Mengenal Putra dan Putri Rasulullah

Alfatih-media.com-Keseluruhan putra dan putri Rasulullah saw berjumlah tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan. Kesemua anak Nabi, berasal dari istri pertamanya yaitu Sayyidah Khadijah ra, kecuali Ibrahim yang merupakan putra Mariah al-Qibthiyah ra. Sedangkan dari istri lainnya, Rasulullah tidak mendapatkan keturunan. Berikut putra putri Rasulullah

Pertama, Qasim. Ia merupakan anak pertama Rasulullah yang didapatkan dari Khadijah binti Khuwailid Al-Quraisy ra.  Qasim lahir sebelum Nabi diutus menjadi Rasul. Menurut Ibnu Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, beliau wafat saat masih anak-anak pada usia dua tahun.

Kedua, Zainab. Beliau adalah anak perempuan tertua Rasulullah. Sebelum Islam datang, Zainab menikah dengan anak bibinya, Abu al-Ash bin Rabi’, yang telah dianggap seperti anak sendiri oleh Khadijah. Ketika Nabi diutus, Abu al-Ash belum beriman tapi ia juga tidak terima jika harus menceraikan Zainab.

Namun ketika kemenangan kaum muslim di Perang Badar, Abu al-Ash tertawan. Kemudian Zainab mengirimkan uang tebusan yang di dalamnya terdapat kalung pemberian Sayidah Khadijah. Melihat hal itu, Rasulullah sedih dan menyuruh agar membebaskan Abu al-Ash dengan syarat ia mengembalikan Zainab kepadanya.

Mereka kembali hidup bersama setelah beberapa saat kemudian Abu al-Ash masuk Islam dan pindah ke Madinah. Mereka hidup bahagia dikaruiniai anak bernama Umamah binti Abu al-Ash, cucu yang dalam sebuah riwayat diceritakan suka digendong-gendong oleh Rasulullah, yang kemudian dinikah oleh Ali bin Abu Thalib paska wafatnya Fatimah.

Ketiga, Ruqayah. Usianya lebih muda dari Zainab, Ruqayah lahir tatkala Nabi menginjak umur 33 tahun. Beliau masuk Islam bersama Ibunda dan saudari-saudarinya ketika Nabi diutus sebagai Rasul. Pada umur kurang dari 10 tahun, Ruqayah menikah dengan Utbah bin Abu Lahab sebelum turun risalah Islam. Namun sebelum sempat mereka berkumpul sebagai suami istri, Abu Lahab menyuruh anaknya meninggalkan Ruqayah tatkala turun surat Al-Masad yang merupakan kecaman Allah kepadanya.

Kemudian Ruqayah diperistri oleh Usman bin Affan dan mereka kemudian hijrah ke Habasyah dan Madinah. Sebelum perang badar, beliau sakit sehingga Usman bin Affan meminta izin kepada Rasulullah tidak ikut perang untuk menjaga istrinya itu. Ia meninggal pada umur 12 tahun dan dikuburkan di Baqi’.

Keempat, Ummu Kulsum. Usianya lebih muda dari Ruqayah. Lima tahun sebelum Nabi diangkat menjadi Rasul, beliau juga dinikahkan dengan Utbah bin Abu Lahab yang juga menceraikannya ketika ia menceraikan saudarainya Ruqayah. Kemudian Usman bin Affan menikahinya setelah Ruqayah wafat pada tahun ke-13 Hijriah. Karena menikahi dua putri Rasulullah, Usman dijuluki Dzunnuraini, yang memiliki dua cahaya. Namun Ummu Kulsum juga meninggal pada tahun 19 Hijriah pada bulan Syaban.

Kelima, Fatimah lahir lima tahun sebelum Nabi diutus. Beliau menikah dengan Ali bin Abu Thalib pada tahun ke-2 Hiriyah. Dari pernikahan itu lahirlah Hasan pada tahun 13 Hijriyah, Husen pada 14 Hijriyah, Zainab pada tahun 15 Hijriyah, Umu Kulsum pada 17 Hijriyah.

Beliau adalah anak perempuan yang paling kecil dan paling dicintai Rasulullah. Terlihat ketika Ali bin Abi Thalib meminta izin untuk menikah lagi, Rasulullah tidak menyetujuinya. Rasulullah mengatakan pada Sahabat Ali, meski poligami itu tidak dilarang dalam Islam, tapi beliau tidak rela jika itu terjadi pada anaknya.

Dari cara bicara dan jalannya, Fatimah merupakan anak yang paling mirip dengan Rasul. Serta satu-satunya anak yang menyaksikan saat Nabi wafat dan 6 bulan kemudian Fatimah menyusulnya meninggal pada bulan Ramadhan tahun 11 Hijriyah dan dikuburkan di Baqi.

Keenam, Abdullah. Ia lahir setelah Nabi mendapatkan risalah, karena itu ia dikenal dengan panggilan al-Tahir dan al-Tayeb. Ia anak terakhir yang didapatkan Nabi Muhammad dari Sayyidah Khadijah. Menurut Ibn Qayyim ia lahir setelah Ummu Kulsum. Abdullah juga wafat pada saat masih kecil.

Ketujuh, Ibrahim. Ia adalah putra terakhir Rasulullah dari Mariah al-Qibthiyah. Ibrahim lahir pada tahun ke-8 Hijriyah dan wafat pada tahun 10 Hijriyah di Madinah, saat berusia 17-18 bulan. Nabi Muhammad sangat menyayangi putra bungsunya ini. Diriwayatkan Imam Bukhari, ketika Ibrahim meninggal Nabi Muhammad mengatakan, “Sungguh mata ini meneteskan air mata dan hari ini bersedih, tapi kami tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Tuhan kami. Sungguh kami bersedih dengan kepergiaanmu Ibrahim.”Wallahu’alam. (sumber:BincangSyariah.Com)

Latest Articles

Comments