Menakar Konstelasi Geopolitik Dunia Arab

Oleh: Muhammad Husein Heikal

Sudan setuju menormalisasi hubungan dengan Israel (The Jerusalem Post, 23/10). Persetujuan ini tampaknya bertolak pada dua hal, yakni sebagai “balas budi” akan dicabutnya Sudan dari daftar negara sponsor terorisme oleh Amerika Serikat dan terkait kepentingan perekonomian. Sejak dicap AS sebagai negara sponspor terorisme, perekonomian Sudan merosot drastis. Bagaimana tidak, sikap AS yang keras tak memberi akses perdagangan ke negara tersebut. Sikap keras AS terkini tercermin pada kekukuhannya mempertahankan embargo terhadap Iran.

Namun, PBB menolak, membuat AS menyebarkan ancaman kepada negara manapun yang berhubungan atau berdagang dengan Iran akan dikenai sanksi oleh AS. Alhasil, Iran terdiskreditkan. Sebab, tidak ada negara yang mau dikenai sanksi keras AS yang bisa melumpuhkan ekonomi mereka.

AS jelas memojokkan musuh-musuhnya secara langsung maupun tidak. Ancaman lewat embargo adalah salah satu caranya. Namun AS juga punya cara merekrut “musuh-musuhnya” menjadi teman. Demi kepentingan Israel dan negaranya sendiri, AS mengutus Jared Kushner “berkeliling” Timur Tengah guna mencari dukungan pengakuan atas kedaulatan Israel. Tur Kushner terbilang berhasil.

Sampai hari ini tercatat sudah tiga negara, Sudan, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menyusul apa yang dilakukan Mesir (1979) dan Yordania (1994) menormalisasi hubungan Israel. Menormalisasi sama artinya, tak lain tak bukan, dengan mengakui kedaulatan Israel.

Negara-negara yang bersepakat dengan Israel tentu saja memiliki kepentingan yang kuat, atau setidaknya dilandasi oleh beberapa keuntungan. Kurun beberapa pekan terakhir, kita saksikan ada begitu banyak deal antara Israel dan “mitra-mitra” barunya, termasuk dalam akses penerbangan. Secara resmi, untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 31 Agustus lalu maskapai El Al milik Israel mendarat di Abu Dhabi.

Hal yang mengejutkan ialah penerbangan tersebut melintasi kawasan Arab Saudi, yang konon hingga saat ini masih berupaya berpegang teguh pada Inisiatif Perdamaian Arab 2002, yang pada intinya menolak mengakui Israel sampai Israel mengakhiri kependudukan ditanah Palestina.

Kita patut mempertanyakan bagaimana sebenarnya posisi Arab Saudi dalam konstelasi geopolitik di Timur Tengah, yang kian hari kian “terdikte” oleh AS dan sekutunya Israel. Sikap Arab Saudi dibawah komando Mohammed bin Salman (MbS) terbilang keras. MbS tak ragu “membantai” maupun “membungkam” pendapat yang bertentangan dengannya. Disaat UEA memutuskan menormalisasi hubungan dengan Israel, besar kemungkinan UEA sudah mendapat “restu” dari Arab Saudi. Sebab bila menilik peta kekuatan strategik, Arab Saudi adalah corong utama bagi dunia Arab.

Meskipun, disebutkan dalam beberapa pemberitaan bahwa Arab Saudi tak akan mau menormalisasi hubungan dengan Israel, namun kita tak bisa tentram seketika. Sebab beberapa aktivitas yang dilakukan Arab Saudi justru membuat kecurigaan kita mencuat, seperti mengizikan penerbangan Israel-UEA melintasi wilayahnya hingga apa yang ditegaskan oleh Pangeran Saudi, Bandar bin Sultan terhadap Palestina, menunjukkan kepada kita ada upaya yang bersifat lunak dan “mengajak” berdamai dengan Israel.

Arab Saudi tampaknya belum memiliki banyak keuntungan bila bermitra dengan Israel saat ini. Mungkin saja, Arab Saudi masih membaca kemungkinan serta memperhatikan pandangan dunia Islam terhadap negaranya. Sebagai negara yang tiap tahun menampung jutaan umat Islam untuk melaksanakan Haji, seandainya terjadi kerjasama antara Arab Saudi dengan negara Yahudi Israel, yang konon musuh bebuyutan dari Palestina, adalah tindakan yang bisa menyulut kemarahan umat Islam seluruh dunia.

Dunia Islam berharap, upaya memerdekakan Palestina selama ini tidak dikhianati dari dalam. Bagi Palestina sendiri, langkah yang ditempuh oleh UEA, Yordania (dan Sudan) yang notabene dikenal sebagai negara Islam, adalah pengkhianatan yang menyakitkan. Palestina menyebut mereka menusuk dari belakang. Tentu saja ini menjadi tamparan keras bagi Palestina, apa yang selama ini dianggap sebagai teman, justru beralih pihak kepada musuh, AS dan Israel.

Bujukan AS dan Israel barangkali sangat menggoda. Meskipun motif tiap negara tentu saja berbeda, seperti halnya Mesir dan Yordania yang mau berdamai dengan Israel karena imbalan pengembalian wilayah yang direbut. Bagi UEA normalisasi dengan Israel tampaknya akan menyukseskan visi Abu Dhabi 2030, disamping upaya “menghentikan” aneksasi Israel atas Tepi Barat. Namun PM Israel Netanyahu berulangkali menegaskan bahwa pencaplokan itu hanya ditunda.

Kita, dunia Islam sangat berharap Arab Saudi tak menyusul langkah normalisasi dengan Israel hanya karena beberapa keuntungan belaka. Jangan sampai Arab Saudi mengkhianati perjuangan kemerdekaan Palestina. Kita tak bisa membayangkan saudara-saudara Muslim kita terus-terusan hidup dalam situasi permusuhan yang tak kunjung menemukan titik temu.

Peran AS di Timur Tengah, tentunya terus memperkuat sekutunya dengan mengajak negara-negara sekitarnya bermitra dengan Israel. Ini bukan satu niatan tulus yang membawa berkah bagi umat Islam, melainkan hanya mengedepankan kepentingan sendiri demi meraup keuntungan semu.

Negara-negara Islam, seperti halnya Iran, Turki dan Arab Saudi harus menjadi tombak yang kokoh bagi perjuangan dunia Islam. Sinergi yang kuat akan membawa posisi dunia Islam ke tempat yang lebih baik, dibanding bekerjasama dengan AS, bahkan Israel. Sudah semestinya negara-negara Timur Tengah dan kawasan Teluk menyadari kerugian-kerugian moral yang didapatkan dari kesepakatan seperti Arab Spring.

Kita, dunia Islam terus mendapat “serangan” dari berbagai arah dan pihak. Embargo yang membuat perekonomian negara lumpuh, seperti yang menerpa Qatar dan Iran adalah contoh bahwa dibalik kesepakatan dan keuntungan yang diambil, ada korban negara lain yang tak lain saudara kita, satu keyakinan dengan kita. Negara-negara Arab dan Islam mesti mengkaji ulang setiap keputusan lewat keputusan yang matang, yang mengedepankan kedaulatan umat Islam, menjunjung tinggi nilai luhur dan teladan ajaran Islam. (*)

*Muhammad Husein Heikal, Analis Economic Action (EconAct) Indonesia; Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan; Digital Reporter Middle East and Islamic adi Alfatih Media. Menyelesaikan studi Ekonomi Pembangunan di Universitas Sumatera Utara (2019). Menulis untuk Investor Daily, Republika, Horison, Kompas, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Alinea.id, Detik.com, dan lainnya.

 

Latest Articles

Comments