Menjaga Masa Depan ADHA Melalui Edukasi ke Masyarakat dan Ibu Hamil

MEDAN (alfatih-media.com)-Banyak dampak yang akan diperoleh sang anak dari seorang ibu yang terinfeksi HIV Aids. Selain mewarisi penyakit yang sama, perkembangan kesehatan  fisik juga akan berdampak tidak baik bagi anak. Dampak terburuknya  adalah masa depan sang anak, karena stigmatisasi akan terus ada disekitar penderita HIV Aids. Tidak pandang bulu, baik orang dewasa maupun anak-anak. Jika ketahuan akan penyakitnya, maka stigma itu akan melekat pada dirinya. Terutama di dunia pendidikan.

Padahal, berdasarkan pasal 9 (1), UU 23/2002 disebutkan, bahwa, setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Namun, kenyataannya masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak bisa mengenyam pendidikan, Terutama, bagi anak-anak dengan HIV Aids (ADHA) itu sendiri.

Almarhum N (11), warga Medan Johor, Sumatera Utara, misalnya. N merupakan anak yatim piatu yang tinggal bersama kakaknya , IN (19). Dia, salah satu dari ratusan anak yang bernasib sama. Yang mau tidak mau, rela ataupun tidak rela harus menerima resiko dari prilaku orangtuanya. Dia terinfeksi virus HIV sejak dilahirkan ibunya, karena kedua orangtuanya sudah terlebih dahulu terjangkit virus HIV tersebut. Sepanjang hidupnya, N tergantung dengan obat-obatan terutama ARV (antiretroviral). ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri, dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. Selain harus mengkonsumsi obat-obatan seumur hidupnya, N juga harus bolak-balik keluar masuk rumah sakit karena tubuhnya ngedrop. N meninggal dunia setelah beberapa minggu ngedrop dan dirawat di RSUPH Adam Malik, Medan pada Oktober 2014 lalu. Berat tubuhnya waktu itu tidak sampai 20 kilogram.

Menurut penuturkan kakak semata wayangnya, IN, meskipun tubuhnya ringkih dan tidak cukup kuat, namun N memiliki semangat yang besar untuk sekolah. Sama seperti anak-anak yang lainnya, N ingin punya teman yang banyak. Bermain bersama dan punya cita-cita setinggi langit, seorang dokter. Sayangnya, N hanya pernah mengenyam pendidikan selama satu tahun di salah satu sekolah dasar di Medan.

“N sekolah hanya sampai kelas 1 SD saja. Selanjutnya, N nggak sekolah lagi karena tubuhnya nggak cukup kuat untuk berlama-lama diluar rumah. Untuk mewujudkan keinginannya belajar, N hanya diajarkan membaca dan menulis sekedarnya saja di rumah. Selain saya, dia diajarkan kakak-kakak wartawan dari FJPI (Forum Jurnalis Perempuan Indonesia). Selain itu, tidak pernah homeschooling karena nggak punya biaya. Dari pemerintah sendiri, belum pernah ada perhatian untuk pendidikannya,”katanya mengenang almarhum adiknya.

Selain pendidikan yang masih sangat minim perhatian dari pemerintah, ternyata kesejahteraan untuk anak seperti N juga masih kurang. Ketersediaan rumah aman khusus untuk ADHA juga belum ada dari pemerintah. N yang masih menerima perlakuan diskriminasi dari lingkungan sekitar akhirnya harus tinggal berpindah dari rumah ke rumah.

"Awalnya, tinggal sama uwak. Tapi, karena tak ada biaya kami tinggalnya pindah-pindah. Dari rumah salah satu kakak wartawan di Krakatau, terus pernah tinggal satu tahun bersama kakak wartawan di FJPI di Darusalam. Pernah juga sebentar di rumah amannya Medan Plus. Terakhir, pindah lagi ke rumah uwak yang lain. Disitulah adik saya ngedrop dan bulan Oktober meninggal dunia "ucap IN.

Meski kurang mendapat perhatian dari pemerintah, namun N dan IN mendapat bantuan dari lembaga sosial yang ada di Medan. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, juga untuk memenuhi gizi dan vitamin N. 

"Syukurnya ada lembaga sosial yang sangat baik yang terus memberi bantuan kepada kami. Jadi, makanan bergizi dan vitamin untuk kami berdua, terutama N bisa terpenuhi,"katanya.

Tidak hanya itu lanjut IN, sebagai anak remaja yang punya cita-cita, keinginannya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah juga bisa diwujudkan berkat bantuan dari donator lainnya, bukan dari pemerintah.

Tidak hanya N,di tempat yang berbeda, juga ada KY yang berasal dari Nias, Sumatera Utara. Dia bernasib sama dengan N. Anak yatim piatu dan baru diketahui terinfeksi HIV saat usianya 5 tahun. Sepeninggal kedua orangtuanya, dia dirawat sang neenek di Nias, yang kondisi hidupnya juga susah. Sebagai ADHA (anak dengan HIV Aids), KY jelas membutuh makanan bergizi, vitamin, obat dan lainnya. Akan tetapi, neneknya tidak sanggup membiayainya. Akhirnya, neneknya meminta tolong ke sebuah lembaga di Medan yakni, Medan Plus, yang khusus mendampingi ODHA (orang dengan HIV Aids) untuk bisa merawat KY. Sekitar 3 tahun lamanya KY tinggal di lembaga itu, neneknya meninggal dan K akhirnya jadi anak asuh lembaga tersebut.

Empat tahun tinggal di rumah Medan Plus, KY sempat ngedrop dan sempat ingin dibawa ke Solo, namun sebelum diputuskan untuk dibawa ke Solo, seseorang dari lembaga lain, Panti Rakit datang dan menawarkan diri untuk merawat  KY di Rakit. Karena, di Rakit hidup anak-anak lainnya. Sepanjang hidupnya, KY juga tidak merasakan bangku sekolah karena kondisi tubuhnya yang tak cukup kuat. Sama dengan N, KY hanya belajar sekedarnya dari orang-orang yang merawatnya. Tahun 2018, tubuh KY ngedrop dan akhirnya dia menyusul N menghadap Tuhan Yang Maha Esa pada 8 Desember 2018 lalu.

Rata-rata ADHA Tidak Buka Status

Priasih, salah satu pendamping ODHA dan ADHA dari Medan Plus menyebutkan, ia sudah mendampingi baik ODHA maupun ADHA sejak tahun 2009 lainnya. Khusus ADHA, dia sudah mendampingi sekitar 185 anak. Dari yang ia dampingi, sebagian ADHA sekolah di sekolah formal, tetapi tidak membuka status si anak. Karena, jika keluarga membuka status tentang penyakit anak, maka si anak akan dikeluarkan dari sekolah. 

"Seorang anak dengan HIV Aids, bisa sekolah seperti anak lainnya di sekolah formal, karena tidak membuka statusnya. Kalau membuka statusnya, pasti akan mendapat diskriminasi. Dikeluarkan dari sekolah,"bebernya.

Sedangkan sebagian anak lainnya kata Priasih, tidak sekolah dikarenakan kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan. 

"Mereka yang tidak sekolah diajari orangtua atau keluarganya. Ya, sekedar membaca dan menulis. Mau mendatangkan guru ke rumah, keluarga juga terhambat biaya. Karena, rata-rata keluarga ADHA inikan ekonominya menengah kebawah,"katanya.

Mestinya lanjut Priasih, pemerintah ikut berperan dalam hal pendidikan untuk ADHA ini. Karena, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. 

"Semua ADHA berhak mendapatkan pendidikan yang layak, adil dan merata sama seperti anak normal lainnya. Sekolah di sekolah formal. Mungkin, hanya jam belajarnya saja yang dikurangi. Selain itu, juga tidak ada lagi diskriminasi. Ya, sosialisasi tentang penularan HIV Aids harus di optimalkan. Selain N dan KY yang sudah lebih dulu tiada, masih banyak ADHA lainnya, mereka punya cita-cita seperti anak lainnya,"ujarnya.

Sekolah Harus Jaga Kerahasiaan ADHA

Pemerhati HIV yang pernah menjabat sebagai Ketua LSM Medan Plus, Eban Totonta Kaban selaku menampik, banyak ADHA yang bisa belajar di sekolah formal, tapi rata-rata tidak diketahui statusnya.

"Mestinya, nggak masalah kalau pihak sekolah tahu status anak itu. ADHA inikan kadang nggak bisa masuk sekolah karena tiba-tiba ngedrop. Tapi, kalau sekolah tahu statusnya takutnya sekolah tidak bisa jaga kerahasiaan. Ini kejadian seperti di Samosir. Enam orang anak di keluarkan dari sekolahnya karena ketahuan anak itu terinfeksi virus HIV. Nah, kerahasiaan inilah yang masih menjadi polemik. Kan, harusnya tidak begitu,"tuturnya.

Menurutnya, semua anak termasuk ADHA berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sudah kewajiban dunia pendidikan dalam hal ini sekolah menerima ADHA dengan menjaga rahasia ADHA. Sebab, penyakit bukan menjadi konsumsi publik.

"Sama seperti ODHA yang bekerja di kantor. Pihak perusahaan wajib menjaga kerahasiaan orang itu. Penyakit kan bukan konsumsi publik yang harus diketahui orang lain. Apalagi, penularan HIV ini tidak mudah begitu saja. Nah, ini harus dipahami jajaran sekolah dan masyarakat sendiri. Pemerintah harus dukung dengan mengoptimalkan pemahaman ke sekolah-sekolah dan masyarakat,"pungkasnya.

Edukasi Masyarakat Dan Ibu Hamil Tentang HIV

Meskipun sudah sering disampaikan, namun sepertinya pemberian pemahaman tentang HIV Aids kepada masyarakat, terutama kepada ibu-ibu hamil masih tetap kurang dilakukan oleh pemerintah. Akibatnya, masyarakat masih banyak yang tidak paham dengan bagaimana penularan HIV. Sehingga, stigma dan diskriminasi terhadap ADHA masih saja terus terjadi.

"Kalau pemahaman masyarakat masih sedikit, stigma kepada ADHA ya akan terus terjadi dan sampai saat ini stigma kepada ADHA masih tinggi. Pemerintah harus menggalakkan edukasi sampai ke akar rumput tentang HIV, sehingga semua paham. Kalau semua masyarakat sudah paham tentang HIV, bagaimana penularannya, mereka tidak akan menolak ODHA dan ADHA. Nah, jika kondisinya seperti itu, ADHA bisa hidup berbaur dengan masyarakat, tidak perlu di rumah khusus dan tidak perlu home shooling. Kalau sehat, kenapa harus home shooling. Kan, lebih baik berbaur dengan anak sekolah lainnya. Kecuali, untuk ADHA yang bermasalah dengan kesehatannya,"kata Sekretaris Forum Peduli Anak Dengan HIV Aids (FP ADHA), Khairiah Lubis kepada alfatih-media.com, kemarin.

Menurutnya, disamping edukasi kepada masayarakat agar ADHA mendapat pendidikan yang adil dan merata, hal lain yang perlu dilakukan pemerintah adalah lebih memperhatikan kesehatan ADHA. Kebanyakan ADHA dalam kondisi sakit, bahkan sudah mengalami IO (infeksi oportunistik), tapi masih ada yang tidak memiliki BPJS. Penyebabnya, orangtua meninggal, lalu anak tinggal dengan nenek yang kondisinya susah.

"Selain menanggung BPJS untuk ADHA, pemerintah juga perlu memperhatikan biaya hidup untuk kesehatan ADHA. Setiap ADHA harus ada biaya untuk makanan bergizi baik, vitamin dan lainnya selain obat. Tapi inilah yang sering jadi masalah untuk ADHA. Karena kebanyakan mereka sudah tidak ada orangtua. Kalo ada orangtua pun hidupnya susah,"pungkasnya.

Tidak hanya itu, pemerintah juga harus memberikan edukasi tentang pencegahan penularan HIV Aids, terutama kepada ibu-ibu hamil melalui program PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission).Dimana, program PMTCT atau Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), merupakan program pemerintah untuk mencegah penularan virus HIV/AIDS dari ibu ke bayi yang dikandungnya. Program tersebut mencegah terjadinya penularan pada perempuan usia produktif, kehamilan dengan HIV positif, penularan dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya. 

Seperti diketahui, menurut WHO (2010), PMTCT  bertujuan mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi. Hal ini disebabkan karena sebagian besar infeksi HIV pada bayi ditularkan dari ibu. Diperlukan upaya intervensi dini yang baik, mudah dan mampu laksana guna menekan proses penularan tersebut.

“Selain itu juga mengurangi dampak epidemi HIV terhadap Ibu dan Bayi. Dampak akhir dari epidemi HIV berupa berkurangnya kemampuan produksi dan peningkatan beban biaya hidup yang harus ditanggung oleh ODHA dan masyarakat Indonesia dimasa mendatang karena morbiditas dan mortalitas terhadap ibu dan bayi,”ucapnya. (ef/foto:alfatih)

 

 

Latest Articles

Comments