Membangun Pribadi Muslim yang Tangguh

Oleh: NEVATUHELLA

Pemuda-pemuda Islam dimana pun berada harus mempunyai kepribadian yang tangguh. Sebabnya mereka kelak akan menggantikan generasi yang saat ini sedang memegang kekuasan. Kekuasaan dibidang apapun itu, baik bidang sosial kemasyarakatan, terlebih bidang keagamaan.
Ada beberapa hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadikan diri berkepribadian tangguh. Yang pertama adalah belajar mengenal diri sendiri dan mengenal Allah. Man arofa nafsahu, faqod arofa robbahu. Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.

Jalan mengenal Allah dengan memperhatikan berbagai ciptaannya. Apa yang diciptakannya semua sempurna. Manusia dari segumpal darah. Hal ini merujuk ke Al-Quran surah Al-Alaq, disamping begitu banyak surah-surah lain dalam yang menyatakan kesempurnaan ciptaannya.
Kemudian dalam surah Yasin juga dijelaskan tentang kesempurnaan ciptaan Allah. Bahwa planet-planet dan matahari serta bintang-bintang yang beredar, semua berada dalam lintasannya. Tak ada yang saling bertabrakan. (Yasin, ayat 38)

Mengenal Allah dasarnya adalah mentauhidkannya. Mengesakannya sebagaimana yang tersurat dalam syahadat Asyhadu alla ilahaillah waashadu anna muhammadarrasulllah. Tauhid ibarat akar tunggang dalam keimanan. Rasulullah Saw selama 13 tahun melakukan pengenalan tauhid kepada oarang-orang sekitarnya di Mekkah. Maka kita seberapa lama sudah melakukannya? Sudah mengikuti berbagai pengajian dan membaca kitab-kitab yang  berkaitan dengan ketauhidan? 

Hal yang kedua untuk membentuk keperibadian yang tangguh adalah mengenali potensi diri. Bahwa otak manusia berkecakapan menguasai 5 sampai 20 bahasa sekaligus. Albert Einstein sendiri masih menggunakan hanya 5 persen dari kemampuan otaknya. Contoh kekuatan otak ini yang ada disekitar kita adalah anak-anak bahkan, yang masih berusia dibawah sepuluh tahun bisa menghafal 30 juz Al-Quran.
Yang ketiga adalah mempunyai keimanan yang kokoh. Dari keimanan yang kokoh ini lahir keistiqomahan. Kemantapan hati. Tidak mudah goyah. Ya, itu tadi setelah dimilikinya ketauhidan yang kokoh pula. 

Orang-orang yang istiqomah mempunyai keberanian yang luar biasa untuk menyatakan kebenaran. Orang-orang yang istiqomah juga merasakan ketenangan selalu dalam batinnya. Walau menghadapi berbagi masalah, tidak mudah emosi, juga tidak mudah marah-marah.

Lidah orang-orang yang istiqomah selalu berzikir. Membaca Al-Quran di setiap kesempatan. Menjadwalkannnya dengan teratur ibadah hariannya. Sangat takut menyia-nyiakan waktu. Surga dinantikan oleh antara lain oleh para pemimpin yang adil dan anak- anak muda yang mencintai mesjid. Siapa lagi kalau bukan mereka yang istiqomah. Yang mau menggantungkan hatinya di mesjid-mesjid.

Kisah tentang anak muda sangat banyak dalam perjuangan Islam. Penakluk Konstantinopel di abad ke-8 sejak berdirinya Islam adalah seorang Muhammad Al-Fatih. Seorang turunan kesultanan Utsmani abad delapan hijrah. Al-Fatih masih berusia 19 tahun ketika menjadi panglima perang Islam menaklukkan Konstantinopel, atau yang sekarang beranma kota Istambul. Al-Fatih dikenal sebagai anak muda yang sejak kecil tak pernah meninggalkan salat wajibnya. Di usia remaja tak pernah pula meninggalkan salat tahajudnya.

Bukankah saat ini terlalu banyak orang-orang menghabiskan waktu di depan televisi. Bermain medsos. Bergunjing. Anak-anak muda dilengahkan oleh berbagai ilusi. Menghayal jauh-jauh. Menyaksikan film-film yang di produksi barat dengan berbagai kehebatan pikiran dan kreatifitas mereka. Malangnya, tanpa bimbingan kebenaran hakiki. 

Padahal dalam Islam sendiri, apa yang tak hebat telah ditunjukkan Allah Swt dalam sejarah kemanusiaan. Mengapa kita terheran-heran dengan kefantastikan barat? Kita punya sejarah kegemilanagan iman anak muda Al-Kahfi dengan teman-temannya yang tertidur bertahun-tahun di dalam Gua Hira. Mereka mempertahankan keimanannya. Allah Swt menidurkan dan membangunkan mereka tanpa cacat cela apapun selama berbilang tahun. 

Mukjizat yang diberikan kepada para nabi, jauh melampau fantastik orang-orang di luar Islam. Makanya dengan keimanan yang kokoh, apa yang diwariskan Islam bisa kita rasakan. Bahkan bisa mngeksplotasinya menjadi kenyataan dalam pribadi kita. Orang-orang yang istiqomah mempunyai rasa optimis akan kejayaan Islam. Mereka tidak lemah hanya karena ada orang yang belum apa-apa atau belum berjuang, sudah mengatakan: tak mungkin. Padahal Allah Swt membeli jiwa orang-orang yang berjuang dijalannya. Menegakkan kebenaran di jalan Allah Swt adalah perdagangan yang tidak pernah merugi. 

Untuk menjadi seorang pribadi yang tangguh, kita harus menanamkan dalam hati dan jiwa kita, bahwa kita adalah seoang yang luar biasa. Bukan luar biasa kekuatan fisik seperti para petinju, bukan pula luar biasa licik pandai bersilat lidah seperti para politikus. Kita luar biasa karena mempunyai tujuan hidup yang pasti. Hidup bukan illusi. Hidup sebuah realitas yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Dengan segala upaya untuk mencapai kemenangan aqidah dan keimanan yang kokoh.

Lewat amalam-amalan keseharian yang dikerjakan dengan ikhlas. Tanpa rasa rendah diri dan tidak pernah merasa berkecukupan dengan amal hal inilah yang dapat menjadikan kita sebagai orang yang luar biasa. Termasuk juga tidak takut miskin bila bersedekah.  Iman tanpa amal adalah cela. Bahkan menurut Yusuf Qardawi, bahwa sedikit yang diketahui dan diamalkan, lebih baik dari banyak hadist dihafal tapi tidak diamalkan. Bukankah di masa para sahabat bersama Rasullulah Saw, demikian adanya. Rasul mendapat wahyu satu persatu, berjeda-jeda. Maka para sahabat mengamalkan apa yang dikatakan atau yang diperintahkan.

Sama seperti para sahabat pengetahuan dan ketundukan itu haruslah diikuti dengan cita rasa hati yang membara, yang membangkitkan energi untuk mengamalkan berbagai konsekuensi aqidah, komitmen dengan prinsip-prinsip aqidah baik yang bersifat akhlak maupun perilaku, dan berjihad di jalan aqidah itu dengan mengorbankan harta dan nyawa. Islam telah diperjuangakan oleh Rasullullah Saw dan para sahabat, serta para ulama yang pemberani sesudahnya. Maka kini, siapapun umat Islam punya kewajiban memperjuangkan Islam tetap tegak kokoh berdiri. Mudah-mudahan para pemuda calon mujahid-mujahid Islam dapat lahir dimana-mana. Di seantero negeri yang kita cintai ini. 

*NEVATUHELLA, sastrawan kelahiran Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016), Bersampan ke Hulu (2018) dan satu buku puisinya Bila Khamsin Berhembus (2019).

Latest Articles

Comments