yang masih SD dan SMP, di suruh berjualan menjaja kue. Hari demi hari, kue-kue yang dibuat  ibu  mulai disenangi pembeli. Karena kue kering lebih popular, dan lebih laku, maka ibu memilih membuat kue kering saja akhirnya. Makin hari, anak-anak sudah makin besar, tak pantas pula lagi menjajakan kue, dan waktu sudah banyak pula tersita di sekolah, kue-kue ibu cukup ditumpangkan saja di kedai-kedai. Sampai akhirnya, sesudah duduk di perguruan tinggi, kue-kue ibu sudah sampai pula ke toko- toko kue.

Nah, sabar yang selama ini dipahami sebagaian besar muslim, adalah sabar ketika ditimpa musibah saja. Musibah ditinggal orang yang disayangi dan dicintai. Ini jenis sabar yang pasif. Kalau yang dilakukan ibu tersebut adalah sabar yang dikenal sebagai sabar yang aktif atau progresif. Sabar sebagai spirit untuk maju. Bisa saja ibu ini mengambil jalan pintas waktu di tinggal suami, menikah lagi misalnya.

Namun sadar ataupun tidak sadar, ia memilih jalan pertama tadi. Bagaimana dengan kita-kita?  Pernahkan kita berpikiran, betapa pentingnya mental sabar kita miliki. Kita renda hari demi hari untuk menumbuhkannya dalam jiwa kita. Manfaat sabar begitu banyaknya dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Dan dalam hal keimanan, Abu Darda mengatakan, “Biji keimanan adalah sabar terhadap hukum dan ridha terhadap ketentuan atau takdir.”

Adapun hal-hal yang mencakup sabar yang mengemuka dalam aktifitas pada pekerjaan dan tempat tinggal meliputi: sabar dalam menangani pekerjaan yang boleh jadi sangat berat dan menjenuhkan; sabar dalam menerima imbalan dan pengahargaan yang boleh jadi terasa kurang dan bahkan tidak memadai; sabar dalam menghadapi teguran karena tidak dapat melaksanakan tugas sesuai ketentuan dan harapan; sabar dalam mendapat imbalan dan keuntungan, yang boleh jadi menyebabkannya tergiur dengan pemborosan dan konsumersime; sabar dalam bergaul dengan sesama teman kerja atau lingkungan tempat tinggal, yang memungkinkannya untuk melakukan penyimpangan dari nilai-niai moral dan akhlak.

Urgensi sabar yang lain, ialah: sikap sabar dapat membuat seseorang menjalani hidup dan tugas tugasnya secara sadar, sehingga ia menanganinya dengan teliti dan penuh tanggung jawab; sikap sabar memotivasi seseorang dalam meningkatkan keinekerjanya, terutama dalam kaitannya dengan pencarian rezeki yang halal; sikap sabar mendorong seseorang untuk dapat mengendalikan diri dalam setiap situasi dan kondisi yang dihadapinya, sehingga tetap menjadi insan yang menunjukkan sikap-sikap yang dibimbing agamanya, saat menerima kegembiraan atau kesedihan; sikap sabar dapat menghindarkan seseorang dari sikap-sikap mubazzir, takabbur, konsumeris pasca kesuksesan.

Hal semua ini merupakan teori-teori yang diwariskan oleh para ulama. Dalam menjalankannya, memang persoalan yang tidak mudah. Cobalah kita lihat apa yang terjadi disekitar kita. Kejahatan pencurian atau perampokan yang terkenal dengan istilah begal, adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai mental sabar. Malas bekerja dengan gaji kecil, sehingga mencari jalan pintas.

Ada juga mereka yang sudah kaya, ingin lebih kaya mendadak, tergiur dengan dukun atau pimpian spitual seperti Dimas Kanjeng Taat Pribadi di padepokannya yang bisa menggandakan uang katanya. Ini adalah orang-orang yang tidak sabar. Ada pula pejabat-pejabat negara yang melakukan korupsi uang negara dalam jumlah besar, ini merupakan gambaran rasa tidak bersyukur, dan tidak punya mental sabar.

Bahkan lebih dari itu semuanya, mereka rakus dan mementingkan diri sendiri. Al-Quran menggambarkan ketidakmudahan, bahwa betapa berat untuk sabar dalam surah Al-Baqarah (ayat 46), “Mintalah pertolongan dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusuk.”

Praktik Sabar

Semua pekerjaan untuk hasil yang fenomenal harus dilakukan dengan kesabaran yang tinggi. Ketika memulai tulisan dengan tema sabar ini, saya perkirakan waktunya akan lama baru selesai. Sebabnya dalam Al-Quran, terdapat 70 kata sabar. Banyak sekali, bagaimana bisa cepat, seandainya harus mendapatkan semuanya. Dalam seminggu, saya hanya mendapatkan  lima ayat, yakni, surah Hud (ayat 11 dan 49), surah Yusuf (ayat 83 dan 90), surah Ar-Rad (ayat 22).  Lembar demi lembar saya baca terjemahan Al-Quran dengan tekun setiap habis salat, atau sengaja menyediakan waktu. Terakhir dalam catatan harian saya, saya sudah mencatat satu ayat tentang sabar rupanya, yaitu dalam surah Al-Baqarah (ayat 153), yang berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Sebagai pelengkap saya kutipkan surah Hud, “Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar (ayat 11). “Itu adalah berita- berita yang penting tentang yang gaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak pula kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. (ayat 49)

Setelah menulis artikel ini, sama dengan siapapun yang berkesempatan membacanya, mudah-mudahan seide dengan saya, termotivasi untuk  mengeksplorasi Al-Quran secara umum, dan secara khusus tentang persoalan sabar ini. Masih ada enam puluh lebih lagi ayat Al-Quran yang memuat kata sabar yang belum saya temukan. Sungguh menarik. Mudah-mudahan Allah memberi jalan kemudahan. Hati selalu dalam bimbingannya. Lidah selalu dalam lindungannya.

Sesuai pula dengan judul yang saya pilih, terdapat juga rupanya di dalam Al-Quran pada surah Ar-Rad (ayat 22), “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan,serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah mendapat tempat kesudahan yang baik.”

 

*NEVATUHELLA, sastrawan kelahiran Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016), Bersampan ke Hulu (2018) dan satu buku puisinya Bila Khamsin Berhembus (2019).

 

Latest Articles

Comments